RABU , 21 NOVEMBER 2018

Kotak Suara Berbahan Kardus

Reporter:

Fahrullah

Editor:

Iskanto

Rabu , 03 Oktober 2018 10:15
Kotak Suara Berbahan Kardus

ilustrasi (Rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Komisi Pemilihan Umum (KPU) mulai memproduksi kotak suara untuk Pemilu 2019. Termasuk di daerah yang terkena bencana.

Menariknya, kotak suara itu tidak lagi terbuat dari bahan aluminium seperti pesta demokrsi sebelumnya, namun menggunakan bahan kardus/karton kedap air dengan satu sisi transparan yang menggunakan plastik mika.

Pemilihan bahan kardus untuk kotak suara itu dilakukan menimbang dari sisi harga dan efesiensi waktu. KPU mengklaim mampu menghemat anggaran hingga Rp600 miliar, dalam pengadaan kotak dan bilik suara.

Komisioner Divisi Logistik KPU Sulsel, Syarifuddin Jurdi mengatakan, saat ini produksi bilik dan kotak suara tengah berjalan. Bahannya terbuat dari kardus.

Ia menambahkan, kotak suara transparan yang saat ini sedang diproduksi nantinya hanya digunakan nuntuk sekali pakai saja. “Bilik dan kotak suara itu hanya satu kali pakai. Ini juga hemat Rp600 miliar lebih,” kata Syarifuddin Jurdi.

Meski demikian, pihaknya juga meminta agar logistik yang berbahan aluminium tetap bisa digunakan di Pemilu 2019, khususnya bagi daerah yang jarak tempuhnya jauh.

“Utamanya daerah kepulauan seperti Selayar dan Pangkep. Jika nantinya menggunakan logistik berbahan kardus, pasti bisa basah kalau terkena air saat didistribusikan,” jelasnya.

“Begitu juga di Luwu Utara dan Tana Toraja, masih banyak daerah-daerah terpencil yang jika diakses harus menggunakan kendaraan bermotor. Otomatis logistik harus diikat dan dikhawatirkan akan rusak. Jadi saya minta di Selayar dan Pangkep tetap menggunakan logistik berbahan aluminium,” tambahnya.

Pakar Politik Universtias Hasanuddin (Unhas) Makassar, Jayadi Nas mengatakan jika bahan kotak suara dari kardus karena waktu pelaksaan Pemilu 2019 yang sudah mepet. “Kotak suara dari kardus lebih cepat dibuat ketimbang dari bahan aluminum,” ujarnya.

Ia mengakui jika logistik dari kardus lebih mudah rusak daripada yang terbuat dari aluminium. “Tapi saya kira hanya sekali pakai. Apalagi kardus lebih murah. Itu mungkin alasan KPU,” jelasnya.

Mantan Komisioner KPU Sulsel ini berharap agar penggunaan kotak suara dari kardus tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. “Kita berharap meningkatnya kedewasaan pemilih. Kita tidak ingin terjadi apa-apa,” ucapnya.

Ia juga menyarankan agar logistik yang terbuat dari aluminium tetap difungsikan. Apalagi untuk lokasi yang rawan bencana. “Jadi daerah-daerah tertentu harus tetap menggunakan logistik dari bahan aluminium. Kalau daerah perkotaan tidak apa-apa menggunakan kardus,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, produksi kotak suara sepenuhnya baru dengan bahan yang berbeda dari sebelumnya. Hal tersebut sesuai Undang-undang nomor 07 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Berdasarkan Pasal 341 ayat 1 huruf a, perlengkapan kotak suara untuk pemungutan suara harus bersifat transparan, yang bermakna kotak suara harus terlihat dari luar.

Untuk itu kotak suara yang digunakan untuk Pemilu 2019 menggunakan bahan karton kedap air dengan satu sisi transparan yang menggunakan plastik mika. Hal tersebut bertujuan agar surat suara dapat terlihat dari luar.

Bicara mengenai ukuran, kotak suara berukuran 40×40×60 cm, dengan minimal ketebalan karton 6 mm. Sementara, bilik suara memiliki lebar 50 cm sisi samping kanan dan kiri serta 60 cm untuk sisi depan dengan minimal ketebalan karton juga 6 mm.
Kotak suara tersebut berwarna putih dengan tulisan KPU salah satu sisi dan jendela plastik mika di sisi depan. (*)


div>