JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Lagi, Polda Sita Aset Abu Tours

Reporter:

Irsal - Ramlan - Suryadi

Editor:

asharabdullah

Kamis , 05 April 2018 09:30
Lagi, Polda Sita Aset Abu Tours

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol. Dicky Sondani

– 1.282 Jemaah Tunggu Putusan Gugatan Perdata

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Satu per satu aset travel umrah Abu Tours disita pihak kepolisian. Setelah seluruh asetnya yang ada di Sulsel, polisi kini menyita rumah CEO Abu Tours, Hamzah Mamba, yang terletak di Jalan Bukit Cinere, Perumahan Kartika Residence, Kelurahan Cinere, Depok.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, mengungkapkan, penyidik Ditreskrimsus Polda Sulsel akan mengumpulkan seluruh aset tidak bergerak maupun aset bergerak milik CEO Abu Tours. Sehingga pada saat sidang nanti di pengadilan, selain pelakunya yang ditahan, aset-asetnya juga bisa dilelang dan hasilnya dikembalikan kepada para jemaah.

“Insya Allah nanti mungkin kita akan melakukan penyitaan beberapa aset Abu Tours yang ada di Jakarta. Berupa rumah dan mobil merek Alphard,” ungkapnya, Rabu (4/4).

Dicky mengaku belum mengetahui berapa jumlah unit mobil yang merupakan aset bergerak milik Hamza Mamba. Penyitaan dilakukan agar bisa mengembalikan uang jemaah.

“Upaya pengembalian uang para jemaah merupakan hak yang harus didapatkan jemaah. Karena dikhawatirkan, kalau ini tidak dikembalikan kepada jemaah, nanti hak-hak jemaah akan hilang. Inilah hak jemaah, kita upayakan bisa kembali,” ujarnya.

Selain itu, bagi jemaah yang tetap ingin diberangkatkan untuk menjalani ibadah umrah, Kementrian Agama masih terus merumuskan solusi tersebut. Posko bersama yang disediakan Polda Sulsel juga masih didatangi oleh jemaah yang menjadi korban Abu Tours.

“Kementrian Agama akan mengkaji bersama tim, akan seperti apa para jemaah yang tidak berangkat ini. Karena, masih ada puluhan ribu orang yang tidak berangkat. Ini adalah suatu problema sosial,” imbuhnya.

Sementara, tiga pemohon yang telah resmi melayangkan gugatan perdata Penundaan Kewajiban Perkara Utang (PKPU) kepada PT Amanah Bersama Umat atau Abu Tours, masih menunggu putusan.

Pengacara pemohon, Ridwan Bakar, mengungkapkan, sembilan agen yang menjadi pemohon PKPU tersebut semuanya berdomisili di Makassar. Ada 1.282 jemaah yang tergabung dalam sembilan agen itu.

Ia mengungkapkan, kliennya mengajukan gugatan ke Pengadilan Niaga Makassar karena ketidakjelasan pemberangkatan.

“Agen ini sudah setor uang untuk pemberangkatan jemaah mereka ke Abu Tours, yang telah jatuh tempo,” jelasnya.

Selain sembilan agen, Ridwan Bakar juga menjadi kuasa hukum dari satu vendor yang turut melayangkan gugatan PKPU ke Abu Tours beserta pimpinannya. Vendor tersebut bergerak di bidang penyedia jasa tiket.

“Saya juga kuasa hukum satu vendor penyedia jasa tiket. Vendor tersebut bernama PT Moisani Manggala Wisata,” lanjutnya.

Humas PN Makassar, Bambang Nurcahyono, mengatakan, sidang putusan PKPU sementara yang berlaku selama 45 hari ini, akan digelar hari ini, Kamis (5/4). Hasil putusan tersebut nantinya menyepakati, apakah Abu Tours bersedia mengembalikan biaya yang telah diberikan jemaah atau dipailitkan.

“Dalam 45 hari itu Abu Tours diberikan kesempatan, apakah bisa berdamai dengan pemohon atau kalau tidak, maka akan jadi PKPU tetap dengan Abu Tours akan dipailitkan,” jelasnya.

Sebelumnya, agen Abu Tours mengajukan gugatan perdata PKPU ke Pengadilan Niaga Makassar, pada tanggal 16 Maret 2018 lalu. Pengajuan ini sebelum CEO Abu Tours, Muhammad Hamzah Mamba, ditetapkan tersangka tindak pidana penggelapan dan pencucian uang oleh Ditreskrimsus Polda Sulsel.

 

Mahasiswa Gagal

Bos Abu Tours, Hamzah Mamba, ternyata pernah tercatat sebagai mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) pada 2002 silam dan tercatat Biro Akademik UNM. Nama Hamzah tercatat dengan nomor NIM 022204014, jurusan S1 Pendidikan Teknik Mesin.

“Ia tercatat sebagai mahasiswa UNM. Masuk tahun 2002, jurusan Teknik Mesin. Tetapi, dia hanya satu semester yang aktif,” kata Humas UNM Makassar, Burhanuddin, Rabu (4/4).

Memasuki semester berikutnya, ungkap Baharuddin, Hamzah melanjutkan studi, namun tak sampai semester akhir. Ia memilih untuk berhenti kuliah, sehingga pihak kampus mengambil langkah sesuai prosedur yaitu Drop Out (DO).

“Pada saat semester dua sempat cuti, dan lanjut hingga semester lima. Tapi di semester lima itu dia sudah tidak aktif, jarang masuk hingga tidak pernah hadir lagi,” ungkapnya.

Berdasarkan buku catatan akademik, Hamzah Mamba tidak aktif lagi kuliah pada semester lima, dan terdapat tulisan DO. IPK tak sesuai aturan akademik.

“Hamzah Mamba tidak aktif dalam proses pembelajaran, dan tidak pernah masuk kuliah selama tiga semester menjadi alasan mahasiswa kena DO,” bebernya. (*)


div>