SABTU , 20 OKTOBER 2018

Ketum Golkar Harus Berduit

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 01 Februari 2016 12:01
Ketum Golkar Harus Berduit

int

PENULIS: HERMAN – SOPHIAN – SURYADI
EDITOR: LUKMAN

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kisruh Partai Golkar belum sepenuhnya tuntas. Kini, babak baru terdengar adalah kabar mengenai sikap Aburizal Bakrie dan Agung Laksono yang tidak akan bertarung kembali dalam Munas Luar Biasa Partai Golkar yang rencananya aka digelar April mendatang.

Lantas bagaimana kriteria Calon Ketua Umum Golkar yang akan maju di Munaslub?. Beberapa kalangan menilai jika selain figuritas yang harus bisa diterima oleh kedua kubu, Ketum Golkar nantinya juga harus memiliki finansial yang kuat alias berduit.

Beberapa nama mulai santer diperbincangkan untuk mengisi kursi panas yang bakal ditinggalkan ARB. Mereka diantaranya Agus Gumiwang Kartasamita, Idrus Marham, Zainudin Amali, Nurdin Halid, Aziz Syamsudin, Airlangga Hartarto, Priyo Budi Santoso, Agun Gunandjar Sudarsa, Mahyudin, Ade Komarudin, Syahrul Yasin Limpo dan Setya Novanto.

Ketua DPD I Golkar Sulawesi Tenggara, Ridwan Bae, mengungkapkan tentang kriteria yang harus dimiliki oleh Ketum Golkar nantinya. Dia menegaskan bahwa setidaknya ada dua kriteria yang harus dipenuhi kader Golkar agar bisa terpilih sebagai ketum. “Kefiguran dan ekonominya,” ujarnya.

Ridwan menjelaskan bahwa Ketum Partai Golkar harus mempunyai kedekatan dengan berbagai pihak, baik itu dengan senior Golkar atapun dengan pemerintah serta  DPD I dan DPD II di seluruh Indonesia.

“Memiliki kedekatan dengan pemerintah, tokoh partai, senior Golkar, serta kedekatan dengan ARB (Aburizal Bakrie?). Jadi, yang bisa diterima semua pihak,” kata dia.

Selain itu, Ridwan juga terang-terangan menyatakan bahwa Golkar ?membutuhkan pemimpin yang memiliki finansial bagus. Tak lain, dia mengisyaratkan bahwa Ketum Partai Golkar harus kaya.

[NEXT-RASUL]

“Supaya mampu menggerakkan organisasi partainya. Kalau tidak punya uang, lalu menggerakan partainya pakai apa?” jelasnya.

Sementara Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh (AAS), menilai bahwa untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar bukan semata-mata hanya karena memiliki banyak uang, melainkan harus memiliki pengalaman memimpin.

“Seorang Ketua Umum harus bisa memimpin partai, membeli kemampuan kepememimpinan partai, berpengalaman dalam memimpin partai, tidak memecah bela pihak partai, dan memimpin hak anggaran dasar partai,” jelasnya.

Gubernur Sulbar ini menjelaskan, kedepan seharusnya tidak boleh ada kubu-kubuan diantara elite politik Partai Golkar. Karena menurut dia hal itu bisa saja menjadi perpecahan seperti dampaknya pada Pilkada serentak Desember 2015 lalu.

“Ternyata perpecahan itu berdampak besar terhadap partai di even politik seperti pada pilkada serentak lalu. Nyaris Golkar tidak bisa berbuat banyak dibanding partai-partai baru yang malah berasal dari pecahan partai Golkar,” ujarnya.

Menurut Anwar, pengalaman di pilkada serentak lalu harus menjadi pelajaran oleh seluruh elite politik Partai Golkar jika ingin partai berlambang pohon beringin itu tetap ada.

“Nah, harusnya itu semua menjadi satu kembali. Karena itu hanya institusi satu-satunya yang saat ini masih dapat melakukan itu yakni Mahkamah Partai Gokar,” katanya.

[NEXT-RASUL]

Sedangkan MPG sendiri kata Anwar, sudah memutuskan membentuk tim transisi untuk menyatukan dua kubu antara ARB dan Agung Laksono. “Nah, karena itulah harus dilakukan Munas untuk menyelesaikan konflik di Partai Golkar,” ujarnya.

Menurut Anwar, pemerintah seharusnya mendukung dan memberi apresiasi kepada tim transisi yang akan menggelar Munas. Terutama memberikan penguatan atau legal standing terhadap penyelanggara Munas.

“Jadi kewenangan partai membentuk tim transisi lalu pemerintah juga harus memberikan peguatan,” ucapnya.

Dia menegaskan jangan sampai anggaran partai diobok-obok, atau mengubah tanpa satu aturan yang benar seperti yang dilakukan oleh kubu Aburizal Bakrie.

“Nah, itukan pangkal-pangkal perpecahan karena itu, menginjak-injak anggaran dasar rumah tangga,” tutupnya.

[NEXT-RASUL]

Golkar Pangkep Dorong SYL

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) telah menyatakan sikap secara resmi untuk mendukung Syahrul Yasin Limpo (SYL) maju dalam bursa calon Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Pernyataan sikap ini dibacakan langsung oleh Wakil Ketua I DPD II Partai Golkar Pangkep, Andi Ilham Zainuddin, di Kampung Sapanjang, Desa Kanaungan, Kecamatan Labakkang, Sabtu (30/1) lalu.

Namun, SYL menyatakan bahwa dirinya belum menyampaikan pernyataan sikap apapun. “Tetapi saya menghargai pernyataan itu. Barangkali teman-teman melihat ada kepentingan-kepentingan yang sangat urgent bagi Golkar sebagai partai besar yang sudah menjadi infrastruktur negara yang akan menjaga seluruh politik dan kebijakan pemerintah untuk berpihak pada rakyat,” ujarnya.

Menurutnya, siapa pun, infrastruktur apa pun, institusi besar apa pun punya kepentingan kepentingan besar di Golkar. Dikatakannya, Golkar menentukan presiden dan wakil presiden dan DPR.

“Saya hanya punya idealisme, kerja, dan pengalaman. Saya tidak suka dengan cara-cara yang tidak masuk akal. Saya lima kali pilkada, ada tidak cara-cara yang tidak benar? Kalau orang pilih itu saya siap, kalau pilih yang lain, tidak,” jelas SYL.

“Saya coba pertimbangkan hari ini. Ini kan baru satu kabupaten. Tapi hati-hati, kalau Syahrul maju, tidak ada kata mundur. Saya lima kali bertanding pemilu tidak pernah kalah. Kita tunggu dulu semua. Kalau bilang maju, itumi, tidak bisa mundur,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah puluhan kader Golkar Pangkep.

Menurut SYL, seseorang berpartai, berorganisasi, dan berpemerintahan ujungnya adalah hadirnya kehidupan rakyat yang semakin baik dan memiliki moralitas tinggi.

[NEXT-RASUL]

“Partai itu infrastuktur negara dan pemerintah adalah suprastruktur negara. Partai adalah pengawal kebijakan pemerintahan. Di situ pentingnya partai,” tuturnya.

Golkar, kata SYL, merupakan partai pemenang nomor satu di Indonesia. “Cuma manajemen kemarin yang bersoal,” katanya.

Menurutnya, Golkar harus dipimpin dengan orang yang tahu kebutuhan daerah, yakni Golkar seperti apa yang harus dienergi dari daerah. “Bukan hanya yang ngerti di Jakarta. Golkar besar karena basisnya ada di daerah seluruh kabupaten/kota sampai di desa,” tuturnya.

SYL mengaku sangat terkejut dan terharu saat mendengar pernyataan sikap tersebut. “Saya suprise banget. Hari ini (Sabtu, red), makan-makan, tiba-tiba ada sedikit formalitas dan mereka (Golkar Pangkep, red) membacakan sebuah pernyataan sikap  untuk mendorong saya menjadi salah satu calon ketua umum DPP Gokar,” tuturnya.

Ia pun merasa bahagia dan bangga dengan kader-kader Golkar yang masih memberikan kepercayaan untuk bisa memimpin Golkar yang tidak hanya di provinsi,  melinkan Golkar secara nasional.

Sementara Ketua DPD II Golkar Pangkep Syamsuddin A Hamid mengatakan, dari awal, pihaknya mempunyai sikap bahwa Golkar Pangkep mendorong SYL untuk menyatukan Golkar.

“Kita mendukung penuh. Makanya, kita undang beliau (SYL), kebetulan ada di Pangkep. Kita nyatakan secara resmi bahwa Golkar Pangkep mendorong dan mendukung Pak Syahrul ikut menjadi ketua DPP Golkar,” tuturnya.

[NEXT-RASUL]

Wakil Sekertaris Golkar Sulsel, Choist Bachtiar mengaku sejauh ini SYL dinilai punya kekuatan yang cukup besar untuk maju dalam pencaloanan Ketua Umum DPP Golkar.

Menurutnya, seluruh elemen partai di Sulsel dan Kawasan Timur Indonesia siap bekerja untuk memenangkan SYL di Munaslub. Hanya saja, hal tersebut mesti ada sikap tegas SYL untuk mencalonkan diri. ” Pak SYL punya modal suara besar di Sulsel dan KTI, kita akan bekerja jika sudah ada penegasan dari beliau,” ujarnya, Minggu (31/1).

Selain itu, menurut Plt Ketua DPD II Golkar Jeneponto ini, popularitas SYL untuk bisa memimpin Golkar cukup besar terjadi. Pasalnya, SYL selama ini sudah memenuhi sejumlah syarat untuk membesarkan Golkar di masa mendatang.

Selain tidak memiliki resistensi terhadap dua kubu yang selama ini berseteru, SYL dinilai memiliki kedekatan yang cukup baik dengan pemerintah pusat selaku Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia, serta memiliki hubungan dan komunikasi yang baik dengan DPD I dan DPD II di Seluruh Indonesia, “Kedekatan Pak SYL dengan pemerintah cukup baik, sehingga dalam memperjuangkan kebutuhan daerah, SYL paling tepat untuk menjembatani komunikasi,” terangnya.

Selain itu menurut Choist, kekaderan SYL di Golkar tidak bisa diragukan. Sejauh ini SYL merupakan kader Golkar yang memulai jenjang politiknya di tingkat bawah. Selain itu SYL juga dinilai paling matang dari segi pengalaman birokrasi. “Karena sejak awal hingga menjadi Gubernur, Pak SYL mulai dari tingkat bawah,” kata dia.

Meski demikian, Choist mengaku bahwa untuk menjadi ketua umum, banyak aspek yang menjadi perhatian, salah satunya ketersediaan finansial dalam membangun partai.

Namun hal itu dinilai tidak menjadi indikator utama seseorang dalam memimpin partai. “Faktor finansial memang berpengaruh, tetapi tidak menjadi indikator utama. Pak SYL punya kapasitas untuk mengayomi seluruh kader dan jajaran partai dan meningkatkan semangat kekaryaan Golkar,” tegasnya.


div>