SABTU , 20 OKTOBER 2018

Ketua KPU Sulsel Hasil Musyawarah

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

asharabdullah

Kamis , 24 Mei 2018 11:36
Ketua KPU Sulsel Hasil Musyawarah

Kantor KPU Sulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel Periode 2018-2023 akan dilantik oleh Ketua KPU RI di Jakarta, hari ini, Kamis (24/5). Dari tujuh komisioner yang baru, hanya dua komisioner incumbent, sedangkan lima diantaranya merupakan anggota baru dari berbagai kalangan.

Masing-masing, Misna M Attas (petahana KPU Sulsel), Faisal Amir (petahana KPU Sulsel), Fatmawati (eks komisioner Bawaslu), Asram Jaya (Akademisi), Dr Upi Astati (Eks KPU Barru), Dr Syarifuddin Jurdi (akademisi), Uslimin (Wartawan).

Lantas berdasarkan pengalaman, bagaimana prosesi pemilihan Ketua KPU Sulsel Periode 2018-2023? Menjawab hal ini, Ketua KPU Sulsel, Iqbal Latif, mengatakan, prosesi pemilihan ketua KPU dari tahun ke tahun metode tetap sama, yakni melalui pembentukan rapat pleno oleh komisioner baru.

“Proses pemilihan ketua KPU sama seperti dulu. Melalui rapat pleno dipimpin salah satu komisioner yang dianggap tua atau berpengalaman,” kata Iqbal, saat dimintai tanggapan Rabu (23/5).

Lanjut dia, pimpinan sidang rapat pleno akan mengarahkan jalannya pleno hingga pemilihan atau penentuan secara mufakat. Siapa komisioner yang dinilai layak punya pengalaman, kompetensi serta kapasitas dan kapabilitas untuk ditunjuk sebagai pimpinan komisioner KPU yang baru.

“Jadi, yang pimpinan sidang arahkan siapa komisioner yang berpeluang menjadi ketua KPU Sulsel peiode 2018-2023,” pungkasnya.

Sementara, Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudin Makassar, Firdaus Muhammad, menilai, hampir semua komisioner berpeluang. “Semua memiliki peluang yang sama,” ujarnya.

Hanya saja, lanjut dia, jika dilihat dari pengalaman serta yang dituakan, maka ada tiga orang memiliki peluang untuk dipilih secara demokrasi, jika tidak mufakat.

“Kalau alasan pengalaman bisa Faisal atau Misna. Kalau akademisi bisa Pak Syarifuddin Jurdi,” pungkasnya.

Senada, Pakar Politik Unismuh Makassar, Andi Luhur Priatno, berpendapat, jika tujuh komisioner KPU yang baru merupakan kepemimpinan kolektif kolegial. Tipe pemimpin yang dibutuhkan adalah sosok solidarity maker, yang bisa diterima serta mampu membangun sinergi dengan para pihak. Secara simbolik, jabatan ketua menjadi personifikasi nilai profesionalisme dan integritas.

“Kalau dilihat formasi komisioner baru ini, sungguh sangat menjanjikan. Bisa memberi harapan untuk hadirnya penyelenggara yang profesional dan berintegritas,” sebut Luhur.

Akademisi ini menilai, tantangannya bagi komisioner, waktu tidak banyak, mereka harus siap langsung start bekerja. Selain itu, komisioner baru ini harus cepat beradaptasi dengan tahapan yang sementara berjalan.

Meskipun relatif tidak sulit, karena pengalaman dan aktivitas kepemiluan yang telah mereka kerjakan selama ini. Baik sebagai komisioner penyelenggara, akademisi, aktivis masyarakat sipil maupun sebagai jurnalis, yang juga bersentuhan dengan dunia elektoral.

“Tantangan lainnya adalah bagaimana mengatur divisi-divisi yang sesuai dengan kompetensi, tetapi tetap bisa bekerja sebagai sebuah tim yang kompak, solid dan kokoh. Sekarang mereka adalah sebuah tim, dengan kepemimpinan kolektif kolegial,” tuturnya.

Ia mengimbau kepada semua komisioner, mereka juga harus mampu menujukkan diri sebagai kekuatan demokrasi, tidak sekedar menjadi event organizer Pemilu. Mampu memberi pendalaman kualitas pada tugas-tugasnya. Tidak seremonial saja.

“Sebaiknya juga para komisioner ini tidak bertindak selebriti yang senang tampil di panggung media. Fokus saja pada tupoksi dan hindari membangun polemik yang tidak konstruktif, apalagi di panggung media,” pungkasnya. (*)


div>