JUMAT , 27 APRIL 2018

Koneksi KA dan Pelabuhan Garongkong Penopang MNP

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Kamis , 22 Februari 2018 11:15
Koneksi KA dan Pelabuhan Garongkong Penopang MNP

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo saat melakukan uji coba kereta api, belum lama ini. Foto: HumasSulsel

– Optimistis Tingkatkan Nilai Ekpor Pangan dan Semen

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel berupaya meningkatkan produksi ekspor melalui pemanfaatan sejumlah infrastruktur yang ada. Salah satu yang ditunggu, yakni Pelabuhan Garongkong di Kabupaten Barru, pelabuhan komersil itu sedianya dapat difungsikan secara aktif bersamaan dengan peresmian 44 Kilometer (Km) jalur rel kereta api, Oktober mendatang.

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, pelabuhan pertama yang terhubung dengan akses kereta api itu nantinya akan menjadi penopang program pemerintah pusat, yakni Makassar New Port (MNP).

“Di Barru ada proyek yang dipercepat, antara lain kereta api, Pelabuhan Garongkong sebagai pelabuhan ekonomi, yang diharapkan kedepannya menjadi bagian yang mampu memudahkan bagian dari Makassar New Port,” kata Syahrul, saat melakukan uji coba rel di Barru, baru-baru ini.

Syahrul berharap, pemanfaatan dua transportasi itu mampu menjamin peningkatan nilai ekspor utamanya bahan pangan bahan baku bangunan.

“Khususnya komoditi besar dan dua pengelola pabrik semen kita. Satu pabrik semen memiliki lima unit industri. Oleh karena itu, saya kita pelabuhan dan kereta api ini akan banyak menopang ekonomi kedepan. Untuk bisa meningkatkan daya koneksi agar bisa terekspos di pasar,” ujarnya.

Syahrul bahkan meyakini komoditi pangan dan perkebunan di Sulsel sangat memadai, bahkan kebutuhan ekspornya lebih besar. “Sulsel lebih banyak komoditi makanan. Sebut saja beras, dan kakao,” jelasnya.

Hal itu, akan berdampak baik pada peningkatan penghasilan masyarakat, terkhusus di wilayah Kabupaten Pangkep dan Barru.

Diketahui, Sulsel memiliki peluang besar dalam meningkatkan nilai ekpor, terkhusus di Asia Selatan. Tahun ini, ekspor ke kawasan ini akan semakin dipacu.

Sementara, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Sulsel, Dewa Nyoman Mahendra, mengatakan, populasi penduduk di kawasan Asia Selatan tergolong jumbo. Sehingga ada lebih dari 1,6 miliar jiwa penduduk di wilayah tersebut.

“Diversifikasi pasar akan dipacu ke sini. India sudah cukup intensif. Namun, negara lain, seperti Pakistan, Bangladesh, Srilanka, dan Afganistan belum digarap optimal,” ungkapnya.

Untuk kawasan Asia Selatan ini, pihaknya akan memulai pengiriman komoditas ekspor ke sana di semester awal tahun ini. Pihaknya menyiapkan beberapa jenis komoditas unggulan.

“Diantaranya kopi, Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya. Juga sejumlah produk makanan dan minuman,” ucapnya.

Nyoman melanjutkan, khusus India sudah cukup banyak permintaan pasar. Tahun lalu saja, sudah dikirimkan sekira 24 komoditas. Dengan produk utama seperti damar, biji kakao, getah pinus, dan sebagainya.

“Rata-rata ekspor ke India per tahun sudah di atas 2.000 ton. Sisa ke Pakistan, Bangladesh, dan Srilanka yang masih sangat minim. Bahkan, rata-rata baru satu komoditas,” rincinya.

Adapun, Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengatakan, pasar ekspor Sulsel saat ini memang masih terpaku ke beberapa negara mitra dagang utama. Seperti Jepang, Tiongkok, Eropa, Amerika Serikat. Pengiriman komoditas masih terbatas ke negara-negara tradisional.

“Ini tantangannya. Pemprov mesti berani mengekspor ke pasar-pasar atau negara tujuan baru. Untuk mengantisipasi kondisi ekonomi negara mitra dagang utama yang masih pemulihan. Juga perlu mengekspor dalam bentuk produk olahan,” jelasnya. (*)


div>