RABU , 21 NOVEMBER 2018

Kritikan Kopel Pedis,  Banyak Wakil Rakyat Dijadikan Sebagai ATM

Reporter:

Arini Pratami

Editor:

Muhammad Alief

Senin , 20 Agustus 2018 08:35
Kritikan Kopel Pedis,  Banyak Wakil Rakyat Dijadikan Sebagai ATM

Koordinator Kopel DPRD Sulsel Musaddaq

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Komite Pemantau Legislatif (Kopel) mensinyalir tidak sedikit wakil rakyat dijadikan sebagai ‘ATM’ oleh partai politiknya. Lantaran mereka kerap dibebankan berkonstribusi pendanaaan dalam kegiatan parpol.

Direktur Komisi Pengawas Legislatif (Kopel) Sulsel, Musaddaq, menghimbau kepada seluruh Parpol untuk melakukan koreksi internal partai. Kader partai yang berhasil lolos meraih kursi di legislatif, semestinya tidak dibebankan kewajiban setoran yang mengikat.

“Parpol juga harus melakukan introspeksi dan koreksi internal. Jangan selalu membebani anggota dewan dengan sumbangan yang tidak mengikat,” ungkapnya.

Menurut Musaddaq, politik berbiaya mahal akhirnya tak bisa dihindari, sehingga menjadikan wakil rakyat dan atau calon anggota legislatif mengeluarkan biaya besar terutama dalam menghadapi momentum Pemilu Legislatif.

“Itulah yang kemudian jadi problem dan berpotensi melahirkan perilaku korupsi. Sebab, selain melakukan money politik, mereka juga akan berusaha mendapatkan dana untuk menutupi beban anggaran partainya,” ujarnya, Minggu (19/8).

“Dan ini juga harus dibedakan antara money politik dan ongkos politik. Kalau ongkos politik seperti biaya operasional dan ongkos peraga saya kira itu wajar. Tetapi ketika mereka melakukan money politik, maka tentu biayanya besar,” kuncinya. (*)


div>