SELASA , 16 OKTOBER 2018

Koalisi Partai Istana Sulit Terbangun di Pilgub

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 04 September 2017 13:28
Koalisi Partai Istana Sulit Terbangun di Pilgub

int

*Usungan NasDem Ditentukan DPP

PENULIS : SURYADI MASWATU
EDITOR : DEWI YULIANI

MAKASSAR – Partai Golkar yang kini dinahkodai oleh Bakal Calon (Balon) Gubernur Sulsel, Nurdin Halid (NH) mengharapkan akselerasi koalisi nasional bisa terjadi di Pilgub Sulsel dan Pilkada serentak di 12 Kabupaten kota 2018 mendatang. Utamanya partai koalisi istana yang mendukung pemerintahan presiden Jokowi.

Parpol koalisi istana pendukung Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla diketahui terdiri dari Golkar, PPP, NasDem, PDIP, PKB dan Hanura. Sejauh ini, baru Golkar dan PPP yang pasti memberikan dukungan.

Adapun empat parpol lainnya belum menetapkan arah dukungan. Toh demikian, keempat parpol tersebut membuka peluang untuk mengusung NH-Aziz. Namun, hingga saat ini masih belum ada kepastian.

Pakar politik Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar, Adi Suryadi Culla berpendapat koalisi nasional yang bersumber dari istana ke daerah sangat sulit terwujud karena masing-masing parpol memiliki kepentingan yang berbeda.

“Saya pikir koalisi nasional agak sulit jika di implementasi di Pilkada Serentak. Koalisi Partai bisa dilihat dari berbagai aspek dan penyebab. Apalagi ada kepentingan yang berbeda-beda,” tuturnya.

Menurut akademisi Unhas ini, Koalisi Nasional terjadi bila ada kepentingan untuk melawan partai lain. Lanjut dia, akumulasi partai harus kuat menyepakati bargaining position atau telusuri bergaining posision yang disepakati kandidat.

Dijelaskan, koalisi juga terjadi jika calon bersangkutan tidak memenuhi syarat. Selain itu adanya kesepakatan antara partai pendukung, pengusung dan calon yang bertarung.

“Soal kemungkinan terwujud atau tidak tergantung kepentingan parpol. Juga tergantung figur dan bergening posisien. Karena tawar menawar sangat memengaruhi,” katanya.

Dia menambahkan, koalisi nasional yang didengungkan oleh Partai Golkar yaitu Ketua DPD I Sulsel khusus untuk melaju ke Pilgub dipastikan gagal terwujud. Pasalnya kata dia, konteks Pilpres sangat berbeda dengan dinamika politik yang ada di Sulsel. Oleh sebab itu, lanjut dia koalisi nasional akan mengalami kesulitan untuk diwujudkan.

“Jika dilihat Golkar bisa merayu berbagai parpol. Soal kemungkinan terwujud atau tidak tergantung kepentingan parpol. Tapi saya pikir agak sulit,” pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, ketua harian DPP Partai Golkar, Nurdin Halid (NH) justru mengungkapkan jika peluang terjadinya koalisi nasional sangat besar dalam rangka menghadapi Pilkada serentak dan Pilgub Sulsel 2018 mendatang.

“Kami sementara membangun komunikasi di tingkat pusat, peluang koalisi nasional di Pilkada Serentak dan Pilgub sangat terbuka. Dan itu bisa saja terjadi nanti,” kata NH melalui via seluler Minggu (3/9).

Khusus Pilgub Sulsel, koalisi nasional hanya akan menyisakan PAN, PKSĀ  Demokrat dan Gerindra. PAN dan PPP sudah dipastikan merapat ke IYL, sehingga tersisa tiga parpol yakni PKS, Gerindra dan Demokrat. Siapa yang beruntung mendapatkan tiga parpol ini?.

NH yang mendaftar di hampir semua partai yang membuka pendaftaran dan penjaringan Balon Gubernur Sulsel. Meskipun jumlah kursi di Golkar sendiri telah melebihi syarat mengusung. Masih terus mengejar Hanura, PDIP juga Partai Gerindra dan PKPI serta beberapa partai lain.

“Doakan saja, semoga koalisi istana bersama-sama dengan saya yaitu Golkar di Sulsel,” ucap Ketua Dekopin ini.

Partai koalisi istana tak melibatkan sebagian parpol, lanjut NH meski Pantai Gerindra, Demokrat dan PKS yang selama ini berlawanan dengan partai pendukung pemerintah. Kata Dia, koalisi nasional di Sulsel bisa saja plus atau pun minus.

Selain itu, mantan ketua PSSI ini, semakin intens membangun komunikasi dengan elit partai politik baik tingkat pusat maupun tingkat daerah.

“Bisa juga koalisi bersama di daerah dalam pilkada. Bagaimana harus bersama-sama berjuang di Pilgub Sulsel dan Pilkada serentak nanti,” ujarnya.

Sementata itu, Ketua DPW NasDem Sulsel, Rusdi Masse berpendapat koalisi nasional akan terwujud jika memberikan keuntungan bagi NasDem dalam menghadapi Pilkada serentak di Sulsel.

Menurutnya, suatu koalisi dikatakan nasional apabila memberikan keuntungan timbal balik bagi semua partai sehingga tak ada keraguan untuk dilakukan kerjasama.

“Soal koalisi nasional nanti dilihat, jika memberikan keuntungan bagi NasDem tentu gabung,” tuturnya.

Bupati Sidrap dua periode ini menuturkan, pihaknya di DPW siap menjalankan instruksi jika DPP menghendaki adanya koalisi nasional sampai ke tingkat daerah yakni Sulsel.

Dikatakan, sebagai kader partai tak ada alasan untuk menolak jika DPP berkehendak memberikan instruksi untuk kader NasDem bersama partai lain memenangkan Pilkada serentak.

“Sebagai Kader partai siap jalankan perintah DPP. NasDem siap apa adanya bertarungĀ  dan berkoalisi,” terangnya.

Dia menambahkan, saat ini belum ada instruksi dari DPP NasDem perihal koalisi nasional di Pilgub dan Pilkada serentak di Sulsel. Oleh sebab itu, partai NasDem akan melakukan pertemuan tertutup di Jakarta Selasa mendatang untuk membahas perihal Pilkada dan koalisi.

“Selasa (25/9) lusa ini, Rapat bersama DPP di Jakarta penentuan koalisi. Kalau DPP inginkan kita harus taat,”demikian kata Rusdi Masse. (**/E)

 


div>