RABU , 13 DESEMBER 2017

LMPI Sayangkan Sikap Premanisme BNI

Reporter:

Editor:

Sofyan Basri

Minggu , 15 Oktober 2017 18:30
LMPI Sayangkan Sikap Premanisme BNI

Sekretaris Laskar Merah Putih Sulsel, Djaya Jumain. foto: kanto suji/rakyatsulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Laskar Merah Putih Indonesia (LMPI) Sulsel dengan tegas mengecam tindakan kekerasan dan premanisme yang dialami sejumlah aktivis mahasiswa yang hendak menyampaikan aspirasi di Kantor BNI Wilayah VII Makassar, Kamis (12/10) lalu.

Dimana saat itu puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Metro Makassar dan Himpunan Aktivis Mahasiswa (HAM) Sulsel yang hendak melakukan aksi damai langsung dibubarkan paksa dan dipukuli dari sekelompok massa yang sejak awal bersiap di Kantor BNI.

Sekretaris LMPI Sulsel, Djaya Jumain, Minggu (15/10), menjelaskan, kekerasan yang dilakukan sekelompok massa yang bersikap preman itu, tidak dapat dibiarkan dan manajemen Bank BNI harus bertanggung jawab atas kejadian ini.

“Sikap premanisme yang dipertontonkan dan dilakukan kepada adek-adek mahasiswa yang mau menyampaikan aspirasinya di BNI tidak boleh dibiarkan. Ini sama saja dengan pembungkaman terhadap mahasiswa.. Ini harus kita lawan,” terangnya.

Djaya mengatakan, pihaknya meminta kepada aparat kepolisian untuk memproses pelaku penganiayaan terhadap mahasiswa tersebut.

“Pelaku pemukukan dan penganiayaan kepada aktivis mahasiswa harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Sangat jelas kekerasan dan penganiayaan kepada adek-adek mahasiswa, ada video dan rekamannya yang sangat jelas,” tegasnya.

“Ini sangat mencederai pergerakan mahasiswa, dimana ketika hendak menyampaikan aspirasi secara damai justru dibubarkan paksa oleh preman piaraan dan bayaran BNI.

Mahasiswa turun secara damai, karena peduli kepada nasabah yang mengalami pelecehan. Tidak seharusnya aksi ini dibubarkan, karena mengantongi izin. Apalagi, yang bubarkan preman, bukan aparat kepolisian,” tambahnya.

Djaya juga mempertanyakan sikap Bank BNI menyiapkan preman untuk membubarkan aksi mahasiswa.
“Inikah moral bank pelat merah. Beginikah doktrin BNI pusat, Menteri Keuangan, dan Menteri BUMN. Kalau begini, maka hancurlah masyarakat kita. Padahal, bank-bank lain apalagi swasta tidak sampai memperlakukan nasabahnya seperti ini,” jelasnya.

Djaya juga menyoroti sikap Bank BNI dalam memperlakukan nasabahnya. “Seharusnya dibicarakan secara kekeluargaan. Pasalnya, masalah ini pastinya ada sebab akibat, tidak terjadi begitu saja. Bank BNI telah melakukan penagihan secara premanisme. Tidak memperhatikan budaya lokal Siri’ na Pacce,” jelasnya.

Djaya berharap masalah Bank BNI dengan nasabahnya juga diselesaikan secara kekeluargaan.‎ “Kami harap penyelesaian dari BNI pusat. Kalau tidak, maka tidak menutup kemungkinan seluruh nasabah Bank BNI akan mengalami perlakuan serupa. Padahal, ini nasabah patuh, sudah lama (prioritas), cuman karena ada kesalahan kecil kemudian diperlakukan seperti. Hati-hatilah pada seluruh nasabah, jangan sampai di kemudian hari juga melangalami perlakuan serupa,” terangnya.

Sebelumnya, dua kubu massa bentrok di Kantor Bank BNI Wilayah VII Makassar Jl Jenderal Sudirman Makassar, Kamis (12/10) lalu. Peristiwa ini terjadi sekira pukul 11..00 WITA, ketika sekelompok massa yang berjumlah 20-an orang hendak melakukan aksi di depan Kantor Bank BNI, namun belum sempat melakukan aksi mereka langsung dihadang dan dibubarkan sejumlah massa yang telah bersiap.

Dari pantauan di lapangan, sejumlah massa yang hendak melakukan aksi mengalami tindak kekerasan dari massa yang telah bersiap di depan Bank BNI. Sempat terjadi kejar-kejaran hingga terjadi pemukulan. Pada aksi ini ditemukan barang bukti berupa ketapel.

Informasi yang dihimpun aksi demonstrasi yang menggunakan atribut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Metro Makassar dan Himpunan Aktivitas Mahasiswa (HAM) Sulsel ini, rencananya menyampaikan aspirasi terkait adanya nasabah prioritas yang merasa dirugikan. (*)


div>