SABTU , 15 DESEMBER 2018

Korban Gempa Lombok: 15 Orang Meninggal, 162 Luka-luka

Reporter:

Editor:

pkl uim

Senin , 30 Juli 2018 12:15
Korban Gempa Lombok: 15 Orang Meninggal, 162 Luka-luka

int

MATARAM, RAKYATSULSEL.COM – Hingga tadi malam sekitar pukul 21.00 Wita, korban meninggal akibat gempa Lombok berjumlah 15 orang meninggal, 162 lainnya mengalami luka-luka, dan ribuan rumah rusak. Pemprov NTB pun menetapkan status tanggap darurat selama lima hari.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Muhammad Rum mengatakan, selama tanggap darurat, semua proses evakuasi dan pengiriman bantuan logistik akan dilakukan. Tim BPBD bersama tim dari kepolisian, TNI, Dinas Sosial Pemprov NTB, sejumlah pemkab, dan instansi lain akan membantu korban.

Kemarin sore (29/7) tiga truk BPBD yang berisi bantuan logistik dikirim ke lokasi bencana di Lombok Timur. Semua peralatan bencana seperti dapur umum, tenda pengungsian, makanan siap saji, pakaian anak-anak, dan selimut diangkut ke lokasi bencana. ”Kami kosongkan semua gudang BPBD,” katanya.

Rum menyebutkan, jumlah korban meninggal hingga tadi malam 15 orang. Perinciannya, 4 korban dari Lombok Utara dan 11 lainnya dari Lombok Timur. Satu orang di antaranya merupakan warga negara Malaysia yang sedang melancong di Sembalun.

Dari Lombok Timur, ada sembilan korban meninggal di Kecamatan Sambelia. Sebagian besar adalah warga Desa Madayin. Yakni Adiatul Aini, 27; Herniati, 35; Fatmirani, 27; Baiq Nila Wati, 19; dan Herli, 9. Dua korban lain berasal dari Desa Obel-Obel. Yakni Firdaus, 7, dan Mapatul Akherah, 7.

Selain mereka, Papuk Bambang, 60, dari Desa Sugin, dan Zahra, 3, dari Desa Dara Kunci, juga menjadi korban. Korban luka berat dan ringan di Sambelia dirawat di lapangan Desa Obel-Obel (51 orang), Puskesmas Belanting (62 orang), serta Puskesmas Sambelia (9 orang).

Dua korban meninggal lain berasal dari Kecamatan Sembalun. Yakni Isma, 30, mahasiswa pendaki gunung dari Ampang, Malaysia, dan Inaq Marah, 80, warga Desa Sajang. ”Korban luka di Sembalun 29 orang,” kata Rum.

Empat korban meninggal lain berasal dari Kabupaten Lombok Utara. Mereka tersebar di Kecamatan Bayan. Antara lain Janiarto, 8, dari Desa Sambi Elen; Rusdin, 34, dari Desa Loloan; Sandi, 20, asal Sumbawa yang meninggal di Desa Senaru; dan Natrinep, 11, dari Desa Senaru. ”Lainnya, 34 warga di Bayan mengalami luka ringan,” ungkap Rum.
Bencana tersebut juga mengakibatkan 41 rumah rusak parah, 74 unit rusak sedang, dan 255 lainnya rusak ringan. Begitu pula 4 masjid, 4 musala, 2 sekolah, dan 3 pura.

Kerugian materiil juga menimpa banyak warga Lombok Timur. Di Desa Dara Kunci dan Sugian, Kecamatan Sambelia, 114 rumah rusak ringan, sedang, dan parah. Sementara itu, di Desa Obel-Obel 144 hunian rusak parah dan 110 lainnya rusak ringan.

Di Desa Belanting 170 rumah rusak parah dan 95 lainnya rusak ringan. Di Kecamatan Sembalun 25 rumah rusak parah dan 100 unit lainnya rusak ringan.

BPBD terus mengevakuasi para korban. Mereka yang terluka ringan dirawat di tenda kesehatan, sementara yang mengalami luka parah dievakuasi ke RSUD Selong. Kemarin sore enam korban luka dari Bayan dan Sambelia dirujuk ke RSUD Provinsi NTB.

Tim BPBD juga mendirikan posko dan rumah sakit lapangan di depan Puskesmas Sembalun, Puskesmas Belanting, dan lapangan depan kantor Desa Obel-Obel. ”Kami mendirikan posko penanggulangan di kantor camat Sembalun dan kantor Desa Belanting,” katanya.

Tim juga mendirikan dapur umum di kantor camat Sembalun, kantor Desa Obel-Obel, dan kantor Desa Belanting. Kemarin tenda posko penanganan telah didirikan. Tim kesehatan dari Mataram juga sudah bergabung di posko.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pemprov NTB Agung Pramuja menambahkan, bila tanggap darurat lima hari dianggap belum cukup, pemprov bisa memperpanjangnya lagi sesuai kondisi di lapangan. Setelah itu, baru masuk masa transisi menuju pemulihan. ”Sampai benar-benar normal,” kata Agung.


div>