JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Ketika Kita Tak Diakui

Reporter:

Editor:

Arif Saeni

Kamis , 23 Agustus 2018 13:57
Ketika Kita Tak Diakui

Arifuddin Saeni

KITA tidak tahu pasti, sakitkah kita atau tidak ketika kita tak diakui oleh orang yang kita akui sebagai teman. Entahlah, tapi cerita Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, di acara ILC, 14/8, membuka tabir yang sesungguhnya betapa politik itu tak mengenal teman. Bagaimana Mahfud dipermainkan perasaannya, juga barangkali kehidupannya.

Tapi mungkin terlalu berlebihan apa yang dikatakan Rocky Gerung, bahwa di sana ada inmoral, walau itu diakui Mahfud, dia tak marah tak dicalonkan jadi pendamping Presiden kita, Bapak Joko Widodo. Tapi di ujung cerita itu, bagi Rocky, ada pengkhianatan.

Apa yang dikatakan Rocky mungkin terlalu berlebihan, bukankah politik itu tak mengenal belas kasihan. Ia bisa datang dengan bermuka manis, tapi dia bisa saja menikam dengan hati serigala. Ini juga barangkali yang dipahami Mahfud, bahwa politik bukan hanya soal siasat, tapi juga keteguhan hati untuk menerimanya.

Sambil mengutip salah satu teori filsafat, Casandra salah satu dewi dari Yunani, yang mampu melihat masa depan tapi dikutuk untuk tidak dipercayai hasil terawangnya. Rocky mengatakan, dalam teori itu, keterlukaan yang semakin menjadi-jadi yang menimpa seseorang, semakin menasbihkan dirinya bahwa dia tidak terluka.

Bagi Rocky Gerung di sana ada ketersinggungan moralitas publik yang sedang dipertontonkan. Tapi lagi-lagi Mahfud mengatakan, dia tidak kecewa dan tidak marah.

Dalam konteks ini, terjadi perseberangan dengan apa yang kita pahami. Bagaimana mungkin ada yang ditelikung diakhir pesta tapi dia tak kecewa dan juga tak marah. Opini publik bisa saja teraduk-aduk, bahwa pertikaian logika mengalahkan perasaan kita masing-masing.

Kita dipaksa untuk bisa memahami, bahwa di sana tak ada luka, juga dendam, bagaimana seorang Mahfud, menganggap bahwa di sebuah organisasi keagamaan besar, persoalan seperti ini kadang dianggap guyonan. Sama seperti kita dipaksa memahami, bahwa politik itu adalah garis lurus. Ah.

Tak elok memang kalau politik itu tak melahirkan cerita sensasi. Bahwa di situ ada intrik, ada tarik menarik kekuatan dan kepentingan sama seperti kita menyangkali bahwa sangat tidak mungkin kekuasaan Duryodana diserahkan begitu saja kepada Pandawa. (*)


div>