SELASA , 21 AGUSTUS 2018

Lahan Pabrik PT Japfa Disegel Polda

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Jumat , 02 Februari 2018 23:59
Lahan Pabrik PT Japfa Disegel Polda

Pemasangan papan bicara penyitaan dilakukan tim Ditreskrimum Polda Sulsel atas lahan yang kini dikuasai PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk yang berlokasi di Kampung Bontomanai, Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Jumat (2/1). foto: doelbeckz/rakyatsulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Polda Sulsel melalui tim Ditreskrimum melakukan eksekusi penyitaan terhadap sebagian lahan pabrik PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk yang berlokasi di Kampung Bontomanai, Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Jumat (2/1).

Tim Polda memasang police line dan melakukan pemasangan papan bicara setelah tim Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Makassar menyelesaikan pengukuran terhadap lahan seluas 6,2 Hektare (Ha) milik Muh Basir yang kini sudah dibanguni sejumlah gudang dan pabrik milik PT Japfa yang merupakan perusahaan pakan ternak terbesar di Kawasan Timur Indonesia (KTI) ini.

Kasubdit I Ditreskrimum Polda Sulsel, Kompol Tri Hambodo, yang memimpin eksekusi ini, mengatakan, eksekusi ini berdasarkan penetapan Ketua Pengadilan Negeri Makassar dengan nomor 2041/Pen.Bid/2017/PN MKS per tanggal 5 Desember 2017 lalu.

“Kita sudah menerima surat penetapan Ketua Pengadilan Negeri untuk memberikan izin kepada penyidik untuk melakukan penyitaan kepada objek barang/benda yang telah dipergunakan berhubungan dengan tindak pidana ‘pemalsuan surat’ dalam perkara tersangka Panca Trisna,” terangnya.

Tri mengatakan, penyitaan ini dilakukan setelah cukup alat bukti yang kuat serta ditunjang keputusan Pengadilan Negeri Makassar.

“Kasus ini sudah lama bergulir. Kami menjalankan proses penyidikan dan setelah ada petunjuk Pengadilan serta Kejaksaan, maka objek ini kita disita. Penyitaan ini ada dasar hukumnya dan sesuai prosedur. Dulu ini tanah, sekarang sudah ada sebagian bangunan di atasnya,” jelas mantan Kapolsek Panakkukang, Makassar ini.

Eksekusi ini juga dihadiri dan disaksikan langsung penggugat Muh Basir bersama pengacaranya serta sejumlah petinggi PT Japfa.

Sementara, penggugat, Muh Basri, merasa lega dengan adanya eksekusi ini.
“Kami sudah sangat lama memperjuangkan hak kami. Perkara ini sejak 2009. Saat itu kami surati kepada pembeli tanah Panca Trisna yang membeli dari Hendro Susantio (alm) agar tidak melakukan aktivitas di atas tanah ini, namun ternyata Panca Trisna menjualnya ke PT Japfa. Lalu, sejak 2010 PT Japfa membangun gudang dan pabrik serta melakukan sejumlah pengrusakan pagar dan penebangan pohon mangga yang produktif yang ada di atas lahan,” bebernya.

“Tanah kami ini seluas 6,2 Ha kini dikuasai PT Japfa sebagian sudah dbanguni gedung dan pabrik, sisanya masih dalam bentuk tanah kosong, namun dipagari PT Japfa,” tambahnya.

Sengketa tanah ini sendiri bermula ketika lahan milik Muh Basir dijual Hendro Susantiao (alm) dengan melakukan dugaan pemalsuan dokumen kepemilikan tanah ke Panca Trisna (PT Sawut). Kemudian Panca Trisna menjualnya lagi ke PT Japfa. (***)


div>