MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Ketua PDIP Parepare Ungkap Kadernya “Hilang” Dua Hari

Reporter:

Editor:

Lukman

Jumat , 20 April 2018 19:52
Ketua PDIP Parepare Ungkap Kadernya “Hilang” Dua Hari

int

-Mustafa: Rapat di Posko TP Dihadiri 94 Orang, Bukan 500

MAKASSAR, RAKSUL.COM– Sidang lanjutan kasus dugaan politik uang berlangsung di Bawaslu Sulsel, Makassar, Jumat, 20 April 2018.

Kali ini dengan agenda mendengar keterangan saksi yang dihadirkan terlapor, calon wali kota Parepare nomor urut 1, Taufan Pawe (TP).

Beda dengan pelapor calon wali kota nomor urut 2, Faisal A Sapada (FAS) yang hanya menghadirkan tiga saksi, TP sampai menghadirkan 12 saksi.

Yang mengejutkan dari keterangan saksi-saksi adalah pengakuan Ketua DPC PDIP Parepare Mustafa Mappangara.

Mustafa yang menjadi saksi pertama memberikan keterangan mengejutkan bahwa salah satu kader atau anggota partainya bernama Asraf Resifa Jafar alias Resi sudah menghilang dua hari sebelum sidang di Bawaslu.

“Anak itu (Resi, red) sudah dua hari menghilang dibawa orang. Tidak tahu siapa,” ungkap Mustafa dalam persidangan.

Sayangnya, oleh tim kuasa hukum pelapor maupun majelis pemeriksa tidak menindaklanjuti ke mana hilangnya Resi atau siapa yang membawanya.

Padahal Resi adalah salah satu saksi kunci dalam kasus ini. Ironisnya, dalam sidang sehari sebelumnya, Kamis, 19 April 2018, Resi hadir menjadi saksi untuk pelapor FAS.

Resi adalah salah satu saksi yang menerima amplop berisi uang Rp50 ribu, yang tercatat sebagai anggota pengurus anak ranting Kelurahan Watang Soreang PAC PDIP Kecamatan Soreang dan juga anggota sayap partai. Itu berdasarkan SK pengurus PAC Kecamatan Soreang.

“Resi adalah anggota pengurus PDIP dan masuk sayap partai. Memang belum punya kartu anggota, karena mesin pencetak kartu anggota rusak,” beber Mustafa.

Ketua DPC PDIP lanjut Mustafa, punya kewenangan menunjuk atau membentuk kepengurusan partai yang ada di bawahnya. Termasuk nama Resi dimasukkan dalam kepengurusan anak ranting Kelurahan Watang Soreang dan sayap partai.

Disinggung soal agenda pertemuan rapat konsolidasi PDIP di posko pemenangan Taufan-Pangerang, Jumat malam, 6 April, menurut Mustafa, ada lima agenda.

Pertama konsolidasi partai, kedua pembentukan badan-badan partai, ketiga rekrutmen saksi, keempat rekrutmen pengurus anak ranting, dan kelima hal-hal yang dianggap perlu.

“Ini menindaklanjuti rapat pendahuluan sebelumnya di kantor DPC PDIP pada 3 April. Intinya, kita sudah didesak oleh DPD untuk segera menyempurnakan kepengurusan, karena Parepare termasuk yang terlambat,” papar Mustafa.

Hasilnya, diputuskan rapat lanjutan pada 6 April 2018 di posko pemenangan TP, dengan mengundang pengurus empat PAC, pengurus anak ranting, dan membawa calon anggota untuk penyempurnaan kepengurusan.

“Jadi yang hadir sesuai daftar hadir ada 79 pengurus anak ranting dan BSPN atau Badan Saksi Pemilu Nasional, ditambah 15 pengurus DPC. Jadi totalnya ada 94 orang yang hadir,” terang Mustafa.

Saat tim kuasa hukum FAS mempertanyakan bahwa yang hadir lebih dari 100 orang, Mustafa balik mempertanyakan. “Kata siapa lebih 100 orang. Ini daftar hadir hanya 94 orang bertanda tangan. Dan daftar hadir ini juga yang diserahkan ke Panwaslu dan Gakumdu,” ungkap Mustafa.

Berkaitan dengan itu, Taufan Pawe juga mempertanyakan apakah kapasitas ruang pertemuan di posko itu sampai 500 orang seperti laporan yang masuk. Dengan tegas Mustafa mengatakan tidak.

“Ada dua gedung di posko itu. Yang satu adalah gedung pemenangan dan satunya lagi adalah gedung yang disepakati oleh koalisi partai pengusung dan pendukung ditempati rapat secara bergantian,” jelas Mustafa.

Calon Wali Kota Taufan Pawe kata Mustafa memang sempat hadir, tapi itu bukan undangan resmi. Melainkan karena melintas di depan ruang pertemuan, sehingga dipanggil masuk oleh Mustafa untuk diperkenalkan kepada para pengurus PDIP.

“Pak TP ini kan calon wali kota yang diusung PDIP, belum tentu dikenal semua oleh pengurus, sehingga saya perkenalkan dia di depan para pengurus,” ujar Mustafa.

Mustafa mengakui Taufan sempat memberi sambutan, namun singkat hanya sekitar lima menit.

“Itupun tidak ada pesan kampanye, ajakan memilih atau semacamnya. Pak TP hanya menceritakan sejarah kenapa dia mau diusung PDIP. Ada pengacara perempuan dari PDIP yang pernah membantu Pak TP, yang membuat Pak TP terkesan. Kebetulan istri Pak TP waktu itu hamil besar, sehingga anak perempuannya yang lahir dinamakan Amartiwi sama nama pengacara itu,” tandas Mustafa. (rls)


div>