SABTU , 20 OKTOBER 2018

Lira Dituntut Tetap Kritis dan Independen

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Rabu , 16 September 2015 00:34

JAKARTA,RAKYATSULSEL.COM – Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) II Lumbung Informasi Rakyat (Lira) berlangsung meriah di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (15/9).

Acara ini dihadiri para Gubernur, Bupati, dan Wali Kota Lira serta 289 peserta dari berbagai wilayah seluruh Indonesia. Mereka sepakat untuk tetap pro pemerintah, tapi tetap kritis dan independen

“Lira pernah ada di pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tetap menjadi sahabat pemerintahan. Demikian pula saat ini, pemerintahan dijalankan Joko Widodo, maka Lira akan pro pemerintahan, namun tetap kritis dan independen,” terang HM Juzuf Rizal, Presiden Lira dalam sambutannya pada pembukaan Munas II Lira di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (15/9).

Munas Lira yang berlangsung hingga Kamis (17/9) ini, selain merekomendasikan kelahiran Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Perisai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo), rencananya, hari ini, Rabu (16/9), akan diadakan seminar dengan tema meneropong pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) di bidang politik, ekonomi, dan hukum.

“Lira harus berperan dalam pembangunan. Salah satu kontribusinya dengan menggelar seminar ini. Dimana hasilnya akan melahirkan rekomendasi yang akan diberikan kepada pemerintah,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Gubernur Lira Sulsel. Menurutnya, selain kritis konstruktif, Lira harus pada jalurnya sebagai LSM yang independen dan tidak berada dalam kekuasaan politik.

“Lira sendiri sudah mampu melahirkan berbagai Lembaga Sayap Organisasi (LSO) dan ormas Parsindo yang akan dijadikan partai politik. Oleh karena itu, jika ada kader yang ingin aktif di politik, Lira sudah menyediakan wadah itu melalui Parsindo. Jadi Lira harus tetap betul-betul pada koridornya sebagai LSM,” tegas Ryan Latief digadangi-gadang jadi Presiden Lira.

Sementara, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahyo Kumolo, yang membuka secara resmi Munas II Lira dalam pidatonya melihat dua hal utama pada profil Lira.

‚ÄúPertama, mengritisi jalannya pemerintahan secara konstruktif. Kedua, Lira konsisten mengorganisir, konsisten memperjuangkan rakyat, akan mampu berkontribusi membantu pemerintah,” jelasnya.

Mendagri juga berharap Lira tetap kritis dan independen dengan apapun hasil munas dan keterpilihan harus secara demokratis.

Harapan lain Mendagri adalah dengan semangat Pancasila dan Merah Putih Lira harus berani bersikap siapa kawan dan siapa lawan. Baik kepada perorangan maupun kelompok, yang ingin memecah belah negara. Termasuk yang ingin mengubah pembukaan UUD 1945. Tidak hanya itu, sikap berani bersikap siapa kawan dan siapa lawan juga harus ditunjukkan kepada negara-negara yang hendak mengganggu konstitusi negara.

“Banyak negara mengaku sebagai negara tetangga yang bersahabat, tetapi menjadi musuh dalam selimut. Ini harus dilawan dan diperangi,” jelasnya.

Bagi Tjahyo Kumolo sendiri, Lira tidak asing, sebab pada saat deklarasi awalnya diundang hadir. “Tidak terasa sepuluh tahun lalu saya diundang Pak Yusuf Rizal menghadiri deklarasi Lira. Saya melihat Lira selalu konsisten dan teguh dalam menjalankan visi dan misinya, terutama dalam memperjuangkan kepentingan rakyat,” terangnya.

Hadir di dalam munas ini, antara lain Wakil Ketua MUI KH Marsudi Suud, Wakil Ketua MPR Mahyudin, Ketua Bidang Hukum Partai Demokrat Ruhut Sitompul dan artis Nia Daniati.

Seperti diketahui, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lira dibentuk 19 Juni 2005, dengan kepengurusan di 34 propinsi dan 470 kabupaten/kota. Serta menempatkan para pengurus di tingkat provinsi, kabupaten dan kota sebagai gubernur, bupati, dan wali kota. Atas dasar nama kepengurusan yang unik menggunakan sistem pemerintahan dan memiliki jaringan luas hingga kabupaten/kota, akhirnya Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan Rekor LSM dengan kepengurusan layaknya pemerintahan dan memberikan catatan sebagai organisasi atas keberhasilan yang dicapai Lira selama ini.


Tag
  • LIRA Sulsel
  •  
    div>