SENIN , 19 NOVEMBER 2018

Kisah Perjalanan Umrah Ujas Tour Part 4, Halaqah Kitab di Masjid Nabi

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 17 Maret 2018 14:15
Kisah Perjalanan Umrah Ujas Tour Part 4, Halaqah Kitab di Masjid Nabi

int

KEMARIN setelah selesai salat Asar di Masjid Madinah, saya sengaja menunggu salat Magrib dan Isa. Dengan tujuan untuk mengikuti halaqah atau pengajian yang sudah mentradisi di Masjid Nabi. Beruntung saya bertemu dengan seorang pelajar di Ma’had Lugah, atau Lembaga Studi Bahasa Arab sebagai persiapan masuk ke al-Jamiah atau Universitas Islam Madinah. Pelajar itu bernama Mujahid, berasal dari Balikpapan, lepasan Pesantren Hidayatullah. Dia sudah enam bulan di Madinah. Dialah yang banyak memberi informasi tentang halaqah atau pengajian yang dilaksanakan di Masjid Madinah al-Munwawwarah. Ketika saya tanya tentang berapa lama waktu dipersiapkan untuk bisa masuk ke universitas? Dia menjawab tergantung pada kemajuan bahasa Arab, bisa satu sampai dua tahun. Dia juga menginformasikan bahwa bea siswa yang didapatkan sejumlah 800 real per bulan. Cukup menanggulangi ongkos sehari-hari, sedang asramanya free. Dia pun menambahkan, jumlah mahasiswa Indonesia sedang studi di Madinah sekarang sekitar 1000 orang.

Menurut Mujahid, di Masjid Nabi terdapat halaqah khusus diperuntukkan pada peziarah dari luar negeri. Halaqah itu disebut حلقات الزوار (halaqah untuk para peziarah), khusus ditujukan bagi orang belajar membaca al-Quran, seperti tertulis pada papan pengumuman تعليم القرآن الكريم الزوار atau Quran Teaching for vicitor. Halaqah seperti ini berjumlah lebih 50 kelompok yang dilaksanakan secara bersamaan dalam masjid yang luas itu. Halaqah terbagi dalam kelompok umur, yaitu ada khusus anak-anak, dewasa, laki-laki, dan perempuan. Ada juga yang campuran, diikuti mulai dari anak-anak sampai orang tua.

Halaqah dilaksanakan mulai setelah selesai salat Asar dan Magrib. Hari itu, setelah Magrib, saya minta kepada Mujahid agar di antar ke tempat halaqah khusus membahas kitab. Menurut mujahid, halaqah pembahasan kitab jumlahnya ratusan dengan berbagai bidang keilmuan: Hadis, Tafsir, Fikih, Qiraat, dan kajian Islam lainnya. Pengajar umumnya dosen atau lepasan Universitas Madinah. Saya kebetulan mengikuti pengajian salah seorang Syekh yang sudah tua sampai memakai dua kaca: pertama, kacamata dan kedua kaca pembesar. Sistem mentransfer ilmunya seperti halnya halaqah yang pernah saya ikuti di tanah air, yaitu salah seorang santri membaca kitab kemudia Syekh menjelaskannya. Kebetulan kitab yang dibahas adalah فتح المجيد bab yang membahas tentang tauhid.

Memang, menjadi kebiasaan setiap ke Masjid Nabi, saya selalu berusaha mengikuti halaqah di sana sebagai kebiasaan yang sudah jadi kesukaan. Saya memperhatikan metode pendidikan di sana hanya memperkenalkan satu paham keagamaan. Berbeda yang selama ini kami kembangkan di universitas yang mengajarkan Islam secara komprehensif. Terlepas dari itu, saya menaruh hormat menyaksikan Syekh yang sudah sepuh masih memiliki semangat kuat untuk membagikan ilmunya. Etos ilmu yang dimiliki perlu diapresiasi, semoga bisa ditularkan kepada umat Islam di tanah air. (*)

Madinah al-Munwawwarah, 17 Maret 2018

by Ahmad M. Sewang


div>