RABU , 12 DESEMBER 2018

Kunjungi Tokoh Adat, Irfan Ab Disajikan Kisah Perdamaian Bone dan Gowa

Reporter:

Jumaedy

Editor:

Lukman

Jumat , 06 April 2018 01:25
Kunjungi Tokoh Adat, Irfan Ab Disajikan Kisah Perdamaian Bone dan Gowa

Anggota DPRD Sulsel, Andi Muh Irfan AB, saat mengunjungi salah seorang tokoh adat yang ada di Batubassi, Desa Jenetaesa Kec Simbang Maros, Kamis (05/04).

MAROS, RAKYATSULSEL.COM – Anggota DPRD Sulsel, Andi Muh Irfan AB mengunjungi salah seorang tokoh adat yang ada di Batubassi, Desa Jenetaesa Kec Simbang Maros, Kamis (05/04). Ia diterima langsung oleh pemangku adat Batubassi, Hamma Daeng Bani dan sejumlah tokoh masyarakat di Balla Lompoa Batubassi.

Pada kunjungan ini, Irfan disugukan sebuah kisah sejarah yang cukup fantastis, yakni tentang perdamaian kerajaan Gowa dan Bone.

“Jadi ditempat inilah perdamaian antara Raja Bone dan Gowa digelar, waktu itu peperangan antara Gowa dan Bone terus berlangsung, dan tempat ini adalah salah satu wilayah pertempurannya. Hingga pada suatu waktu, Pimpinan batubassi yang disebut, Pangulu a melakukan lobi terhadap kedua pucuk pimpinan meski berlangsung alot, namun disepakatilah perjanjian damai,” ujar Hamma Daeng Bani.

Ia melanjutkan, jika perdamain itu ditandai dengan ditanamnya dua simbol Batu dan Besi sebagai wujud berakhirnya peperangan. “Jadi akhirnya perjanjian damai itu tercapai, disuruhlah pihak dari Bone mengambil Batu dalam besi yang ada di Bone, dan Besi dalam batu yang ada di Gowa, lalu ditanam disini di Balla lompoa, ada simbolnya di dalam,” paparnya.

Wartawan yang juga berada di lokasi menyaksikan batu dan besi yang bersatu berada tepat di tengah balla lompoa tersebut.

Irfan Ab yang mendengar kisah tersebut merasa tertarik. Menurutnya ini adalah sejarah yang baru ia dengar. “kisah ini baru saya dengar, dan bisa jadi itu adalah sebuah kisah yang benar adanya, apalagi ini ada bukti batu dan besi yang akhirnya menjadi nama dusun disini. Ini perlu kajian akademik yang serius,” ungkap legislator dari fraksi PAN ini.

Ia melanjutkan jika kisah ini perlu dikaji oleh para sejarawan, mengingat kisah Bone dan Gowa adalah kisah heroik masa lalu yang telah melegenda di Indonesia.

“Perlu ada penelitian lanjut, tinjauan akademis oleh para ahli, Karena jika ini benar maka sudah barang tentu sejarah perdamaian antara Bone dan Gowa akan ditulis ulang,” lanjutnya.

Terakhir, Irfan menyampaikan jika ia merasa bangga dengan adat dan budaya yang dirawat dengan baik oleh masyarakat di Kabupaten Maros. “Kita patut berbangga dengan kekayaan adat dan budaya kita di Maros, masyarakat pun terus menerus menjaga dan melestarikan ini, berbagai kegiatan adat masih terus dilakukan,” tutupnya. (*)


div>