SENIN , 23 JULI 2018

Kisah Panrita Lopi, Kapal Pinisi Asli Sudah Punah?

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Kamis , 28 Januari 2016 00:04
Kisah Panrita Lopi, Kapal Pinisi Asli Sudah Punah?

Syahril Daeng Mille memperlihatkan kapal pinisi mini buatannya yang belum rampung. (foto:SidicManggala)

RAKYATSULSEL.COM – Sayang seribu sayang, nasib kapal pinisi, warisan bahari nenek moyang pelaut dari ujung selatan Pulau Sulawesi, ternyata tinggal menyisakan nama dan cerita.

Deburan ombak di pesisir Bumi Panrita Lopi — julukan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan — mengiringi senyum kecut Syahril Daeng Mille, Minggu sore, 24 Januari 2016. Dari teras rumahnya di Desa Sapolohe, Kecamatan Bontobahari, pria 52 tahun ini mengenang kejayaan pinisi, kapal kayu penakluk dunia buatan pria-pria tangguh Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba.

“Pinisi yang betul-betul asli sudah tidak ada sekarang,” ucap Daeng Mille sebelum mengalihkan sejenak pandangan ke pantai.

Daeng Mille adalah seorang panrita, sebutan bagi pria Bulukumba yang ahli membuat kapal kayu. Namun, ia tak hanya ahli membuat kapal kayu biasa, ia juga ahli membuat pinisi. Keahlian itu ia pelajari dari ayahnya, Muh Atang yang kini berusia 70-an.

Pada 1970, ketika berumur 7 tahun, Daeng Mille dibawa ayahnya meninggalkan Desa Ara menuju Lampung Utara. Mereka ke sana untuk membuat pinisi. Sejak itulah Daeng Mille kecil tertarik menekuni kapal pinisi, dan semakin serius mempelajarinya ketika pulang ke Desa Ara. Ia pun mulai mandiri mengerjakan kapal pada 1987.

Keistimewaan pinisi adalah seluruh badannya terbuat dari kayu, dan mengandalkan tenaga di lautan lepas dari tujuh layar, tanpa mesin. “Penguncinya juga dari kayu, tidak pakai paku besi. Kayu yang dipakai kata orang di sini kayu na’nasa atau kayu bitti’. Orang Jawa bilang kayu laban,” papar suami Ramliah ini.

Sepanjang kariernya, Daeng Mille sudah menuntaskan empat pinisi, beberapa kapal fiber, dan tak terhitung jumlahnya untuk jenis kapal kayu lain yang ia buat, baik kapal ukuran kecil maupun besar.

[NEXT-RASUL]

“Saya selang seling kerjanya. Maksudnya kalau ada pesanan, kita kerja, kalau tidak ada (pesanan), kita cari kerjaan lain. Kalau tidak ada kerjaan sama sekali, ya turun ke laut (mencari ikan),” sambung pria yang hanya mengeyam pendidikan formal hingga bangku SMP.

Daeng Mille amat prihatin dan menyayangkan nasib pinisi saat ini. “Pinisi sudah tinggal nama saja, tinggal cerita kalau dulu pinisi ada,” ujarnya. Meski aktivitas pembuatan kapal kayu di sepanjang pesisir Kecamatan Bontobahari masih ramai, namun kapal-kapal yang dibuat itu adalah kapal nelayan atau kapal-kapal kecil, bukan pinisi.

Keresahan Daeng Mille berasalan, sebab jika saat ini ada 100 orang panrita di Bulukumba, sisa dua atau tiga orang saja yang mengerti membuat pinisi secara detail, itupun hanya para lelaki dari Desa Ara. Sedangkan di tempat lain seperti Bira, Tana Beru, Tana Lemo, Sapolohe, atau daerah di luar Bulukumba seperti daerah Bugis, hanya jadi tempat pembuatan kapalnya saja.

“Di sana cuma tempat membuat, tapi yang buat kapalnya orang Ara asli. Kalau ada yang bilang pembuat kapal pinisi itu dari suku bugis, itu karena orang luar seperti orang Jawa hanya mengenal orang Bulukumba sebagai orang suku Makassar dan suku Bugis, padahal yang buat kapalnya adalah orang dari Desa Ara,” jelas Daeng Mille.

Daeng Mille juga menampik berita yang beredar bahwa pinisi pernah dibuat di Amerika Serikat dengan mengundang almarhum H Muslim Baso ke sana. Menurut Daeng Mille, mendiang H Muslim Baso posisinya selama ini adalah sebagai penerima proyek pembuatan pinisi dan kapal kayu, bukan pembuat kapal.

“Setahu saya tidak pernah pinisi dibuat di Amerika, mungkin hasil pembuatan dari sini yang dibawa ke sana.” “Saya juga pernah dengar kabar kalau ada kapal pinisi ukuran besar dibuat di Australia, berkat kerja sama tiga negara: Indonesia, Jepang, Australia, tapi sepertinya proyek itu batal. Dan, kalaupun jadi dikerja di Australia, tidak ada orang ahli pembuat kapal dari sini yang dipanggil ke sana.”

Di ingatan Daeng Mile, pinisi asli terakhir yang mengembangkan layar di lautan Indonesia bernama Pinisi Nusantara. Pinisi Nusantara dahulu sempat berlayar ke Vancouver, Kanada, pada 1986. Pinisi Nusantara dibuat pada 1984 dengan bobot 150 ton. Kabar terakhir Pinisi Nusantara ada di Jakarta tahun 1989. “Sekarang saya kurang tahu, mungkin pinisinya sudah hancur,” tutur anak sulung dari enam bersaudara.

Pengakuan Daeng Mile tentang pinisi dibenarkan oleh H Suting Daeng Lewa, sahabat sekaligus tetangganya di Desa Ara. “Iya, benar, sudah tidak ada pinisi asli sekarang. Ada juga pinisi, tapi cuma sepotong, bagian atasnya, selebihnya modifikasi,” terang Daeng Lewa.

[NEXT-RASUL]

Daeng Lewa juga seorang panrita pinisi. Ia pernah ikut membuat Pinisi Amanagappa yang berlayar ke Madagaskar, Afrika. “Itu hari Pinisi Amanagappa kita buat atas pesanan orang asing, saya tidak ingat namanya,” tutur Daeng Lewa di lokasi pembuatan kapalnya di Desa Bira.

Sejak 1990, setahun setelah menikahi Hj Nurwahidah, Daeng Lewa berprofesi sebagai mandor pembuatan kapal. Mempekerjakan belasan karyawan dan terus produktif membuat kapal kayu kargo sampai sekarang.

Awal Daeng Lewa membuat pinisi pada 1978, di Pantai Marumasa, masih termasuk wilayah Kecamatan Bontobahari. Seperti Daeng Mille, ketika itu Daeng Lewa belajar membuat pinisi dari mendiang ayahnya, Daeng Baji. Keahlian membuat pinisi itu adalah turunan dari kakeknya bernama Daeng Soba. Hanya saja, keahlian membuat pinisi sepertinya akan mentok di Daeng Lewa saja, karena tiga orang anaknya sekarang tidak ada yang tertarik untuk belajar dan meneruskan warisan berharga itu. “Mereka lebih pilih kuliah. Jadi, mungkin akan hilang betul ini keahlian membuat pinisi nanti,” katanya.

Meski tergolong sebagai panrita pinisi, Daeng Lewa ternyata tidak pernah merasakan sensasi berlayar di atas kapal tujuh layar ini. “Saya tidak pernah naik, saya cuma tahu bikin pinisi, tidak pernah berlayar pakai pinisi,” ucap pria keliharan Desa Ara, 1964 silam.

Terakhir Daeng Lewa membuat pinisi modifikasi di Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, pada 2007. Kapal yang dibuat saat itu cukup besar, sepanjang 27 meter. “Tapi, (kapal) itu milik orang Swiss. Orang dari Swiss yang minta dibuatkan kapal,” “Pernah juga kita buat kapal lambo pesanan orang Australia, tapi sudah rusak,” ungkit Daeng Lewa. Bentuk kapal lambo mirip pinisi, hanya saja ukuran lambo lebih kecil dan hanya punya dua layar. Seperti pinisi, pembuat kapal lambo asli adalah pria-pria tangguh dari Desa Ara juga.

Daeng Lewa mengakui jika ketertarikan orang luar negeri pada pinisi dan kapal kayu kebanggan nenek moyang pelaut Sulawesi lainnya jauh lebih besar ketimbang pemiliknya sendiri. “Bisa juga ini sebab kenapa pinisi yang asli sudah tidak ada, selain karena orang-orang lebih tertarik memesan kapal kayu bermesin,” urai Daeng Lewa.

“Saya pengen sekali ada yang peduli dengan pinisi, jangan sampai hilang begitu saja, jangan sampai hanya bilang Bulukumba bumi panrita pinisi atau panrita lopi, tapi sebenarnya sudah ini… sudah tidak ada,” Daeng Mille mengunci sebelum gelap memudarkan pasir putih Pantai Bira. (Sumber: Assiddiq A Manggala – www.sidicmanggala.blogspot.co.id)


div>