SENIN , 15 OKTOBER 2018

Kotak Kosong Menang, Elite Dipermalukan Rakyat

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Jumat , 29 Juni 2018 09:00
Kotak Kosong Menang, Elite Dipermalukan Rakyat

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Fenomena kemenangan kotak kosong di pilkada serentak 2018 harus menjadi pelajaran berharga. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan bahwa ini pertanda elite dipermalukan rakyat.

“Ya kalau itu kan fenomena penting ya, bahwa design elite itu dikalahkan oleh keinginan rakyat,” kata Fahri di gedung parlemen, Jakarta, Kamis (28/6).

Menurut Fahri, demokrasi itu adalah suara rakyat jika kembali kepada definisinya demos dan kratos. Karena itu, Fadli mengingatkan agar hati-hati bahwa ada kemauan rakyat yang kalau tidak tertangkap dengan baik maka elite akan dipermalukan.

Dia mengatakan, tidak masalah jika dilakukan pemilihan ulang jika kandidat kalah lawan kotak kosong. “Tapi sign-nya itu dulu, elite ini dipermalukan oleh rakyat,” ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menilai kemenangan kotak kosong menunjukkan suatu sense dari masyarakat untuk memilih pemimpin. Jadi, kata Fadli, meski dipaksa pada kehadiran calon tunggal, masyarakat menilai orang yang mrmaksakan diri itu tidak tepat atau tidak cocok untuk menduduki posisi tersebut.

“Saya kira ini bagian dari berita gembira dalam alam demokrasi,” katanya di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (28/6).

Wakil ketua umum Partai Gerindra ini mengatakan bisa saja ini juga pertanda ketidakpercayaan masyarakat kepada partai politik. Namun, ujar Fadli, tidak bisa juga menyalahkan partai politik dalam persoalan ini.

“Kadang partai di-fait accompli dengan kondisi situasi lokal. Artinya, kalau partai dipaksa tidak bisa mencalonkan akhirnya mau tidak mau mendukung yang ada. Jadi saya kira tidak bisa disalahkan juga karena sifatnya yang lokal itu,” ungkapnya.

Ketua MPR sekaligus Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan mengatakan fenomena kemenangan kotak kosong ini harus menjadi pelajaran penting. “Jangan sampai terjadi lagi,” tegasnya di gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/6).

Zulkifli menilai pilkada dengan kandidat melawan kotak kosong itu sebenarnya tidak demokrasi. Karena itu, ujar dia, dari dulu PAN tidak setuju.

“Apalagi partai bisa memborong kandidat. Demokrasi kan kompetisi, kalau melawan kotak kosong bagaimana? Nanti diborong partainya, yang punya uang borong partai, itu yang kami tidak mau,” katanya.

Namun, ujar Zulkifli, pihaknya menghormati undang-undang yang sudah mengatur adanya pertarungan antara kandidat melawan kotak kosong. (boy/jpnn)


div>