SELASA , 20 NOVEMBER 2018

Lebih Dekat dengan IYL, Berpikir Untuk 25 Tahun ke Depan (7/Bersambung)

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 02 Juni 2018 11:15
Lebih Dekat dengan IYL, Berpikir Untuk 25 Tahun ke Depan (7/Bersambung)

int

SEAKAN tak ada habisnya mengupas sosok Ichsan Yasin Limpo. Berbicara soal Ichsan, berbicara soal masa depan. Semangat Ichsan membangun daerah lewat generasi muda, begitu menggelora. Ichsan bukan merencanakan membangun untuk masa satu periode jabatan (5 tahun).

Ichsan bahkan merancang pembangunan yang akan dinikmati hingga 25 tahun kedepan. Alias seperempat abad.

Kata investasi seperempat abad kemudian menjadi ikonik dari program-program yang telah dilakukan Ichsan, kala menjabat Bupati Gowa dua periode.

Program Investasi Seperempat Abad merujuk pada pendidikan. Lewat program ini, di Kabupaten Gowa tidak ada anak-anak wajib sekolah yang tidak mengenyam bangku pendidikan. Lewat Investasi Seperempat Abad, Pemkab Gowa menggelontorkan anggaran menggratiskan pendidikan.

Tak hanya itu, anak-anak berprestasi di tingkat SD, SMP dan SMA, kemudian dikuliahkan ke PTN-PTN ternama. Sudah tentu, biaya kuliahnya ditanggung pemerintah kabupaten. Program Investasi Seperempat Abad adalah warisan terbesar Ichsan kepada Gowa.

Hingga tahun 2018, sudah ada 28 universitas yang digandeng Pemkab Gowa untuk merealisasikan program ini.

Ternyata, belum sampai benar seperempat abad, buah dari program itu sudah terasa. Sebuah kisah sukses datang.

Lewat seorang anak muda bernama Siti Aisyah Humairah. Siti Aisyah adalah salah satu dari sekian banyak peserta Program Investasi Seperempat Abad. Ia mampu berprestasi di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Gadis asal Gowa ini berhasil meracik pestisida (Racun Serangga) untuk tanaman. Penemuannya ini, Aisyah mampu meraih rangking 3 besar se ITN Malang, sehingga mampu mendapatkan pengakuan akademik setelah lolos uji lab ITN.

Pestisida yang dibuat Aisyah dapat mematikan serangga dan bisa digunakan pada setiap tanaman. Tak hanya itu, Alumni SMAN Bontonompo ini juga bahkan melakukan kolaborasi dengan sesama mahasiswa di jurusannya membuat sosis berbahan baku ampas tahu.

Protein dalam sosis yang dibuat tak kalah dengan protein yang terkandung dalam sosis-sosis yang ada di pasaran. Kolaborasi tersebut tak luput dari pengakuan akademik ITN tak heran jika dua hasil ciptanya ini mampu membawa nama harum Pemkab Gowa di lingkup ITN.

Seperti yang selalu dikatakan Ichsan dalam berbagai kesempatan. “Membangun manusia lewat membangun pendidikan adalah membangun peradaban.” Tak salah, jika Kabupaten Gowa yang dipimpinnya selama sepuluh tahun, menjadi daerah terkemuka di Indonesia. (*)


div>