SENIN , 24 SEPTEMBER 2018

KPK Tidak Akan Berhenti pada Miranda

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 28 September 2012 10:24
KPK Tidak Akan Berhenti pada Miranda

Miranda Goeltom

Miranda Goeltom

JAKARTA – Dalam menangani kasus dugaan suap cek pelawat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak akan berhenti pada Miranda S Goeltom. Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan, lembaga anti rasuah itu akan mengembangkan kasus yang melibatkan Miranda ini berdasarkan bukti-bukti yang muncul dalam persidangan.

“Sejak awal KPK mengatakan bahwa KPK akan mengembangkan ini tergantung bukti-butki yang muncul dalam proses persidangan,” kata Johan di Jakarta, Kamis (27/9).

Menurut Johan KPK akan mengkaji putusan majelis hakim atas perkara Miranda terlebih dahulu. Apakah keputusan hakim dapat membuat KPK mengembangkan kasus dugaan suap cek perjalan tersebut atau tidak.

“Itu yang tahu jaksanya, dan pasti dipelajari dulu, pertimbangan-pertimbangan apa yang dipakai hakim dari bukti-bukti yang dipakai KPK,” ujar Johan.

Saat ditanya apakah KPK akan mengembangkan penyidikan pada dugaan keterlibatan Arta Graha, Johan enggan membahas hal yang menurutnya sudah masuk materi perkara itu.

“Ini pembicaraan materi, sebaiknya kita hindari,” ujarnya sambil memastikan KPK akan mengkaji fakta persidangan sekecil apapun.

Meski kasus ini sudah menggiring sejumlah tersangka, antara lain Miranda Goeltom dan Nunun Nurbaeti ke balik jeruji besi, namun asal usul dan pemodal di balik cek pelawat ini masih menjadi misteri.

Meskipun dinyatakan bersalah baik Miranda maupun Nunun mengaku bukan sebagai pihak yang menyuap dan mengakui tidak mengetahui orang di balik pembelian 480 lembar cek perjalanan Bank Internasional Indonesia (BII) senilai total Rp 24 miliar itu.

Dalam persidangan keduanya terungkap cek perjalanan itu diterbitkan Bank Internasional Indonesia (BII) atas permintaan Bank Artha Graha.

Cek tersebut dipesan nasabah Bank Artha Graha, PT First Mujur Plantation and Industry (FMPI). Perusahaan perkebunan kelapa sawit ini memiliki revolving loan di Bank Artha Graha.

Mantan Direktur Keuangan PT FMPI Budi Santoso di persidangan Nunun mengungkapkan, cek perjalanan tersebut semula digunakan sebagai uang muka pembayaran lahan kelapa sawit kepada Ferry Yen sebesar Rp 24 miliar.

Ferry merupakan sosok yang disebut-sebut bekerja sama dengan Direktur Utama PT FMPI Hidayat Lukman alias Tedy Uban dalam pengembangan lahan kelapa sawit.

Pada 2008, Ferry meninggal dunia. Kesaksian Tedy Uban yang dibacakan tim jaksa KPK dalam persidangan Miranda beberapa waktu lalu juga belum mengungkapkan bagaimana cek perjalanan itu bisa berpindah dari Fery Yen ke Nunun Nurbaeti untuk selanjutnya dibagikan kepada para anggota DPR.

Tedy yang diperiksa di Singapura karena sakit itu mengaku tidak tahu keterkaitan Miranda dengan cek tersebut. (kcm)


Tag
div>