JUMAT , 14 DESEMBER 2018

Lewat Legislatif, Masjidi Ingin Sejahterakan Tenaga Pendidik

Reporter:

Editor:

Iskanto

Selasa , 25 September 2018 17:45
Lewat Legislatif, Masjidi Ingin Sejahterakan Tenaga Pendidik

Masjidi (baju pupih) saat berkunjung ke Redaksi Harian rakyat Sulsel, jalan Sulatan alauddin, Selasa (25/9).

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Mantan pegawai Dinas Pendidikan Wajo, Masjidi Mappenedding, memutuskan untuk terjun ke
dunia politik dengan mendaftarkan diri menjadi calon anggota DPRD Wajo melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Caleg nomor urut 5 ini dikenal sosok yang humoris, ramah, loyal namun tegas. Sikap inilah yang menjadikannya disukai oleh banyak guru dan publik figur lain, dan juga menjadikannya berbeda dengan politisi lain.

“Dulu saya seorang pelayan guru, maksudnya memberi pelayanan kepada guru dalam mempermudah kebutuhannya. Meski sekarang terjun ke dunia politik bukan berarti jiwa dan semangat sebagai pendidik dan sebagai pelayan pendidikan pupus,” kata Masjidi Mappenedding saat berkunjung ke Redaksi Harian Rakyat Sulsel, Selasa (25/9).

Baginya politik adalah sebuah wahana tempat mengabdi guna menuju perubahan yang lebih baik. Mulai dari keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Jadi, politik itu bukan sesuatu yang tabu.

“Tergantung bagaimana kita mengarahkannya, kalau sejak awal dilatarbelakangi tujuan buruk, maka hasilnya pun akan buruk,” ujar Caleg Dapil 1 Tempe ini.

Berbekal pengalaman sejak muda, mengenyam pendidikan di PGSMTP Negeri Ujung Pandang 1988 serta berkecimpung di dunia pendidikan guru tahun 1987 di SMP 2 kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo selama 4
tahun, ia memberanikan diri terjun ke dunia politik.

“Alasan kenapa saya berani maju sebagai Caleg karena keprihatinan saya terhadap dunia pendidikan. Saat ini fasilitas pendidikan khususnya di Kabupaten Wajo sendiri masih sangat minim,” ucap Masjidi.

Apalagi, menurutnya tenaga pendidik saat ini khususnya di kabupaten Wajo jika dibandingkan dengan instansi lainnya sangat memprihatinkan. Terutama pada tunjangan yang didapatkan, dimana tenaga pendidik baru mendapat tunjangan ketika bekerja secara maksimal dan sebaliknya.

Inilah yang membuatnya semangat untuk kembali berbuat dan mengabdi di tenggah-tenggah masyarakat. (*)


div>