SABTU , 18 AGUSTUS 2018

Koalisi Parpol SAYANG Pecah

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 27 April 2016 10:36
Koalisi Parpol SAYANG Pecah

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com — Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 2018 mendatang diprediksi bakal berlangsung dinamis dan ketat. Tak adanya kandidat berstatus petahana membuat kekuatan persaingan antar kandidat jadi berimbang.

Koalisi partai politik pengusung Syahrul Yasin Limpo – Agus Arifin Nu’mang di dua Pilgub sebelumnya hampir pasti bubar. Koalisi yang lebih akrab dengan tagline SAYANG ini tak akan bertahan hingga Pilgub Sulsel 2018 mendatang.

Diketahui koalisi parpol pendukung SAYANG di Pilgub Sulsel 2008 yakni Partai Golkar, PPP, PKPI, PDIP, dan PAN. Sementara pada Pilgub Sulsel 2013 diusung Partai Golkar, PDIP, PAN, PPP, PDK, PDS, PKPI dan PKNU .

Terkait hal tersebut, Anggota Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPW PAN Sulsel pada kepengurusan periode lalu, Andi Muhammad Irfan AB mengatakan koalisi SAYANG Jilid III bisa tercapai kesepakatan, namun bisa juga tidak. Menurutnya, hal tersebut tergantung dari perkembangan konstalasi politik yang nantinya berkembang.

“Koalisi SAYANG jilid tiga bisa tercapai pun bisa juga tidak, yah itu kan tergantung dari perkembangan konstalasi politik yang nantinya terjadi. Nantilah dilihat perkembangannya bagaimana,” kata Irfan, Selasa (26/4).

Oleh karena itu, kata dia, belum bisa dipastikan PAN akan tetap berada dalam koalisi Sayang jilid tiga. Ia menilai, koalisi yang sebelumnya dibangun tersebut bukanlah koalisi yang permanen. “Saya belum bisa pastikan akan tetap menajalin koalisi pada partai dalam koalisi jilid tiga lalu, sebab koalisi yang sebelumnya terjalin sifatnya tidaklah permanen,” ucapnya.

[NEXT-RASUL]

Menurutnya, koalisi Parpol pada moment politik seperti Pilgub itu juga bergantung pada persepsi masing-masing Parpol dalam melihat bakal calon yang akan diusung. Menurutnya, partainya saat ini pun tengah mempersiapkan kader untuk diusung pada Pilgub mendatang.

“Koalisi Parpol menjelang Pilgub itu tergantung persepsi Parpol dalam melihat bakal calon. Dan kalau di PAN itu sendiri kan tengah mempersiapkan kader untuk diusung pada Pilgub yakni Ashabul Kahfi,” ungkapnya.

Sekretaris DPD PDIP Sulsel, Rudy P Goni mengatakan komunikasi politik untuk menjalin koalisi pada moment politik bersifat dinamis. Artinya, kata dia, semua Parpol punya potensi untuk dilakukan koalisi sepanjang memiliki visi dan misi yang sama.

“Komunikasi politik itu sangatlah dinamis, dan PDIP itu berkawan pada semua Parpol. Dan tentu semua Parpol yang ada di Sulsel itu punya kans untuk dilakukan koalisi sepanjang punya visi yang sama dalam membangun Sulsel kedepan, apalagi ketika sejalan PDIP dengan mengusung kader PDIP,” terangnya.

Ia menegaskan, pada Pilgub Sulsel 2018 mendatang, PDIP akan mengusung kader internal PDIP. Menurutnya, sudah cukup PDIP menjadi partai pengusung bukan kader internal pada Pilgub Sulsel 2013 dan 2008 lalu.

“Pilgub mendatang kita akan mengusung kader internal, sudah saatnya PDIP mendorong kader internal sendiri, cukuplah PDIP belajar dari Pilgub 2013 dan 2008 lalu,” ujarnya.

[NEXT-RASUL]

Ia menyebutkan, saat ini PDIP Sulsel tengah mempersiapkan Andi Ridwan Wittiri (ARW) untuk diusung maju pada Pilgub mendatang. Ia menilai, ARW memiliki kapasitas untuk didorong dan didukung. “Kalau saat ini PDIP persiapkan ARW untuk didorong maju pada Pilgub, Pak ARW itu punya kapasitas sehingga sudah sangat layak untuk ditampilkan,” tegasnya.

Menurut RPG–sapaan akrab Rudy P Goni, hubungan PDIP dengan parpol pengusung SAYANG jilid II lalu sangat baik seperti PKPI, PAN dan PPP. Ia menilai, jika Parpol tersebut mengusung ARW pada Pilgub mendatang maka koalisi tersebut bisa jadi koalisi yang cantik dengan tagline “Sayang Sekali ARW”.

“Hubungan PDIP dengan PAN, PKPI, dan PPP itu sangat baik, dan ketika semua Parpol tersebut sama-sama mendukung ARW tentu ini bisa menjadi koalisi yang cantik dengan tagline “Sayang Sekali ARW”,” paparnya.

Lain halnya dengan Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Arfandi Idris. Menurutnya, beda konsepsinya antara koalisi SAYANG jilid II lalu dengan koalisi yang akan dibangun pada Pilgub mendatang. Ia menilai, perbedaan tersebut dapat dilihat dari sisi visi dan misi yang akan dijalankan oleh kandidat. Oleh karena itu, kata dia, koalisi parpol SAYANG jilid II lalu tidak mesti akan sama lagi.

“Untuk membicarakan koalisi pada Pilgub mendatang tentu tidak akan sama lagi dengan Pilgub lalu sebab sudah pasti beda mi konsepsinya, sehingga koalisi Sayang jilid dua lalu tidak harus sama lagi,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, ia mengatakan bakal calon setiap Parpol yang akan diusung masih belum mengerucut sebab masih dalam tahap penjajakan. Meski demikian, ia mengaku akan tetap melakukan komunikasi dengan Parpol terkait akan adanya koalisi nantinya.

[NEXT-RASUL]

“Bakal calon tiap Parpol kan juga sepenuhnya belum mengerucut, tapi bukan berarti kita tidak melakukan komunikasi, apalagi kalau sifatnya akan membangun koalisi,” ucapnya.

Sementara Manajer Strategi Pemenangan Jaringan Suara Indonesia (JSI), Irfan Jaya, menuturkan, PDIP dan PAN bukan lagi partai pelengkap dari Golkar, melainkan partai besar. Bahkan PDIP adalah partai pemenang pemilu dan pilpres. Maka wajar saja jika punya harapan menggusung kader sendiri di Pilgub Sulsel mendatang.

“Justru terlalu pragmatis, jika partai sebesar PDIP dan PAN sejak dini tidak punya target mendorong kader internal. Pilgub masih dua tahun lebih. Partai-partai ini miliki kesempatan untuk upgrading kadernya,” ujarnya.

Menurut Irfan, dirinya yakin pada akhirnya menjelang pilgub nanti partai-partai ini realistis dengan keadaan. Mereka nantinya hanya akan mengusung kader internal jika punya potensi menang.

“Bagi partai yang mapan secara pengalaman, menang adalah target utama. Kader adalah prioritas. Namun jika kader tidak punya potensi menang, maka partai biasanya mengusung kandidat yang potensial menang. Lebih baik mereka mengusung kandidat eksternal tapi menang. Daripada menggusung kader internal namun kalah,” jelasnya.

Pakar Politik Universitas Hasanuddin Adi Suryadi Culla memprediksi koalisi Parpol pengusung SAYANG jilid II pada Pilgub Sulsel 2013 lalu tidak akan berlanjut dalam Pilgub Sulsel 2018 mendatang. Alasannya, kata dia, dari beberapa parpol tersebut sudah memiliki figur internal sendiri yang berpeluang diusung dalam Pilgub Sulsel 2018.

[NEXT-RASUL]

“Prediksi saya koalisi Parpol pengusung SAYANG jilid II lalu itu tidak akan berlanjut, karena kan Parpol-Parpol tersebut sudah memiliki figur masing-masing untuk diusung pada Pilgub mendatng,” ujarnya.

Adi Suryadi mengungkapkan, dengan komposisi 9 kursi PAN dan PDIP dengan 5 kursi, maka peluang untuk melepaskan diri dari koalisi SAYANG jilid II sangat besar. Menurutnya, Ashabul Kahfi dan Buhari Kahhar Mudzakkar adalah dua kader PAN yang dinilai sudah saatnya untuk bertarung pada Pilgub Sulsel.

“Sebagai partai papan tengah, PAN juga pasti akan memperhitungkan posisinya secara politik. PAN cenderung akan mengusung dan memunculkan figur sendiri, dan mulai memasang posisi bargaining sebab ada calon yang diunggulkan PAN yakni Ashabul Kahfi dan Buhari Kahhar Mudzakkar,” jelasnya.

Hal yang sama tampaknya juga terjadi pada sikap PDIP. Ia menilai, PDIP sejauh ini sudah lebih awal memunculkan Andi Ridwan Wittiri (ARW) yang dipersiapkan untuk bertarung dalam Pilgub Sulsel 2018.

Bukan hanya itu, kata Adi, PDIP berhasil melakukan kaderisasi di internal partainya. Ia menilai, salah satu bentuk keberhasilan partai politik dalam melakukan kaderisasi, adalah ketika mampu melahirkan kader internal untuk bertarung dalam kontestasi politik.

“Ini hal positif bagi PDIP, Pak ARW muncul sebagai salah satu figur untuk maju pada Pilgub mendatang. Sehingga bisa saja pisah dari koalisi, kalau mereka tidak diakomodir, tapi justru di perhitungkan oleh gabungan Parpol lainnya. Ada kemungkinan kalau mereka menyodorkan figurnya, itu sudah dalam posisi bargaining,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Meski demikian, Adi mengakui, peluang untuk kembali berkoalisi dalam SAYANG jilid tiga bisa saja kembali terwujud. Namun dengan catatan partai Golkar sebagai partai utama dalam koalisi tersebut, mampu mengakomodir kader internal yang ditawarkan.

“Bisa saja koalisi ini akan berlanjut juga, jika mereka akan bersedia mengakomodir kadernya. Dan melihat perkembangan yang terjadi, kedekatan Golkar, PAN dan PDIP cukup kuat selama ini. Dua periode bersama Golkar dengan koalisi, mampu membangun semacam konsensus politik yang lebih dekat,” jelasnya. (E)


Tag
  • Pilgub 2018
  •  
    div>