SELASA , 21 AGUSTUS 2018

Kisah Jamaah Haji yang Selamat, Istri Menangis Melihat Banyak Mayat

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Sabtu , 26 September 2015 14:22
Kisah Jamaah Haji yang Selamat, Istri Menangis Melihat Banyak Mayat

int

RAKYATSULSEL.COM – Perubahan rencana pagi itu sebenarnya agak mengagetkan Muhammad Juhdi Ibrahim. Selepas sarapan, tiba-tiba ketua rombongan mengajak saat itu juga melempar jumrah. Padahal, rencana awalnya pada sore, sekitar pukul 17.00 waktu setempat.

“Saya tidak tahu alasannya kenapa. Tapi, ya akhirnya saya ikut berangkat,” ujar pria 60 tahun tersebut.

Kamis itu (24/9) jamaah harus menjalani prosesi melempar jumrah. Tapi, karena jumlah jamaah pada musim haji ini mencapai dua juta orang, akses menuju Jamarat (tempat melempar jumrah) tiap hari selalu saja sangat padat.

Apalagi saat pagi. Banyak yang memilih berangkat pagi untuk mengejar waktu yang afdal untuk melempar jumrah, yakni bakda salat Duhur. Tapi, jamaah Indonesia sebenarnya sudah dianjurkan untuk melakukannya pada sore untuk menghindari kepadatan.

Kepadatan itu pula yang akhirnya ditemui Juhdi; istrinya, Sri Hayati, 50; dan rombongan kloter 14 Batam. Berangkat dari tenda pemondokan di Maktab 1 Mina Jadid, mereka melewati Jalan Arab 204 yang tidak biasa dilalui jamaah Indonesia.

“Saya tidak tahu kenapa kami lewat jalan itu. Ketua rombongan yang sudah 13 kali naik haji mengarahkan ke situ,” tutur jamaah asal Pontianak, Kalimantan Barat, tersebut.

Nafas Juhdi masih terengah-engah ketika mengisahkan pengalamannya itu kepada Jawa Pos kemarin (25/9). Sesekali dia menekan dadanya, menahan sakit jantungnya. Di tengah wawancara, dia bahkan sempat minta waktu ke klinik.

[NEXT-RASUL]

Sakit itu dia rasakan dalam perjalanan menuju Jamarat sehari sebelumnya. Tepatnya ketika sekelompok jamaah yang dari tampilan fisiknya tampaknya berasal dari Afrika tiba-tiba berbalik arah. Otomatis mereka berlawanan arus dengan jamaah yang akan menuju jamarat.

Padahal, ketika itu, Jalan Arab 204 sudah penuh sesak. Jangankan berlawanan arah, arus yang menuju Jamarat pun sudah tidak bisa bergerak. Juhdi mengingat, rombongannya sampai tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Hantaman arus balik itu pun langsung membuat jamaah saling dorong dan berdesak-desakan di lokasi sebelum Jembatan King Kholid. Saat berdesakan itulah Juhdi merasakan jantungnya sakit. “Terutama ketika dipaksa berjalan,” katanya.

Dalam kondisi menahan sakit, spontan dia berusaha menarik istrinya ke pinggir jalan. Meski demikian, kuatnya desakan dari jamaah lain membuat Juhdi dan Sri terpisah selama beberapa saat.

“Kemudian, saat saya lihat lagi istri saya, langsung saya tarik lagi ke pinggir melewati tubuh jamaah lain yang tubuhnya lebih besar,” lanjutnya. (Baca juga: Panjat Pagar yang Ada setrumnya, Jamaah Kloter 10 Makassar Ini Selamat)

Untung, Juhdi dan istrinya akhirnya bisa ke pinggir jalan untuk menghindari desakan jamaah lain. Tak berapa lama, dia melihat tubuh-tubuh jamaah bergelimpangan di jalanan.

Petugas pun langsung datang ke lokasi dan menggotong para korban yang kebanyakan sudah tak bernyawa itu ke pinggir jalan. Tepat di dekat kaki dia dan istrinya.

[NEXT-RASUL]

 “Saya lihat banyak sekali korban yang digotong. Kebanyakan jamaah dari Afrika. Saking banyaknya jenazah, istri saya sampai menangis,”ungkap Juhdi.

Pertolongan datang saat empat mukimin atau warga negara Indonesia yang bermukim di Arab Saudi menolong Juhdi dan istrinya. Keduanya lantas dibawa ke sebuah toko milik warga setempat.

Juhdi bahkan digendong salah seorang mukimin karena sudah tidak sanggup berjalan. Selanjutnya, dia dijemput tim kesehatan Saudi. “Setelah ditangani paramedis, saya diantar ke kantor Daker (Daerah Kerja) Makkah,” katanya.

Juhdi dan istrinya selamat. Tapi, tragedi yang berlangsung di depan mata pasangan suami istri itu merenggut demikian banyak nyawa. Persisnya 719 jamaah, tiga di antaranya dari Indonesia. 


div>