RABU , 12 DESEMBER 2018

Kisah Haru Para Atlet Berprestasi Asal Sulsel, Dipercaya Membawa Obor Api Abadi

Reporter:

get_the_user_login

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 28 Juli 2018 14:00
Kisah Haru Para Atlet Berprestasi Asal Sulsel, Dipercaya Membawa Obor Api Abadi

Ilustrasi obor Sea Games. (int)

Senang, haru, gembira, sedih, bangga, campur aduk dalam hati. Rasa itu memang tak bisa digambarkan, dan hanya bisa terpancar di raut wajah para juara saat memenangkan sebuah ajang kompetisi yang disaksikan oleh jutaan orang. Apalagi melibatkan seluruh negara di dunia.

Setidaknya hal itu yang dapat dirasakan para atlet, saat mendengar lagu ‘Indonesia Raya’ berkumandang memenuhi seluruh sudut arena pertandingan, kala dirinya meraih medali emas. Sebut saja Malik Faisal, Kusuma Wardani, Suherman, Arif Taufan S, Hendro Salim, Faisal Zainuddin, Ruswan, Muhammad Haerullah, dan Isnawati Sir Idar.

Sembilan nama atlet di atas telah berhasil mengharumkan nama Sulawesi Selatan di ajang Nasional. Seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga ajang Internasional, antara lain Olympic Games, Asian Games dan Sea Games. Dan mereka juga diamanahkan membawa (kirab) obor Asian Games di Sulsel.

Nasib mereka saat ini bisa dibilang hampir sama. Dari banyaknya atlet yang berprestasi, sembilan nama tadi ditarik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel menjadi Pegawai Negeri Sipil. Dua diantaranya telah ada di posisi jabatan Eselon II. Sebut saja Malik Faisal sebagai Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, serta Suherman sebagai Kepala Biro Kesra.

Flashback puluhan tahun silam kala masih berstatus atlet, mata Malik Faisal masih berbinar mengenang saat-saat membanggakan tersebut. Berbincang sejenak di warung kopi, Malik yang merupakan satu-satunya atlet asal Sulsel tembus ke Olympic Games dari cabang olahraga Selancar Angin. Iapun mengaku bangga jadi bagian dari pembawa obor Asian Games tahun ini.

Siapa yang menyangka jika Abdul Malik Faisal dulunya adalah seorang anak SMP yang sering bolos saat sekolah. Dia anak yang begitu tidak menginginkan waktunya habis di bangku sekolah. Dia bereksplorasi melawan arus keinginan keluarga, dengan memilih bermain di bibir pantai.

Malik menceritakan, karena rumah dan sekolahnya dekat dengan pantai, maka ia memilih lari ke pantai. Di sana bakatnya muncul, kala ia tertarik ikut latihan dengan para atlet selancar yang usianya berada di atasnya.

“Tiga sampai empat bulan saya rutin ikut latihan, kemudian saya dipanggil ikut Pekan Olahraga Nasional (PON), dan alhamdulillah berhasil mendapatkan medali emas pertama di cabang olahraga Selancar Angin,” kata Malik, dengan nada semangat.

Ia menceritakan, sejak saat itu rutinitas kesehariannya dihabiskan dengan latihan. “Sekolah juga bangga, apalagi keluarga, dan mereka mendukung, Alhamdulillah jalan terus,” ujarnya.

Dirinya pun akhirnya diperhitungkan untuk ikut kancah internasional. Seperti empat kali ikut Asian Games, terhitung sejak 1986 di Seoul. Dirinya berhasil mendapat medali perunggu, kemudian Asian Games tahun 1990 Beijing, 1994 di Hiroshima, dan 1998 di Bangkok.

“Dari situ akhirnya saya dipilih untuk ikut seleksi maju di cabor Selancar Angin pada perhelatan akbar dunia, Olympic Games 1988 di Seoul, Korea Selatan,” tuturnya.

Sedikit menceritakan Olympic Games, kata Malik, hanya tiga atlet saja yang lolos saat itu untuk mengharumkan nama Indonesia.

“Prestasi saya saat ini, tujuh kali Sea Games, semua dapat medali. Dua emas, lima perak, lima kali PON mewakili Sulsel, berhasil dapat tujuh emas,” paparnya.

Ia juga menceritakan mengenai cabang olahraga selancar angin. Menurutnya, tidak hanya sekedar menentukan arah angin, tapi juga menjaga kesabaran, keseimbangan, keuletan tubuh, serta seni yang dihasilkan. Itu semua mampu membuat nilai plus di mata juri.

Pada atlet panahan, siapa yang tak kenal Kusuma Wardani, setelah film Tiga Srikandi sukses digelar di seluruh bioskop Indonesia, nama Kusuma Wardani kemudian menjadi sangat populer di Sulsel, terkhusus di Makassar. Dan saat ini, Kusuma Wardani aktif sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemprov Sulsel.

Hal yang sama dirasakan oleh Kepala Biro Kesra, Suherman. Atlet cabang olahraga panahan ini mengaku telah menggeluti panahan sejak SD.

“Tentunya kalau untuk kejuaraan panahan, saya mulai porda tingkat SD, SMP, dan ikut kejurnas. Saya ikut PON, tiga medali emas. Saya ikut Sea Games di Malaysia. Tahun 1990 saya ikut Asian Games di Beijing, Cina. Tentunya peningkatan prestasi itu, saya latihan dan dididik sejak SD,” urainya.

Olahraga panahan, kata dia, sangat menginspirasi. Dan dirinya yakin bahwa panahan itu sangat sehat, lantaran juga merupakan olahraga yang digeluti oleh Nabi Muhammad kala itu.
Berbeda dengan Malik, Suherman mengaku memilih cabang olahraga panahan berawal dari melihat aktifitas para atlet panah di lapangan.

“Dulu saya lari di lapangan, melihat sekelompok orang yang lagi bermain panah, dan saya perhatikan, saya mencoba dan saya mencintai cabang olahraga itu. Saya suka,” ujarnya.

Sejak saat itu, dirinya makin aktif dan sangat tertantang untuk ikut di ajang nasional dan internasional.

“Panahan itu selain sebagai olahraga, juga merupakan paduan antar seni, teknik budaya dan Sunnah Rasulullah,” paparnya.

Pada pawai Torch Relay ASEAN Games di Kota Makassar yang berlangsung Minggu, 29 Juli 2018, mereka para atlet berprestasi ini dipercayakan untuk membawa obor api abadi tersebut, setelah obor itu berhasil mengelilingi beberapa kabupaten di Sulsel.

Nantinya, para atlet akan membawa obor tersebut diawali dari Abdul Malik Faisal (atlet Selancar Angin) melewati Jalan Haji Bau menuju Anjungan Pantai Losari. Selanjutnya, akan diserahkan ke Wali Kota Makassar.

Nantinya, obor itu akan melewati laut menggunakan kapal perang latih legendaris KRI Dewaruci, yang akan sailing pass dan sandar di Dermaga Layang Mako Lantamal VI. Diiringi oleh empat unsur kapal perang, sea rider dan dimeriahkan dengan perahu hias tradisional, phinisi, Dara Daeng Makassar, jetsky, flyboard serta disambut tarian tradisional Makassar, drumband, kirab dari Lantamal sampai Losari. (*)


div>