SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

Kredibilitas Lembaga Survei Dipertaruhkan

Reporter:

Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Jumat , 08 Juni 2018 15:00
Kredibilitas Lembaga Survei Dipertaruhkan

Dok. RakyatSulsel

– Jangan Ada Data Rekayasa

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sudah menjadi hal lumrah jelang perhelatan pesta demokrasi, baik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Legislatif dan Pemilihan Presiden (Pilpres), bermunculan hasil-hasil survei dari berbagai lembaga survei.

Bisa saja hasil survei tersebut jadi tolak ukur pemenangan pada pilkada. Namun memang, survei baiknya dilakukan dengan tingkat kredibilitas dan keakuratan yang memang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan oleh setiap lembaga survei. Keakuratan dan keterpercayaan harus melekat pada setiap lembaga survei.

Pasalnya, sudah bukan rahasia umum bahwa sejumlah lembaga survei sengaja dipakai oleh para kandidat yang bakal bertarung untuk mengetahui sejauh mana popularitas dan elektabilitasnya. Hal terburuk, bakal muncul persoalan jika hasil survei ternyata dibuat sedemikian rupa alias direkayasa oleh lembaga survei dengan tujuan hanya untuk “menyenangkan” pihak yang telah menggunakan jasa dari lembaga survei tersebut.

Sebelumnya, kalangan akademisi menantang lembaga survei yang kredibel dan punya rekam jejak yang baik untuk merilis data risetnya, sesuai fakta dan objektif. Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad, mengatakan, lembaga survei yang independen diyakini akan memberikan hasil yang baik pula.

“Survei memiliki data dan metode ilmiah termasuk dilakukan oleh konsultan pendamping kandidat. Berbagai upaya mempengaruhi opini publik dengan merilis survei. Kalau data benar akan menguntungkan kandidat atau sebaliknya,” kata Firdaus, belum lama ini.

Firdaus menegaskan, masyarakat sebagai pemilih dan pelaku demokrasi tentunya menginginkan hasil survei yang benar-benar kredibel dan mampu dipertanggungjawabkan secara akademik. Meskipun, hanya ada segelintir lembaga survei yang memang betul-betul menyajikan rilis survei yang obyektif.

“Tentunya masyarakat butuh data kredibel. Sekalipun lembaga survei itu berafiliasi, tetapi tanggung jawab publiknya harus ungkap data yang objektif,” ujarnya.

Sementara, Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto, menambahkan, lembaga survei tentunya akan terpercaya apabila bekerja sesuai dengan prosedur yang ada dalam melakukan riset. Karena memang, data yang didapatkan di lapangan harus valid dan tidak asal-asalan. Meskipun terkadang lembaga survei “condong” pada satu kandidat.

“Kalau lembaga-lembaga survei melakukan riset dengan prosedur-prosedur ilmiah yang benar, maka hasilnya akan valid dan reliabel atau terpercaya. Meskipun lembaga survei itu berafiliasi pada kandidat yang berkontestasi,” jelasnya.

Luhur menjelaskan, kalau prosedur-prosedur ilmiah tidak lagi menjadi pertimbangan dalam kerja-kerja survei, maka data temuannya tentu tidak layak jadi rujukan. Hasil survei hanya untuk kebutuhan propaganda.

“Sekarang ini lembaga survei lebih banyak memainkan politik survei, untuk kebutuhan kliennya. Seperti merilis data, yang tidak berbasis riset ilmiah untuk kemasan citra elektoral kandidatnya,” terang Luhur.

“Kalau pola operasi riset seperti ini yang dijalankan, maka lembaga survei tersebut akan kehilangan kredibilitas dan integritas,” lanjutnya.

Direktur Epicentrum Politica, Iin Fitriani yang dikonfirmasi, menuturkan, keakuratan hasil riset di lapangan sangat ditentukan apa yang menjadi kebutuhan dan keadaan masing-masing kandidat. Karena tidak dipungkiri, berhasil tidaknya riset adalah tergantung kerja-kerja tim di lapangan.

“Survei yang kredibel tentu saja yang mengukur dengan tajam keadaan dan kebutuhan kandidat di lapangan yang dihasilkan dalam bentuk rekomendasi yang akan dipetakan untuk kandidat,” terang Iin.

“Tapi itu tentu saja jadi tugasnya kandidat untuk melaksanakan rekomendasi itu dengan efektif,” katanya.

Sementara itu, selain Jaringan Suara Indonesia (JSI) yang mengunggulkan Ichsan Yasin Limpo – Andi Mudzakkar (IYL -Cakka) di Pilgub Sulsel, Citra Publik Indonesia – Lingkaran Survei Indonesia (CPI – LSI Network) juga ikut menempatkan usungan koalisi rakyat tersebut di posisi puncak.

LSI yang dikenal salah satu “raja” survei di Indonesia yang kredibilitas dan objektivitasnya tak perlu diragukan, menempatkan IYL-Cakka di posisi teratas. Elektabilitas atau tingkat keterpilihannya mencapai 28,6 persen. Disusul Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) 24,4 persen, Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) 23,7 persen. Sedangkan di posisi terakhir, Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo, 9,3 persen. Sisanya, menyatakan tidak tahu, tidak menjawab/rahasia.

Hasil tersebut berbanding terbalik dengan hasil temuan lembaga survei Index Indonesia yang mengunggulkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sulsel nomor urut satu. Survei ini diklaim jumlah sampel yang jauh lebih banyak dari lembaga survei lainnya, yakni 11.200 sampel.

Adapun popularitas kandidat calon gubernur Nurdin Halid berada di posisi pertama yakni 66,9 persen, di susul Ichsan Yasin Limpo (IYL) 62,2 persen, sedangkan Nurdin Abdullah 69,9 persen, dan yang paling buncit adalah Agus Arifin Nu’mang yang memiliki popularitas 45,4 persen.

“Sampel kita raksasa, dan kita tidak main-main dengan hasil survei ini, karena selain mempertaruhkan kapasitas saya juga mempertaruhkan lembaga,” kata A Agung Prihatna, Direktur Esekutif Indeks Indonesia, di sela persentasenya saat merilis hasil surveinya, di Hotel Grand Clarion Makassar, Kamis (7/6).

Sedangkan untuk tingkat popularitas calon wakil masing-masing adalah Aziz Qahar Mudzakkar dengan persentase 53,3 persen, Tanribali Lamo 28,3 persen, Andi Sudirman Sulaiman 29,9 persen, dan Andi Mudzakkar sendiri 40,3 persen.

Selain itu, Script Survei Indonesia (SSI) melalui hasil survei pada periode 25 Mei sampai 15 Juni, menempatkan Nurdin Abdullah- Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) pada posisi teratas dengan elektabilitas 33,78 persen, disusul pasangan Nurdin Halid-Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) 26,34 persen. Sedangkan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) 19,51 persen, dan pasangan pling buncit Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo (Agus-TBL) 5,61 persen, dan tidak menandai surat suara sebanyak 14,76 persen. (*)


div>