SELASA , 21 AGUSTUS 2018

Limbah Medis RSUD Lanto Daeng Pasewang Jeneponto Bahayakan Masyarakat 

Reporter:

Jejeth Aprianto

Editor:

Muhammad Alief

Kamis , 26 Juli 2018 18:43
Limbah Medis RSUD Lanto Daeng Pasewang Jeneponto Bahayakan Masyarakat 

Tampak sampah medis yang berserakan di area RSUD Lanto Daeng Pasewang, Kabupaten Jeneponto.

JENEPONTO, RAKYATSULSEL.COM – Pihak manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lanto Daeng Pasewang, Jeneponto, nampaknya tidak memperhatikan sampah medis yang berserakan di area RSUD. Padahal sampah medis ini sangat berpotensi membahayakan masyarakat yang ada disekitar RSUD Jeneponto maupun pembesuk yang mengunjungi keluarganya.

Menurut Sekretaris Lembaga Panswakarsa Rakyat Turatea (L-Pansert), R. Amir Kusbi, limbah medis harusnya tidak berserakan seperti yang terjadi di RSUD Jeneponto.

“Harusnya limbah medis RSUD  tidak dibuang sembarangan. RSUD harusnya memiliki incenerator yang berfungsi sebagai pembakaran sampah medis atau harusnya bekerjasama dengan pihak ketiga untuk menangani limbah ini,” jelas dia, Kamis (26/7).

Bagi dia, setelah dipihak ketigakan, pihak ketiga akan datang ke rumah sakit, kemudian limbah dimasukkan dan dikemas ke kantong plastik kuning sebagai penanda bahwa itu adalah limbah rumah sakit yang berbahaya bagi kesehatan.

“Setelah dikemas, langsung dimasukkan ke kontainer kemudian diangkut ke Makassar dan dikirim ke Surabaya karena disana ada pembakaran limbah medis yang memiliki izin,” jelasnya.

Menurutnya, RSUD Jeneponto juga sebenarnya memiliki incenerator, hanya saja tidak memiliki izin. Padahal dalam Rencana Anggaran Belanja ( RAB) incenerator ini menelan anggaran Rp1,5 miliar dan sudah termasuk izin di dalamnya.

“Dampak bagi masyarakat sangat keras dan dapat menimbulkan penyakit HIV, Hepatitis dan Tyfus. Ini harusnya dapat menjadi perhatian bagi Pemkab Jeneponto. Apalagi dampak negatifnya bagi masyarakat sangat besar,” tambahnya.

Yang lebih miris, Kasi Sarana dan Prasarana, Makirudin, saat ditanya terkait hal tersebut terkesan tak mau ambil pusing terhadap permasalahan limbah medis yang ada di RS milik Pemkab Jeneponto tersebut.

“Kami juga sudah sampaikan ke beliau, tapi jawabannya, biarmi itu (limbah medis) karena itu tonji petugaska yang nabusuki di belakang,” tandas R Amir Kusbi, menirukan gaya bicara Makirudin. (*)


div>