SENIN , 23 JULI 2018

Kurang Servis Suami, 17 Guru di Makassar Minta Cerai

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Rabu , 17 Februari 2016 21:15
Kurang Servis Suami, 17 Guru di Makassar Minta Cerai

(foto:Ist)

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Perselingkuhan yang berakhir di meja Pengadilan Agama sepertinya lagi tren di lingkup Pemerintah Kota Makassar. Dari tahun ke tahun angka perceraian meningkat dengan alasan service diranjang sudah loyo. Pemicunya yah ada pihak ketiga.

Data perceraian ini tercatat di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Makassar. Fakta mencengangkan pun terungkap bahwa lebih banyak pegawai perempuan meminta cerai dengan alasan yang berbeda, utamanya perselingkuhan, faktor ekonomi, nafkah lahir batin, dan kurangnya servis diranjang.

“Penggugat kebanyakan perempuan, laporannya ada mencapai 32 kasus. Sementara penggugat laki-laki hanya delapan kasus. Artinya, gugatan cerai yang diajukan perempuan lebih tinggi. Faktor utama dipicu perselingkuhan atau gangguan orang ketiga, faktor ekonomi, nafkah lahir batin, dan kurangnya servis, ” kata Kepala Bidang (Kabid) Kinerja dan Kesejahteraan, Munandar, Rabu (17/2).

Munandar yang menangani berkas perceraian dan perselingkuhan di BKD Makassar menyebutkan data pada 2015 ada 35 kasus perceraian dan diawal 2016 ini sudah ada lima kasus perceraian.

“Kasus perselingkuhan berujung perceraian di lingkup pemkot Makassar mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga instansi SKPD. Mirisnya, kasus terbanyak dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Makassar, alias guru-guru yang notabene tenaga pendidik, ” tuturnya.

Hingga awal 2016 ada 17 guru perempuan minta cerai. “Istri tidak diberi nafkah, baik lahir maupun batin, terjadi percekcokan dalam rumah tangga, ada perselingkuhan, masalah ekonomi juga,” bebernya.


div>