SABTU , 23 JUNI 2018

Kodam Optimalkan Fungsi Inteligen

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Rabu , 07 Juni 2017 12:01
Kodam Optimalkan Fungsi Inteligen

1.200 peserta melakukan Tari Paraga pada HUT ke-60 Kodam XIV Hasanuddin di lapangan Makodam XIV Hasanuddin, Jl Urip Sumoharjo Makassar, Selasa (6/6). Tari Paraga ini memecahkan rekor MURI pada kategori penampilan Tari Paraga dengan peserta terbanyak. foto: md fajar/rakyatsulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Agus Surya Bakti menegaskan keberadaan warga Sulsel di Marawi tidak ada sangkut pautnya dengan kelompok militan Maute yang beraviliasi Islamic State (IS).

“Mereka (warga Sulsel) pulang kan. Berarti tidak ada kaitannya. Jangan kita menuduh. Kita ajak mereka bersama-sama. Jangan sampai mereka disisihkan,” ujar Agus.

Untuk mengantisipasi masuknya kelompok militan Maute ke Indonesia, Agus menjelaskan, Kodam Merdeka yang wilayahnya berdekatan dengan Filipina sudah menggelar kekuatan mengantisipasi hal tersebut.

Sedangkan untuk wilayah Kodam Hasanuddin, kata Agus, yang dilakukan yakni meningkatkan kegiatan teritorial dan intelijen.

“Kita tahu Sulsel dan Sulbar punya potensi untuk itu dan itu perlu diwaspadai,” ujar Agus diberitakan Rakyat Sulsel, Rabu (7/6).

Secara khusus, kata dia, pihaknya mewaspadai perbatasan Sulbar dan Sulteng dan Kota Makassar. Alasannya, Sulbar bersinggungan dengan Sulteng, secara geografis medannya sangat memungkinkan untuk persembunyian dan konsilidasi.

Sementara, Kantor Imigrasi Klas I Makassar juga angkat bicara soal evakuasi enam warga asal Sulsel di wilayah Marawi, Filipina. Kantor Imigrasi mengklarisikasi tudingan sejumlah pihak yang menyebut keimigrasian kecolongan.

[NEXT-RASUL]

Kepala Sub Bidang (Kasubbid) Informasi Imigrasi Klas 1A Makassar, Lucky Hakim tak terima pihak disebut kecolongan dalam pembuatan paspor keenam warga yang terjebak konflik di negara tetangga tersebut.

Ia mengaku, pihaknya selalu memeriksa secara detail berkas yang masuk dalam syarat pembuatan paspor.

“Kita sudah bekerja sesuai prosedur. Kalau ada masalah dokumen yang tidak lengkap, kami pasti lihat secara detail, kita periksa. Tidak ada yang kami mudahkan disini. Bahkan warga yang mau umrah saja itu harus lengkapi dokumen, harus ada rekomendasi dari biro wisatanya dalam hal ini pihak travelnya dan juga harus ada dari Kemenag,” ujar Lucky Hakim.

Dijelaskan, enam orang warga Sulsel yang dievakuasi tersebut sudah dipulangkan. Mereka dipastikan warga asal Sulsel. Keenamnya merupakan Jamaah Tabligh yang memang tiap tahun melakukan aktifitas Syi’ar agam Islam selama 40 hari.

“Selama ini banyak pemberitaan yang menganggap Kantor Imigrasi kecolonganlah atau tidak serius memverifikasi, tapi yang harus dipahami, kita juga tidak bisa mengetahui apakah setelah berangkat, mereka semua bakal pulang yang jelas pada saat pemberangkatan di setiap Border Control kami selalu mengecek, dia mau kemana,” jelasnya.

“Misalnya alasannya mau jalan-jalan atau wisata, nah setelah pergi ke sana yang urus visanya bukan kami lagi, kami tidak tahu apakah dia pulang atau tidak. Kedepan yang akan diterapkan adalah jika ingin pergi luar negeri maka harus ada tiket pulang pergi. Tapi ini masih tahap wacana,” sambungnya. (***)


div>