RABU , 13 DESEMBER 2017

Kokon Kembali Bergairah, Bantu Turunkan Harga Kain Sutera

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Rabu , 25 Oktober 2017 11:30
Kokon Kembali Bergairah, Bantu Turunkan Harga Kain Sutera

BERGAIRAH. Kemeriahan Fashion Carnaval Silk of South Sulawesi diikuti 1.500 peserta mengenakan pakaian dengan bahan Sutera Bugis di Jl Jenderal Sudirman, Kota Makassar, Sabtu (13/10) lalu. Kain sutera Sulsel dipasarkan hingga mancanegara. Pengrajin sutera di Sulsel akan diperkuat kembali bergairahnya produksi kokon. DOK/RAKYATSULSEL

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kain sutera Sulsel dipasarkan hingga mancanegara. Namun, pengusaha kain sutera, khususnya di Kabupaten Wajo tidak dapat berproduksi maksimal.

Hal itu disebabkan, kurangnya bahan baku benang sutera. Sedikitnya, 75 persen benang sutera harus diimpor dari negara China. Namun, harga benang sutera mengalami peningkatan drastis dari harga Rp300.000 per Kilogram (Kg) menjadi Rp1.030.000 per Kg.

“Pengrajin sutera saat ini terkendala dengan bahan baku. Harganya saat ini melejit. Untuk menutupinya, makanya dilakukan impor. Dan kami kombinasikan benang dari India dan China,” ujar Meyke N Sultan, Kepala Bidang Industri Tekstil, Elektronika-Telematika dan Aneka (ITETA), Selasa (24/10) kemarin.

Untuk mengatasi hal tersebut, kokon (kepompong ulat) telah hadir di Kota Makassar. Bakal, disuplay kepada para pengrajin. Jumlah bibit yang masuk tahap I, ada 300 box dengan harga per box senilai Rp400.000.

“Benang yang akan dihasilkan dalam kurun waktu tiga minggu penetasan sebanyak 5 Kg. Dan hadirnya ini bisa menurunkan harga sutera,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Tenun Sutra Wajo, Muhammad Kurnia Syam, mengatakan, tingginya harga benang sutra mengancam para petenun di Kabupaten Wajo. Sebab, kain sutra sangat sulit dipasarkan dengan harga yang terlalu tinggi. “Tunggu matinya saja. Industri sutra asli akan kolaps,” katanya.

Terlebih lagi permintaan pasar saat ini cukup besar. Kapasitas produksi sutera asli di Wajo mencapai 2 juta meter per tahunnya. Sehingga, penenun di Wajo membutuhkan minimal 8 ton per bulan untuk mencapai kapasitas produksi.
“Namun, hal tersebut sudah tidak dapat dicapai karena tingginya harga benang sutra impor saat ini,” ujarnya.


div>