SELASA , 16 OKTOBER 2018

Ketulusan Beragama

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 09 Februari 2016 14:37
Ketulusan Beragama

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai kemanusiaan senantiasa hidup sepanjang sejarah. Perjuangan dan dinamika sosial senantiasa mengacu dan bersumber dari keduanya. Ada yang tidak setuju apabila nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai kemanusiaan disamakan, alasannya adalah bahwa agama diyakini sebagai kebenaran yang diwahyukan melalui para nabi pilihan Tuhan, sedangkan nilai-nilai kemanusiaan merupakan refleksi penalaran manusia.

Komaruddin Hidayat menulis, meskipun agama diyakini dari Tuhan, ketika wahyu ilahi masuk ranah sejarah kemanusiaan, berbagai perkembangan muncul sehingga seringkali menimbulkan perdebatan, perkelahian dan berbagai konflik sosial, bahkan perang.

Bila dilihat dari usia kedatangannya, maka Islam merupakan agama yang paling muda. Bandingkan dengan tradisi Yahudi, Kristen, Hindu, dan Taoisme yang sudah berusia di atas dua ribu tahun, bahkan ada yang lima ribu tahun, sedangkan Islam belum seribu lima ratus tahun. Semua agama mengajarkan perdamaian dan anti kekerasan. Namun dalam sejarah penyebaran dan perkembangan agama selalu saja disertai dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh umat beragama. Padahal esensi agama adalah menyuarakan hati nurani sesuai fitrah kemanusiaan kita yang paling suci, yang senantiasa mendambakan kedamaian, kebenaran, keindahan, dan cinta kasih dengan sesama.

Jika setiap tokoh dan institusi agama senantiasa menyebarkan kebenaran, kedamaian, dan cinta kasih, meskipun ada perbedaan pemahaman dan keyakinan atas doktrin ajaran yang dipeluknya, tidak akan mendorong munculnya tindakan kekerasan sosial yang dipicu oleh agama. Karenanya hingga saat ini dialog lintas agama dan budaya masih sangat dibutuhkan dan relevan. Ketika komunitas agama menjadi sumber konflik sosial, eksistensi agama akan kehilangan legitimasinya sebagai kekuatan moral dan penyebar pesan damai.

Masyarakat kita seringkali menggunakan simbol agama, ternyata sangat mudah terjatuh pada sikap brutal dan main hakim sendiri yang melecehkan nilai-nilai kemanusiaan. Berbagai konflik yang muncul misalnya konflik antar warga, konflik karena pemahaman agama yang berbeda. Kita pun lalu bertanya: sejauhmana pengaruh pemahaman dan keyakinan agama dalam prilaku dan pergaulan sosial? Jangan sampai etika beragama hanya bermula dan berakhir di rumah-rumah ibadah saja, ketika masuk dalam pergaulan sosial kemasyarakatan etika agama dan kemanusiaan terabaikan.

Kini dan akan datang, masyarakat tidak membutuhkan lagi keberagamaan polesan yakni orang beragama hanya menitik beratkan nilai pada segi-segi lahiriah. Orang yang menilai dan meletakkan kemuliaan hanya pada pelaksanaan secara harfiah terhadap teks-teks syariat. Misalnya orang yang rajin ke masjid atau tempat ibadah, tentunya senang dan cinta kedamaian karena masjid dan tempat ibadah adalah tempat orang-orang yang berhati damai dan senang pada ketentraman. Sulit untuk diterima, jika ada orang rajin ke masjid tapi tetangga, karib kerabat, teman sejawat dan lingkungan sekitarnya tidak tentram dengan ucapan dan tingkah lakunya.

Keberagamaan yang dibutuhkan adalah keberagamaan sejati, keberagamaan yang dilandasi ketulusan. Yakni orang yang senantiasa memelihara lahiriah agama tanpa mengabaikan hal-hal yang bersifat batiniah dan tujuan-tujuan dalam beragama. Karena keberagamaan yang tulus betapa pun kecilnya, akan mampu mengubah dunia. Sebaliknya keberagamaan yang tidak tulus betapa pun besarnya, tidak akan membawa dampak apa pun kecuali hanya menjauhkan orang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Kita memerlukan Islam yang tampil dengan wajah yang ramah. Keterikatan pada bentuk-bentuk lahiriah dengan mengabaikan inti dari ajaran Islam boleh jadi akan menghambat ajakan kita kepada orang-orang untuk kembali pada Islam. Tidakkah kita sering mendengar dan menemukan orang-orang yang berdakwah dan memanggil orang kepada Islam, namun dengan cara menyebar kecaman dan ejekan yang justru menjauhkan orang dari kecintaan terhadap ajaran agama.

Sekarang ini ada kecenderungan menilai orang dari pendapatnya, kalau dia sama pendapatnya dengan kita dipandang sebagai saudara, tapi kalau berbeda dengan pendapat kita bukan saudara. Padahal seharusnya menilai seseorang bukan dari pendapatnya melainkan dari amal dan perbuatannya. Dalam ajaran agama dikenal adanya philanthropy Islam yakni kepedulian terhadap sesama berdasar pada nilai-nilai kemanusiaan. Semakin banyak orang mengambil manfaat dari kebajikan yang kita lakukan, maka semakin tinggi nilai amal saleh itu.


Tag
div>