KAMIS , 22 NOVEMBER 2018

Lebih Dekat dengan Teysa Aurangga Mafri, Anggota Paskibra Pembawa Baki

Reporter:

Editor:

Lukman

Minggu , 20 Agustus 2017 14:40
Lebih Dekat dengan Teysa Aurangga Mafri, Anggota Paskibra Pembawa Baki

Teysa Aurangga Mafri

SIAPA yang tak bangga menjadi seorang anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) RI, 17 Agustus.

Tak semua orang bisa menjadi bagian dari pasukan itu. Sebab, menjadi anggota Paskibra dibutuhkan kesiapan fisik dan mental. Tampil di hadapan pejabat, mereka harus melalui pelatihan yang ketat selama tiga bulan. Bahkan menjalani karantina selama 16 hari.

Mereka yang menjadi anggota Paskibra tentunya bukan sembarangan. Mereka adalah para siswa-siswi dari berbagai daerah yang mempunyai prestasi gemilang di sekolahnya.

Seperti yang dialami Teysa Aurangga Mafri. Siswa SMAN 17 Makassar ini tidak pernah menyangka dapat terpilih menjadi pembawa baki saat Upacara Pengibaran Bendera pada HUT RI ke-72 di Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulsel.

“Banyak teman-teman yang latihannya juga bagus, tapi saya bersyukur dapat terpilih menjadi pembawa baki di upacara itu,” ujar gadis kelahiran 2001 tersebut.

“Motivasi saya ikut Paskibra ini selain dukungan dari keluarga karena kebetulan ibu juga mantan Paskibra. Selain itu karena sahabat serta pelatih yang selalu meyakini bahwa saya bisa menjadi anggota Paskib. Saya pun berusaha keras untuk sampai disini. Saya mengatakan pada diri saya, orang saja percaya kepada saya, masa saya tidak percaya. Itu yang memotivasi saya,” ungkap Tesya.

Dalam pasukan Paskibra, Tesya masuk ke dalam tim 8, ia ditempatkan menjadi pembawa baki saat upacara HUT RI ke 72.”Kan Paskibra itu dibagi 3 kelompok, Pasukan 17, Pasukan 8, dan Pasukan 45. Sesuai Hari Kemerdekaan. Nah untuk masuk pasukan 17 dan 8 itu sangat ketat,” jelasnya. [NEXT-RASUL]

Posisi yang diraih oleh Tesya bukan kebetulan. Itu merupakan hasil jerih payahnya. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia mulai mengikuti latihan baris berbaris dan sejak itu pula ia punya impian untuk jadi anggota Paskibra.

“Saya menggeluti Paskibra ini sejak saya kecil. Itu tidak telepas dari dukungan orang tua. Tentu saya sangat senang dapat membanggakan orang tua dan teman-teman. Syukurlah saya dan teman-teman berhasil mengibarkan Bendera Merah Putih,” terangnya.

Namun dibalik kebanggaan sebagai anggota Paskibra, banyak cerita suka duka yang mewarnainya. “Seleksinya cukup banyak dan selektif. Dari mulai tingkat sekolah sampai provinsi. Dan itu ratusan sekolah,” lanjut Tesya.

Tahap pelatihan masih membekas sangat jelas di benak Tesya. Ia harus menjalani latihan fisik dan mental yang super ketat. Sulit dipungkiri, banyak anggota Paskibraka lain harus gugur.

“Jadi seleksinya sistem gugur. Setiap hari ada tes dan penilaian. Yang tidak lolos seleksi langsung gugur. Penilaian ini setiap hari, dari mulai kedisiplinan sampai kerapian kamar asrama, kamar mandi dan tempat tidur juga dinilai,” kenang Tesya.

Pada tahap penggemblengan ini setiap peserta juga harus merasakan pelatihan full time, layaknya anggota militer. Disiplin menjadi makanan sehari-hari setiap anggota Paskibra.

“Kita harus disiplin, bangun pagi, istirahat yang cukup, pola makan dijaga. Tapi momen yang paling saya ingat adalah saat saya rindu dengan kedua orang tua. Bahkan saya menangis ketika mengingat orang tua. Gak sadar mata sampai bengkak karena nangis,” ungkap gadis yang bercita-cita menjadi dokter itu.

Tesya pun ingin memberikan pengetahuannya kepada adik kelasnya. “Saya ingin berbagi pengalaman kepada junior aku nanti. Memberi materi dari pengetahuanku dan membantu mencarikan bibit-bibit Paskibraka baru, khususnya dari daerahku,” pungkasnya. (*)


div>