RABU , 21 NOVEMBER 2018

Kita, Tak Pernah Memiliki Sesal

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 25 Agustus 2017 13:03
Kita, Tak Pernah Memiliki Sesal

Arifuddin Saeni

KITA tak pernah memahami garis demarkasi yang jelas, antara “penegakan” hukum dan kemarahan, apakah ia berkelindang dengan keadilan ataukah hanya untuk memuaskan kemarahan kita, karena ketidakmengertian tentang kehidupan. Tapi itulah yang terjadi, amarah yang meluap-luap itu, tak terkendali, selalu melahirkan kepedihan pada pihak lain. Kita, atau siapa saja, kadang memang tak pernah memiliki sesal, akan apa yang pernah terjadi.

Tak lama memang akan cerita yang menyedihkan ini, Muhammad Al Zahra alias Zoya, di awal Agustus tahun ini, adalah cerita yang memilukan. Entah, pikiran apa yang terbesit, sehingga dengan gampangnya memukul, mengeroyok  dan membakar seseorang, hanya dengan tuduhan mencuri sebuh amplifier di sebuah masjid, di sekitar pasar Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Bekasi, Jawa Barat. Zoya harus meregang nyawa menahan panasnya api menjilati tubuhnya.

Saya tidak tahu pasti, apakah masyarakat kita sedang sakit, ataukah sedang menghadapi terminologi sosial yang namanya pengkerdilan jiwa. Masyarakat sedang mengalami diskursus kejiwaan, di mana rasa kasihan dan empati hilang sama sekali. Kalap dan kesembronoan memang acap kali hadir, tapi bukan berarti kita harus membunuh orang yang belum tentu bersalah.

Tapi kematian memang bukan lagi hal-hal yang asing bagi kita. Seperti yang dikatakan, Soebagio Sastrowardojo dalam sebaris sajaknya,  “Dan kematian itu makin akrab.” Kita memang dijejali di kepala kita tentang berita kematian, baik di media cetak maupun elektronik. Saban hari, kita dipertontonkan dengan aneka kematian—-yang sesungguhnya meminggirkan rasa kemanusiaan kita.

Keakraban soal kematian itulah barangkali, yang memaksa kita untuk tidak lagi bisa memahami, bahwa kematian yang pasti itu, tidak mesti lahir dari kebencian dan amarah. Kita tidak pernah belajar tentang kesedihan yang tersisa dari anak-anak mereka, istri-istri mereka, yang dengan setia menunggu di ambang pintu, ataukah lempang jendela.

Bagaimana kita bisa mengatakan, bahwa ada sisi kemanusiaan yang kita miliki, yang ketika dengan gampangnya menjustifikasi soal benar dan salah—-apakah juga membunuh adalah jalin akhir dari banyak masalah. Tidak, bagi Mairead Maguire, pemenang hadiah nobel perdamaian, bahwa kita tak perlu menggunakan kekerasan lagi.

Kamu atau siapa saja mungkin mengatakan, “Ah, sudahlah, tak perlu ceramah lagi”, lalu apa yang harus dilakukan ketika kejahatan berlalu lalang di depan mata kita, ketika amoralisasi berkelebat dengan terang menderang, apakah mungkin pembiaran akan menghentikan itu semua.

Memang ini sulit, tapi Thomad Aquinas menjelaskan, bahwa negara memiliki peran yang bukan hanya menegakkan perdamaian, tapi juga mungkin menjaga nyawa warganya dari penindasan warga lainnya. Tapi siapa yang peduli dengan Zoya, seorang ayah dari dua orang anak, yang bermodalkan keahlian elektronik, bukankah ia pencuri. Lalu negara di mana, apakah kita amini  terhadap setiap tindakan kekerasan. Apakah keadilan dijalanan lebih bermatabat dibandingkan di depan meja hijau. Kalau begitu, kenapa kita tak membuka saja selubung mata dewi Themis dan menyarungkan pedangnya kembali. Bukankah “keadilan” bisa diraih dari amarah jalanan. Entahlah. (***)


div>