SENIN , 19 NOVEMBER 2018

LMPI Sulsel Desak Komandan POMAL Sanksi Pelaku Penganiayaan

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Rabu , 19 April 2017 00:30
LMPI Sulsel Desak Komandan POMAL Sanksi Pelaku Penganiayaan

Ketua LMPI Sulsel, Andi Nur Alim. foto: ist for rakyatsulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Markas Daerah Laskar Merah Putih Indonesia (LMPI) Sulsel mengecam sejumlah oknum anggota Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL) Yang melakukan Tindakan pemukulan terhadap Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel Salim Djati Mamma di Warkop 75, Jl Satando, Makassar, Selasa (18/4).

Ketua LMPI Sulsel, Andi Nur Alim, mengatakan, insiden kekerasan yang dipertontonkan oknum militer adalah perbuatan yang melanggar kode etik dalam internal militer itu sendiri.

“Seharusnya insiden ini tidak terjadi hanya karena persoalan parkiran. Apalagi, Salim Mamma berniat untuk memindahkan mobilnya, karena pada dasarnya memang dilarang untuk parkir di sembarangan tempat, sehingga perlu dikomunikasikan secara baik-baik,” jelasnya.

Nur Alim mendesak secara institusi Komandan POMAL segera mengambil tindakan tegas dengan memberikan sanksi kepada anggotanya yang telah melakukan penganiayaan terhadap warga sipil dan meminta maaf kepada korban atas kesalahan kecil yang menimbulkan dampak yang besar.

Sebelumnya, Salim Djati Mamma, mengalami tindak kekerasan dari sejumlah oknum anggota POMAL Makassar di Warung Kopi (Warkop) 75 Jl Satando Makassar, sekira pukul 12.30 WITA, Selasa (18/4).

Kejadian bermula saat Salim dan beberapa rekannya sedang menikmati kopi di Warkop 75. Tiba-tiba datang puluhan anggota POMAL dan melarang pengunjung warkop parkir di sepanjang Jl Satando.

Salim pun keluar dari warkop untuk memindahkan mobilnya dan melihat oknum anggota POMAL akan mengempeskan ban mobilnya. Salim meminta kepada anggota POMAL agar jangan dikempeskan karena akan memindahkan mobil tersebut.

[NEXT-RASUL]

Rupanya anggota POMAL tidak terima dan terjadi adu mulut. Salim bahkan akan dibawa ke markas POMAL yang tidak jauh dari Warkop 75. Namun, pengunjung warkop lainnya melarang dan membawa Salim masuk ke warkop.

Oknum POMAL lalu melakukan serangan dengan mengeroyok Salim di pelataran warkop tersebut. Ia mengalami luka memar dan lecet di bagian wajahnya serta bajunya koyak/robek. Bahkan saksi mata mengatakan bahwa Salim sempat pingsan saat dikeroyok.

Salim yang merupakan Direktur Utama Koran Pedoman Makassar mengakui, ia mendapatkan perlakuan kasar itu secara tiba-tiba.

“Saat itu saya di dalam warkop tiba-tiba saya lihat di luar ada yang mau mengempaskan mobil, saya keluar dan mengatakan jangan dikempeskan biarlah saya pindahkan. Wajarlah saya minta jangan dikempeskan karena apa yang saya gunakan kalau kempes. Tiba-tiba oknum tersebut marah dan membentak lalu membenturkan kepala ke kepala saya. Secara spontan rekan-rekan lainnya datang mengeroyok,” aku mantan Direktur Utama Harian Ujungpangdang Ekspres ini.

Salim mengatakan, perlakuan oknum POMAL tersebut sudah sangat kelewatan.
“Saya diperlakukan seperti binatang, setelah dipukul saya lalu diseret. Untungnya saya pingsan, jadi saya selamat dan mereka berhenti memukuli saya,” jelasnya.

“Seandainya saya sendiri mungkin mengada-ada, tetapi banyak saksi dan ada korban lain,” tamba adik mantan Wakapolda Sulsel Syahrul Mamma ini.

Selain Salim Djati Mamma, korban lainnya adalah salah seorang pengusaha, H Said. Korban juga mengalami luka-luka di wajah dan badannya.

“Iya, bapak juga mengalami penganiayaan dari oknum POMAL. Saat itu bapak juga ada di lokasi. Tindakan seperti ini tidak dapat dibiarkan. Pelakunya harus diberikan sanksi,” terang Sahruddin Said, anggota DPRD Makassar, yang juga putra H Said. (***)


div>