MINGGU , 20 JANUARI 2019

Lima Calon Sekprov Dipastikan Gugur

Reporter:

Iskanto

Editor:

Kamis , 20 Desember 2018 10:44
Lima Calon Sekprov Dipastikan Gugur

Ilustrasi

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Seleksi lelang terbuka Jabatan Tinggi Pratama, Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulsel terus berlangsung. Sepuluh calon kini mengikuti tahapan seleksi di LAN Maskassar, Jalan Baruga Raya dengan agenda tes penulisan naskah. pada tes ini, lima calon sekprov dipastikan gugur.

Ketua Panitia seleksi (Pansel) Sekprov Sulsel Prof Gagaring Pagalung mengatakan, pengumuman hasil assessment dan penulisan makalah 25 Desember mendatang. Proses seleksi melibatkan tim asesor LAN Jatinangor, Bandung. Waktu yang dibutuhkan cukup lama untuk mengumumkan lima besar.

Sebab kata Gagaring, seluruh hasil assessment dan penulisan makalah akan dikaji tim LAN Jatinangor. “Jadi kita menunggu hasil penilaian dari tim LAN Jatinangor. Di tahap ini dipastikan separuh kandidat akan gugur karena hanya akan dipilih lima besar dari seluruh kandidat,” jelasnya.

Lima kandidat dengan nilai tertinggi akan kembali mengikuti seleksi wawancara, 26 Desember mendatang. Dari sana bakal tentukan tiga calon terkuat kemudian diserahkan ke Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah. Selanjutnya nama tersebut diajukan ke Presiden melalui Menteri Dalam Negeri.

Adapun 10 calon Sekprov yang mengikuti tes assessment dan penulisan makalah adalah Sekertaris Daerah Kabupaten Selayar, Marjani Sultan, Direktur Penanganan Fakir Miskin Kemensos RI, Abdul Hayat Gani, Kepala Bappeda Sulsel, Jufri Rahman, Ketua Program Studi Matematika UNM, Hamza Upu, Dosen IPDN Jatinangor, Zubakhhrum Tjenreng.
Kemudian, Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Irman Yasin Limpo, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Sulsel, Ikbal Suaeb, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Burhanuddin Arafah, Asisten II Kabupaten Takalar (mantan Sekda Takalar), Nirwan, dan Kepala BKD Sulsel, Ashari Fakhsirie Radjamilo.

Kepala Bappeda Sulsel, Jufri Rahman, yang ditemui di lokasi mengakui, sebelum menulis makalah, sejak pagi mereka ditantang memberikan gagasan untuk memecahkan masalah di lingkup pemerintahan. Untuk kasus yang diberikan penguji terkait persoalan administrasi persuratan.

“Nanti ini setelah ini baru buat makalah. Tadi (kemarin) diminta untuk studi masalah di pemerintahan,” kata Jufri.

Terlepas dari itu, Jufri tak mau ambil pusing, dirinya dapat lulus lima besar atau tidak. Sebab menurut dia, keikutsertaannya di lelang eselon 1 itu hanya untuk menguji kemampuannya dan mencari pengalaman.

Lebih lanjut, Jufri mengaku tidak mengatahui sistem penilaian yang diterapkan pansel. Dia bahkan menuding seleksi Sekprov laiknya audisi, yakni seseorang dipilih berdasarkan kesenangan sahaja.

“Ini seperti audisi, kalau di TV itu kan tergantung penonton, kalau disini tergantung siapa yang pakai (pimpinan). Jadi ini saya rasa seperti wisata ilmiah saja dan menambah pengalaman,” katanya.

Sementara Irman Yasin Limpo atau kerap disapa None, mengaku menggunakan komputer yang telah disiapkan panitia saat pengerjakan semua soal seleksi. Namun dia mengkritik pelaksanaan seleksi yang mestinya sudah dapat menggunakan gawai android.

“Semua bisa ditangani. Saya justru minta agar pakai android supaya lebih cepat dan ikut era digitalisasi,” katanya. (aln)


div>