SELASA , 18 DESEMBER 2018

Lawan Kotak Kosong Bukan Jaminan Menang

Reporter:

asharabdullah

Editor:

Jumat , 27 April 2018 14:21
Lawan Kotak Kosong Bukan Jaminan Menang

Ilustrasi. Dok. RakyatSulsel

– Appi – Cicu Harus Belajar di Pilkada Pati

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar hampir pasti diikuti calon tunggal, melawan kotak kosong. Namun, hal tersebut belum menjadi jaminan bagi Munafri Arifuddin – Rachmatika Dewi (Appi – Cicu), untuk memenangkan kontestasi Pilwalkot Makassar.

Pasangan ini harus belajar dari Pilkada Pati, tahun 2017 lalu. Dimana calon tunggal kalah melawan kotak kosong. Uniknya, kekalahan calon tunggal tersebut terjadi di kabupaten padat penduduk, yang memiliki 1,5 juta penduduk. Padahal, calon tunggal didukung oleh banyak partai politik.

Pakar Politik UIN Alauddin Makassar, Syarifudin Jurdi, mengaku sangat pesimistis Appi – Cicu menang melawan kotak kosong. Tidak ada jaminan calon yang didukung partai partai besar bisa menang pilkada (kasus Takalar), juga tidak ada jaminan calon tunggal otomatis menang tanpa lawan (kasus Pati).

“Appi-Cicu melawan kotak kosong tinggal menunggu langkah KPU Kota Makassar. Keputusan MA oleh banyak ahli hukum disarankan untuk dilaksanakan KPU,” ujarnya, Kamis (26/4) kemarin.

Langkah Appi – Cicu untuk bisa menang pilkada harus mampu meyakinkan warga Makassar dengan program yang jelas, rasional, dan sesuai dengan harapan mayoritas warga. Basis massa pendukung DIAmi bisa beralih mendukung Appi – Cicu, kalau programnya jelas dan memenuhi harapan warga.

Apalagi, jika pasangan ini meyakinkan warga untuk melanjutkan sebagian program Danny, maka peluang besar Appi – Cicu untuk menang.

“Mengingat rakyat Makassar umumnya kaum terpelajar dan tidak terlalu menonjolkan sikap emosional,” tuturnya.

Dia menambahkan, tantangan besar Appi – Cicu terletak tim dan dirinya sendiri. Apabila komunikasi politiknya bagus, program kerjanya jelas dan agenda-agenda strategisnya juga jelas, maka pasangan dengan mudah menang pilkada.

“Masyarakat perkotaan jauh lebih strategis berpikir dan bertindak. Kalau Appi – Cicu meyakinkan, maka mereka ke TPS dan mencoblos Appi – Cicu, dan sedikit diantaranya yang memilih kotak kosong.

Sementara, Pakar Politik Unismuh Makassar, Andi Luhur Priatno, berpendapat, pasangan calon tunggal tidak bisa langsung berpesta dengan keputusan diskualifikasi itu. Menurutnya, pertarungan tetap terjadi di bilik suara. Kekuatan infrastuktur politik calon tunggal tidak boleh terlena dengan situasi ini.

“Tidak bisa juga langsung seperti (pemenang yang mabuk),” tuturnya.

Lanjut dia, kalau kekuatan pendukung kotak kosong atau kolom kosong betul bisa terkonsolidasi, maka tidak mudah bagi calon tunggal untuk memenangkan kontestasi.

“Apalagi jika pendukung kotak kosong lihai membangun strategi viktimisasi (psikologi korban) pada para pemilih,” katanya.

Sementara, Juru Bicara Appi – Cicu, Arsony, mengaku tidak ingin terlena jika melawan kotak kolom kosong. Pihaknya akan tancap gas untuk bisa meyakinkan masyarakat Makassar, untuk memilih Appi – Cicu.

“Melawan kotak kosong bukan keistimewaan untuk Appi – Cicu. Namun, ini juga pertarungan seperti halnya melawan Danny,” terangnya.

Pihaknya akan meyakinkan seluruh masyarakat Makassar, jika Appi – Cicu sudah layak menjadi pemimpin Kota Daeng lima tahun kedepan. “Kita akan meyakinkan masyarakat dan saat ini hakkul yakin (yakin) bisa menang dengan target 70 persen suara rakyat,” tuturnya. (*)


div>