RABU , 26 SEPTEMBER 2018

Klan IAS Masih Dominan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 06 April 2017 10:20
Klan IAS Masih Dominan

Aliyah Mustika Ilham. (Int)

MAKASSAR,RakyatSulsel.com – Pemilihan wali kota (Pilwakot) Makassar tahun 2018 mendatang, sejumlah nama yang digadang-gadang bakal bertarung mulai bermunculan.

Klan mantan Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin (IAS), misalnya, hingga kini dinilai masih memiliki pengaruh kuat di Pilwalkot Makassar. Setidaknya ada 3 orang figur dari klan IAS yang santer disebut akan bertarung melawan petahana di Pilwalkot, diantaranya istri IAS yang saat ini juga sebagai anggota DPR RI Aliyah Mustika Ilham, Ketua DPC Partai NasDem Makassar Andi Rachmatika Dewi dan Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal.

“Ketiganya bagus, tapi lebih bagus ada yang mengalah supaya bisa di dorong satu nama maju bertarung,” kata keluarga IAS, Syamsu Bachri Sirajuddin melalui sambungan seluler Rabu (5/4).

Adapun mengenai figur alternatif yang akan didorong keluarga IAS pada Pilwalkot 2018 mendatang, ia mengatakan saat ini belum menentukan siapa yang akan diusung. Yang pasti, kata dia, keluarga IAS akan mendukung figur yang mampu membawa Kota Makassar menjadi lebih baik. “Kalau soal siapa yang akan kami dukung, belumlah, yang pasti kami ingin Kota Makassar ini menjadi lebih baik kedepan. Apalagi kan Pak IAS ini sudah membuat dasar-dasarnya, sehingga tinggal dilanjutkan saja,” pungkas Deng Anchu, sapaan akrab Syamsul Bachri Sirajuddin.

Namun dari ketiga nama itu, langkah Ketua DPD Nasdem Makassar Andi Rachmatika Dewi (Cicu) maju di pilwalkot 2018, paling diapresiasi.

Deng Anchu, menyampaikan bahwa keluarga besarnya mendukung penuh langkah politik Cicu menyasar pilwalkot Makassar. “Kami memberi support dan mengapresiasi atas besarnya dorongan masyarakat yang selama ini disuarakan berbagai elemen. Kita keluarga besar mendukung, hanya memang mesti realistis nantinya,” katanya.

Soal pasangan Cicu nantinya di Pilwalkot, Deng Ancu masih enggan berkomentar. Ia menilai persoalan itu masih jauh. Namun, lanjut dia yang perlu diperhatikan adalah soliditas keluarga IAS untuk menghadapi momentum politik tersebut. “Biarkan berproseslah. Sekarang silakan sosialisasi saja dulu, kita dukung,” tutur mantan ketua Bappilu DPW Nasdem Sulsel ini.

[NEXT-RASUL]

Deng Anchu menambahkan keluarga Ilham sudah pasti tidak akan mendukung Danny pada Pilwalkot 2018 mendatang. Pasalnya, kata dia, selama ini Danny tidak pernah mengklaim bahwa dirinya menjadi Walikota karena kerja politik IAS. “Insya Allah, keluarga kami dan seluruh jaringan kami tidak akan mendukung Pak Danny lagi di Pilwalkot Makassar. Karena kan katanya Pak Danny itu menjadi Walikota bukan kerena kerja politik kami di Batu Putih,” kata Deng Ancu sapaan akrab Syamsul Bahri Sirajuddin.

Ia menambahkan, selama ini Danny tidak pernah melakukan silaturahmi dengan pihak keluarga IAS. Padahal, kata dia, Batu Putih adalah markas utama pemenangan Danny pada Pilwalkot lalu, dimana visi misi Danny dirancang dan diputuskan. “Kami juga tidak ingin memaksakan jika Pak Danny tidak ingin memperbaiki silaturahmi dengan pihak keluarga kami. Itu adalah haknya, tapi setidaknya Pak Danny ini harus ingat bahwa Batu Putih itu adalah tempatnya dulu untuk merancang visi dan misi Kota Makassar kedepan,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, Danny tidak pernah menunjukkan rasa simpati dan empatinya kepada IAS selama mengalami kasus hukum. “Selama persidangan tidak pernah datang, bahkan memberikan penguatan agar Pak IAS mengahadapi masalah hukumnya saja seperti mengatakan “Sabarki Pak IAS” tidak pernah,” ujarnya.

Bukan hanya itu, kata Deng Ancu, program yang dijalankan oleh Danny pada masa pemerintahannya juga tidak tepat. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Danny saat ini tidak sesuai dengan perencanaan yang dilaksanakan pada pemerintahannya. “Kita dulu sama-sama kerja program tersebut. Dulu itu ada namanya program konstruksi nasib rakyat, restorasi birokrasi. Tidak ada itu namanya F8, gendang dua, smart car, dan ini itu sudah ada dalam RPJM di DPRD,” ungkapnya.

Oleh karena itu, kata dia, pihak keluarga mengambil kesimpulan untuk menarik diri dari afiliasinya dengan Danny. “Pak Danny gagal paham soal sombere’ karena sombere’ itu kan interaksi sosial dalam hal ini adalah silaturahmi. Ini seakan memakai kearifan lokal tapi nalurinya tidak sampai pada budaya lokal itu sendiri,” terangnya.

Sementara, Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad menilai bahwa ketiga figur yang merupakan keluarga dan loyalis IAS tersebut memiliki kekuatan ketokohan yang berbeda. Sehingga membutuhkan sosialisasi juga pertemuan internal untuk menyatukan kekuatan dan persepsi ketiganya, jika sama-sama berniat maju. “Rentetan sejarah perjalan politik di Makassar masih berkisar pada basis ketokohon dan dominasi beberapa klan. Termasuk keluarga IAS yang berpengaruh,” ujarnya.

[NEXT-RASUL]

Meski demikian, Firdaus berpendapat dari ketiga figur klan IAS, Aliyah dinilai punya Power dan basis ketokohon yang lebih unggul dibandingkan dua figur sebelumnya. “Ibu Aliyah lebih unggul dibanding Cicu dan Deng Ical, dari sudut pandang ketokohan,” kata Firdaus.

Saat ini Deng Ical yang menjabat sebagai Wakil Wali Kota Makassar tentunya memiliki tingkat popularitas yang tidak lagi diragukan. Khusus Deng Ical dan Aliyah, Firdaus mengatakan, keduanya berasal dari partai yang sama, tetapi basis massa pemilik suara dan mesin politik tetap berbeda, sehingga di antara keduanya harus ada yang mengalah.”Oleh sebab itu, jika ingin menang maka harus bersatu. Antara mereka harus ada yang bersabar dalam artian mengalah,” pungkas Firdaus.

Sebelumnya, Konsultan Citra Indonesia LSI Group pimpinan Danny JA menyebut mantan Wali Kota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin (IAS), masih punya pengaruh politik khususnya dalam Pilwali Makassar 2018. Manajer LSI Group, Rasmuddin, menyebutkan endorsement IAS saat ini masih di atas 30 persen. “Artinya, siapa pun yang didukung oleh Ilham Arief Sirajuddin dalam Pilwakot Makassar 2018 tentu memberikan peluang besar untuk terpilih menjadi Wali Kota Makassar,” katanya.

Menurutnya, IAS masih memiliki pengaruh besar di Kota Makassar karena dua hal. Pertama, persepsi kemampuannya dimana mayoritas publik menilai IAS adalah tokoh pembangunan Kota Makassar. Kedua, personality IAS yang ramah kepada siapa saja dan dimana saja. (yad/D)


div>