RABU , 14 NOVEMBER 2018

Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Part 5, Pengajian Kitab di Masjid Nabi

Reporter:

Editor:

Ridwan Lallo

Minggu , 18 Maret 2018 16:43
Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Part 5, Pengajian Kitab di Masjid Nabi

int

PADA hari berikutnya di Masjid Nabawi, 16 Maret, Mujahid yang setia menemani saya, menyarangkan agar saya mengikuti halaqah Ust. Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., MA. (lahir di Surabaya, 28 Oktober 1979). Ia seorang dai dari Indonesia yang menjadi penceramah tetap di Masjid Nabawi, Madinah.

Dia salah satu staf pengajar di Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i Jember. Di samping itu dia juga menjadi narasumber di Radio Rodja dan aktif mengisi beberapa pengajian dan tablig akbar di Indonesia.

September 2016, ia menyelesaikan program doktoralnya dengan judul disertasi نقض استدلالات دعاة التعددية الدينية بالنصوص الشرعية (Membantah dai-dai pluralisme yang berdalil dengan al-Quran dan al-Sunah) dengan predikat summa cumlaude.

Firanda aktif di berbagai kegiatan dakwah di Arab Saudi, di antaranya dia dipercaya menjadi pengisi pengajian rutin berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah. Tidak semua orang diizinkan pemerintah setempat untuk menjadi pengisi kajian di sana.

Malam itu ia membawakan halaqah usul fikih. Saya memperhatikan, jamaah yang mengikuti halaqanya  berasal  dari jamaah umrah dari berbagai daerah di Indonesia. Ia memang menguasai usul fikih sehingga dengan mudah menjawab setiap pertanyaan dari jamaah pada sesi tanya jawab. Saya pun mengajukan pertanyaan, sekedar ingin berkenalan nanti setelah selesai halaqah. Ternyata ayahnya berasal dari Sengkang, walau menurut pengakuannya, ia tidak bisa berbahasa Bugis. Saya pikir, karena ia lahir dan dibesarkan di luar Sulawesi Selatan.

Halaqah ini menarik sebab didahului dengan peringatan tentang larangan mengafirkan seseorang yang sudah bersahadat. Ia kemudian mengutip peristiwa di awal sejarah Islam bahwa seorang musyrik tertangkap dalam peperangan. Orang itu langsung bersyahadat, tetapi sahabat Nabi, Umar bin Said, tidak percaya kesungguhan syahadatnya.

Ia pun langsung membunuhnya dengan asumsi bahwa sahadat yang diucapkannya sebagai kamulfalase karena takut dibunuh. Berita itu sampai kepada Nabi, kemudian Nabi menegurnya dengan mengatakan,
فهل شققت عن بطنه فعلمت ما فى بطنه؟
Apakah engkau telah membedah perutnya, sehingga kamu mengetahui apa di dalam perutnya?

Pelajaran yang bisa diambil:
1. Ust. Firanda Andirja Abidin,  dikenal seorang dai Salafi. Tetapi berbeda dengan dai Salafi lainnya yang gampang menuduh orang lain yang tidak sepaham dengannya sebagai bidah, musyrik, dan kafir. Justru beliau melarang mengafirkan orang yang sudah bersyahadat. Semoga para dai Salafi Indonesia bisa belajar pada Ust. Firanda Andirja Abidin.

2. Firanda Andirja dipercaya sebagai pengajar di Masjid Madinah al-Munwawwarah. Tidak mudah mendapat kepercayaan seperti itu, apalagi disampaikan khusus dalam bahasa Indonesia. Hal itu berarti, Ust. Firanda telah ikut memperkokoh bahasa Indonesia lewat halaqah. Bahasa Indonesia sekarang memiliki pengaruh kuat ke dalam masyarakat Saudi. Jika jalan di depan toko, para pelayannya justru lebih suka menawarkan barangnya dalam bahasa Indonesia. Para pelayan di hotel yang umumnya berasal dari Banglades lebih suka berbahasa Indonesia daripada bahasa Arab. Tentang pengaruh bahasa Indonesia, sebaiknya jadi bahasan tersendiri.

Oleh : Prof Dr Ahmad M Sewang
(Madinah al-Munwawwarah, 18 Maret 2018)


Tag
  • ujas tour
  •  
    div>