JUMAT , 25 MEI 2018

Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Part II

Reporter:

by Ahmad M. Sewang

Editor:

irsad ibrahim

Kamis , 15 Maret 2018 13:30
Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Part II

Salam Ujas Tour didepan pintu keluar dari Raodah oleh jamaah Ujas Tour

Hari kedua di Madinah jamaah Ujas Tour, salat subuh pertama di Masjid Nabawi. Saya sendiri datang jam 04.00 atau satu jam sebelum waktu subuh. Jamaah sudah penuh sesak, terutama di dekat Raudah, antara mimbar dan makam Nabi. Berdasarkan hadis riwayat Bukhari, “Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku di atas telagaku.” Sedang rumah Nabi menjadi tempat pemakamannya. Tidak heran, jika tempat ini selalu jadi tempat favorit bagi jamaah.

Saya tidak tahu, mungkin seharusnya datang di masjid lebih cepat lagi agar bisa menempati tempat lebih dekat pada tempat yang dikatakan Nabi sebagai taman sorga. ternyata jamaah sudah ramai dan saya hanya bisa mengambil posisi kira-kira 50 meter dari tempat mulia itu. Di sana saya berdoa dengan sepenuh hati, sembari bersyukur atas karunia-Nya masih mendapat kesempatan berziarah ke makam Rasullah saw. Faktor lain yang bisa jadi penyebab membludaknya jamaah, yaitu pada setiap pertengahan Maret dianggap waktu tepat untuk Umrah karena cuacanya bersahabat, yaitu sekitar 30 derajat celsius.


Suasana meeting bersama owner, para agent, mutawif, petugas, yang dipimpin langsung oleh ust. Ujas dengan agenda evaluasi perjalanan umrah selama dua hari dan rencana program selanjutnya.

Di didepan makam Rasul saw. aku sempat menulis curahan hati:

cintaku padamu
ya Nabiyullah
tak tertahankan
walau lewat jalan panjang
melintasi banyak negara
angkasa luas pun kuarungi
walau umur sudah sepuh
aku berusaha datang
di tempat persemayangmu

semoga dengan safaatmu
aku dapat kasih sayang
bisa bertemu denganmu
di hari keabadian
dalam surga
jannah al-naim

sekeliling makammu
aku menyaksikan
jamaah menyemut
bahkan sepanjang tahun
ratusan juta umatmu
berdesakan menadahkan tangan
mendendangkan salawat padamu

aku pun menyaksikan
di antara jamaah umrah
meneteskan air mata
tanda cinta pada-mu
aku ikut terharu
tak terasa
air mata pun berlinang

Saya teringat almarhum Husni Djamaluddin, dalam sebuah kesempatan, ia membagikan sebuah pengalaman mengharukan dari seorang hamba Allah swt. yang pernah ziarah ke makam Nabi saw., yaitu almarhum Umar Khayam, guru besar Fakultas Sastra UGM. Ketika baru saja mendarat di Airport Adisutjipto Yogyakarya, pulang menunaikan ibadah haji. Pernyataan pertama yang disampaikan, “Saya ingin kembali ziarah ke makam Nabi saw.”

Orang yang hadir pun heran dan bertanya, “Bukankah engkau baru saja kembali ziarah dari makam Nabi?”

“Benar,” kata Umar Khayam, “Saya ingin segera kembali karena cemburu kepada para peziarah lain, sebagian mereka orang bersahaja dan saya kenal mereka berasal dari kampung. Mereka pada menangis di depan makam Nabi sebagai tanda rindu tak tertahankan pada Nabi, sedang saya sendiri tidak bisa meneteskan air mata. Jadi, saya ingin segera kembali hanya untuk menangis sebagai pertanda kecintaanku pada Nabi saw.,” kata Umar Khayam.

Itulah pernyataan seorang budayawan dalam mengekspresikan perasaan cintanya yang dalam pada Nabi saw. Persoalan ke makam Nabi hanya sekedar ingin menangis, bagi manusia kebanyakan adalah sesuatu yang tidak penting. Tetapi bagi seorang budayawan, boleh jadi, memiliki makna spritual yang substansial sebagai rasa cinta yang mendalam pada Nabi saw. Ekspresi Umar Khayam lebih menarik lagi, di tengah perilaku sebagian masyarakat muslim bahwa Umrah dianggapnya sama halnya wisata biasa seperti yang disesalkan Rijal Jamaluddin, pengurus masjid Jenderal Sudirman Makassar yang juga tergabung dalam jamaah Ujas Tour. Nauzubillah!

Madinah al-Munwawwarah, 15 Maret 2018


Tag
  • ujas tour
  •  
    div>