JUMAT , 20 JULI 2018

Longsor, Dua Lembang di Makale Selatan Terisolir

Reporter:

Editor:

hur

Jumat , 05 Februari 2016 17:21
Longsor, Dua Lembang di Makale Selatan Terisolir

Kapolres Tana Toraja AKBP HY Arief Satrio, SIK saat meninjau lokasi longsor di Lembang Buntu Sisong, Jumat (5-2). (Foto: Jaya/RakyatSulsel)

TANA TORAJA, RAKYATSULSEL.COM – Hujan deras yang mengguyur wilayah kabupaten Tana Toraja dalam sepekan terakhir, menyebabkan akses jalan penghubung dua Lembang (desa) di kecamatan Makale Selatan terputus. Akibat longsor tersebut, aktivitas seluruh warga di Lembang Pa’buaran dan Lembang Buntu Sisong terganggu lantaran tidak ada jalan alternatif menuju kota Makale, ibukota kabupaten Tana Toraja.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tana Toraja, Marthen Tallu mengatakan jika tanah longsor yang menutupi ruas jalan itu terjadi Rabu lalu.

Dikatakan, ribuan warga Lembang Pa’buaran dan Lembang Buntu Sisong, saat ini terisolir akibat longsor yang menimbun badan jalan sepanjang 20 meter. Warga di dua Lembang itu yang akan menuju kota Makale atau sebaliknya, harus berjalan kaki melewati badan jalan yang tertimbun material longsor karena tidak bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat. Warga setempat pun sulit menyingkirkan material longsor dari badan jalan karena menggunakan peralatan seadanya.

BPBD Tana Toraja pun sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) setempat untuk mengerahkan alat berat ke lokasi longsor guna menormalkan kembali akses transportasi agar masyarakat di dua desa yang ada di kecamatan Makale Selatan tidak terlalu lama terisolir. Pasalnya, tanpa bantuan alat berat, material longsor berupa tanah, bebatuan besar dan batang pohon sulit disingkirkan.

Kepala Lembang Buntu Sisong, Tato Soben, yang dikonfirmasi mengatakan sedikitnya terdapat lima titik longsor yang ada di kecamatan Makale Selatan. Tiga titik longsor terjadi di wilayah Lembang Buntu Sisong, satu titik longsor di Lembang Pa’buaran dan satu titik longsor lagi di wilayah Lembang Patekke.

Titik longsor terparah berada di Lembang Buntu Sisong yang menyebabkan akses jalan penghubung Lembang Pa’buaran dan Lembang Buntu Sisong putus total. Akibat bencana tanah longsor itu, warga Lembang Buntu Sisong mulai kesulitan memperoleh kebutuhan pokok karena kendaraan yang mengangkut bahan pokok ke Lembang Buntu Sisong tertahan di ruas jalan yang tertutup longsor.

ÔÇťAkibat tanah longsor tersebut harga bahan pokok di Lembang Pa’buaran dan Lembang Buntu Sisong melonjak, seperti beras yang sebelumnya hanya Rp 9.000 per kilo kini naik menjadi Rp 13.000,” jelas Tato. Untuk itu dirinya berharap Pemerintah Daerah untuk segera menangani longsor tersebut.


div>