SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Launching Buku “Merawat Silaturrahim Tanpa Batas, 70 Tahun AGH Dr KH Baharuddin HS, MA

Reporter:

Editor:

Ridwan Lallo

Minggu , 13 Mei 2018 20:55
Launching Buku “Merawat Silaturrahim Tanpa Batas, 70 Tahun AGH Dr KH Baharuddin HS, MA

Plt Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal saat menghadiri launching dan bedah buku “Merawat Silaturrahim Tanpa Batas, 70 Tahun AGH Dr KH Baharuddin HS, MA”, di Gedung Aisyiah Jalan Jendral M Yusuf No 93 Bulusaraung Makassar, Minggu (13/5).

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Tepat berusia 70 tahun, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Makassar, AGH Dr KH Baharuddin HS, MA melakukan launching dan bedah buku yang bertajuk “Merawat Silaturrahim Tanpa Batas, 70 Tahun AGH Dr KH Baharuddin HS, MA”, di Gedung Aisyiah Jalan Jendral M Yusuf No 93 Bulusaraung Makassar, Minggu (13/5).

Launching tersebut dihadiri sejumlah ulama di Sulsel, termasuk Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal. Buku tersebut ditulis Dosen UIN Alauddin dan STAI Al-Furqan Makassar, Muhammad Yusuf.

Sang penulis, Muhammad Yusuf mengatakan, buku ini menceritakan riwayat hidup, pengalaman, perjalanan intelektual, karir pengabdiannya, serpihan-serpihan pemikirannya, pola interaksi lintas etnik dan lintas ormas, lintas agama.

“Buku ini juga mengilustrasikan sosok AGH Dr Baharuddin HS, MA sebagai anyaman dari ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah dan Kultur Orang Bugis. Sebagai orang Bugis, beliau memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) berupa getteng (keteguhan), lempu’ (kejujuran), assitinajang (asas kepatutan), siri’ (malu), dan sebagainya. Di balik sikapnya yang bijak menghadapi perbedaan, tertanam sebuah prinsip yang kuat terhadap persoalan ushuliyat dan nilai-nilai utama,” ujar Muhammad Yusuf.

Muhammad Yusuf menambahkan, diantara serpihan pemikirannya, yaitu mengenai Islam, Iman, dan Ihsan. “Beliau menyebutnya sebagai “rukun agama”. Alasannya, karena Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW untuk mengajarkan agama yang mencakup Islam, Iman, dan Ihsan,” ucapnya.

Menurut AGH Dr Baharuddin, kata Muhammad Yusuf, apabila seseorang beragama hanya pada sampai pada Islam (dalam arti fiqh) dan iman (dalam arti akidah saja) maka masih berpotensi besar terjadinya perdebatan yang melelahkan dan konflik sosial, karena tidak jarang perdebatan pada kedua aspek ini berakibat saling menyalahkan hingga terjebak pada sikap takfiri (saling mengkafirkan).

“Jadi kata beliau, seorang yang beragama (Islam) harus sampai pada aspek yang ketiga, yaitu Ihsan. Aspek ini mengajarkan tentang akhlak mulia, hikmah, dan kearifan, yang akan diperoleh melalui tasawuf. Inilah yang mengajarkan nilai inti (core value) akhlak yang akan memelihara tiga kesalehan secara simultan yaitu kesalehan secara spritual, sosial, dan ekologis,” jelas Muhammad Yusuf.

“Inti dari buku ini bagaimana kita tetap menjaga silaturrahim tanpa ada sekat-sekat, baik dari latar belakang budaya, ormas, etnik dan keyakinan,” tegasnya.

Lebih jauh Muhammad Yusuf mengatakan, menulis biografi merupakan salah satu cara mengetahui dan mengenalkan silsilah nasab yang memiliki landasan teologis dan sejalan dengan tujuan syariat, yaitu memelihara keturunan. Perintah menjaga dan memelihara hubungan darah dalam Islam didukung oleh beberapa dalil naqli. Diantaranya, Q.S. al-Hujurat ayat 13.

AGH Dr Baharuddin HS, MA sendiri berharap agar buku tersebut dapat bermanfaat bagi ummat Islam. “Semoga dapat bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua MUI Sulsel AG Dr KH Muh Sanusi Baco, Lc menyambut baik terbitnya buku tersebut. Menurutnya, dalam beragama memang sangat dibutuhkan keteguhan dalam prinsip meski tetap dibutuhkan sikap bijak dalam menghadapi perbedaan-perbedaan dan keragaman.

“Beliau telah mendedikasikan dirinya untuk pendidikan dan dakwah. Di sekolah beliau adalah guru, di kampus beliau adalah dosen dan ditengah masyarakat beliau aktif berdakwah,” ujar Sanusi Baco.

Tentang AGH. Dr. Baharuddin HS, MA

AGH Dr Baharuddin HS, MA lahir di Watatta’ Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone tanggal 2 Mei 1948 dari pasangan KH Abduh Shafa dan Puang Indare. Dr Baharuddin memiliki garis silsilah nasab dengan Arung Mampu. Kakeknya adalah seorang bangsawan Bone, La Husen dan neneknya bernama Puang Sami’. Sebutan “La” di depan namanya menunjukkan gelar bangsawan Bugis Bone yang kemudian mengalami dinamika menjadi “Andi”.

Meski tumbuh dalam keadaan piatu sejak kecil, namun AGH Baharuddin HS tetap mendapatkan pendidikan yang baik dari Abbanya. Geneologi intelektualnya bersama semua saudaranya berakar dan bermula dari didikan Abbanya, KH Abduh Shafa. Lahir dari keluarga pendidik dan pendakwah AGH Dr Baharuddin tumbuh mewarisi genetika Abba dan kakeknya sebagai pendidik dan pendakwah (da’i).

Ayahnya, KH Abduh Shafa selain pernah mengenyam pendidikan agama dari beberapa ulama di kampungnya, beliau juga merupakan murid langsung dari seorang ulama tersohor di Sulsel, AG KH Abdurrahman Ambo Dalle, pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren DDI Mangkoso Kabupaten Barru. (*)


div>