KAMIS , 13 DESEMBER 2018

Lembaga Survei SSI Tak “Direkeng” KPU Sulsel Quick Count di Pilkada

Reporter:

get_the_user_login

Editor:

Lukman

Selasa , 19 Juni 2018 22:20
Lembaga Survei SSI Tak “Direkeng” KPU Sulsel Quick Count di Pilkada

Humas KPU Sulsel, Asrar Marlang. (ist)

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Menjelang H – 8 pencoblosan di TPS, publik kembali dihebohkan oleh riset lembaga survei abal-abal.

Kali ini, Lembaga Survei yang tak “direkeng” oleh KPU Sulsel, yaitu Script Survei Indonesia (SSI) merilis hasil temuannya pemilih di Pilgub Sulsel 2018.

Direktur eksekutif SSI, Yuhardin mengatakan, survei yang dilakukan mulai tanggal 3-12 juni 2018 hasilnya, pasangan nomor 3, Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) unggul telak ketimbang tiga kandidat lainnya.

“Hasil kami di lapangan, elektabilitas pak NA-ASS yakni sebesar 37,7 persen. Ini unggul dibanding kandidat lain yakni NH-Aziz 25,49 persen, IYL-Cakka 19,88 persen, terakhir Agus-Tanribali dengan 4,76 persen. Dan yang belum menetukan pilihan sebanyak 12,80 persen,” kata Yuhardin di Myko Hotel Convention Centre, Makassar, Selasa (19/6/2018).

Yuhardin boleh bangga dengan hasil riset yang mengunggulkan kleanya. Namun berdasarkan data yang dihimpun wartawan Rakyat Sulsel, lembaga survei SSI tak masuk dalam daftar KPPU Sulsel untuk Quick Count (Hitung Cepat) di Pilkada mapun Pilgub.

Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel, telah merilis 10 Lembaga survei yang akan melakukan quick qount (Hitung Cepat) pada tanggal 27 Juni mendatang.

Dari 10 lembaga survei yang dinilai akurang menurut pihak KPU. Namun, terdapat beberapa lembaga survei seperti Lembaga SSI, Index, CSIS yang belum lama ini, melakuakn publikasi mengunggulkan paslon Gubernur Sulsel, tak masuk dalam daftar. Sehingga tak “direkeng” oleh KPU.

Saat dimintai tanggapan soal beberapa Lembaga survei tak masuk daftar di KPU Sulsel untuk hitungan cepat Pilgub dan Pilkada serentak, Kepala Bagian Humas KPU Sulsel, Asrar Marlang menuturkan, lembaga yang tak masuk dalam daftar dikarenakan beberapa hal.

Lanjut dia, pertama soal kelengkapan berkas, kedua kaitan dengan syarat dan ketentuan yang tak dipenuhi lembaga tersebut. Serta ketiga batas waktu sehingga lembaga survei terlambat masukan berkas.

“Pengumpulan berkas bagi lembaga survei, batas tanggal 27 Mei lalu. Jadi lembaga survei yang lain tidak masuk daftar, tidak lengkap surat-surat, legalitas lembaga. Serta kasih masuk berkas lambat sesudah batas tanggal 27 kemarin,” terangnya secara singkat belum lama ini.

Sekadar diketahui, lembaga survei SSI juga punya rekam jejak tak valid, datanya sering meleset jauh dari hasil pencoblosan.

Seperti di Pilkada Selayar 2015, berbanding terbalik dengan hasil pencoblosan. Yang ditempatkan di posisi ketiga, justru keluar sebagai pemenang.

SSI juga, berulangkali mendapat kritikan. Selain dianggap orang dekat NA. Yuhardin yang berulangkali melakukan foto salam NA-ASS, maupun menggelar pertemuan dengan pasangan usungan koalisi PDIP ini, menempatkan jagoannya di posisi pertama. (*)


div>