SENIN , 24 SEPTEMBER 2018

Konflik Prolog Pilpres, Sulsel Aman

Reporter:

Editor:

Lukman

Selasa , 28 Agustus 2018 12:58
Konflik Prolog Pilpres, Sulsel Aman

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL. COM – Gerakan 2019 Ganti Presiden yang direspon dengan gerakan Lanjutkan Presiden, telah sampai ke titik kulminasi yang kritis, yang memuncak dalam konflik antar pendukung. Kejadian di Riau dan Surabaya, merupakan cermin buruk dalam berdemokrasi yang kemudian memposisikan pihak kepolisian dalam situasi dilematis.

Hal tersebut dikemukakan Pakar Politik Pemerintahan Universitas Hasanuddin (Unhas), Aswar Hasan, Selasa (28/8). Menurut Aswar, awalnya, sebelum pendaftaran pasangan calon presiden di KPU RI, gerakan 2019 Ganti Presiden tidak dipermasalahkan dan dianggap sebagai hak berdemokrasi. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan resminya Presiden Jokowi untuk maju lagi di Pilpres berpasangan dengan KH Ma’ruf Amin, gerakan 2019 Ganti Presiden yang makin merambah ke daerah, mulai mendapat respon dalam bentuk penolakan.

“Adanya respon penolakan ini karena dianggap merugikan pasangan Jokowi dan KH Ma’ruf yang akan maju di Pilpres 2019,” ujarnya.

Elemen massa pendukung Jokowi, lanjut Aswar, mulai melakukan gerakan tidak hanya dalam bentuk tandingan. Tetapi sudah sampai pada gerakan penolakan dan pembubaran secara paksa, dengan mendesak pihak kepolisian untuk tidak mengizinkan acara 2019 Ganti Presiden.

“Situasi tersebut tentu memposisikan pihak kepolisian berada dalam situasi dilematis. Peristiwa Riau dan Surabaya menjadi catatan yang memprihatinkan untuk keamanan dalam berdemokrasi,” lanjutnya.

Namun demikian, apa yang terjadi di Sulsel terkait dinamika konflik Ganti Presiden versus gerakan Lanjutkan Presiden, patut menjadi tauladan dan pelajaran dalam mengelola perbedaan dalam berdemokrasi, dengan mengedepankan keamanan dan stabilitas politik, dengan terkendalinya keamanan penyelenggaraan gerakan tablikh akbar Ganti Presiden di Sulsel yang juga mendapat protes pelarangan. Tapi akhirnya, tetap terselenggara tanpa terjadi konflik dalam skala yang lebih massif mengancam demokrasi.

Terkait situasi keamaman di Sulsel menjelang pilpres, akademisi Unhas yang kerap menjadi nara sumber ahli di Polda Sulsel ini, memberi apresiasi Polda Sulsel karena tetap profesional dengan menjaga netralitas dalam mengendalikan keamanan tanpa ada yang tercederai. Aswar pun juga menyatakan apresiasinya terhadap kematangan dan kedewasaan masyarakat Sulsel secara umum dalam berdemokrasi. (*)


div>