SELASA , 12 DESEMBER 2017

Luka Masa Lalu

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 06 Oktober 2017 10:43
Luka Masa Lalu

Arifuddin Saeni

Kita memang tidak pernah tahu, tentang apa yang akan terjadi di masa datang. Ia datang dengan sejuta cerita yang mungkin indah, tapi juga bisa pahit. Entah kita berada pada labirin gelap dan tak berujung, atau bisa saja kita berada pada suatu masa, dimana masa lalu adalah luka. Tapi, bisakah kita saling memaafkan, antara aku, kamu dan juga yang lainnya.

Tapi cerita memang kadang sulit mempersatukan pada rasa yang berbeda. Sebab, luka itu memang kita mempersepsikan pada sudut yang lain, bahwa apa yang terjadi di masa lalu itu, adalah luka yang disengaja, tapi pada sisi yang lain, mungkin dinilai kalau ini adalah pelurusan ideologi. Sebab, ideologi kadang tak memiliki tempat, karena ia melahirkan justa.

Tapi ideologi apa yang tak meneteskan darah. Di Amerika, ketika demokrasi mulai dibangun, bukankah darah juga tumpah ruah. Sementara di ujung timur sana, Irak,  juga tak habis-habisnya membantai suku Kurdi, merengsek hingga ke lereng-lereng perbukitan. Dan kita memang tak permah jengah dengan yang namanya luka masa lalu. Dan di sana, dendam tak kan pernah selesai.

Kalau belakangan kemudian, luka masa lalu kembali dikorek lagi, kita tidak tahu, untuk apa itu semua. Apakah kita harus berdebat di depan publik tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, tentang siapa yang memulai dan siapa yang menumpas. Toh, mereka punya alasan masing-masing, bahwa luka itu memang disengaja diiris, agar menjadi pelajaran. Entahlah.

Tapi ‘gugatan’ memang tak henti. Sebab, ada masa ketika mereka bicara soal penumpasan dan pembunuhan, publik mau mendengar. Sementara di sisi yang lain, mereka yang mencoba meluruskan yang namanya ideologi merah menjadi tersalahkan. Ada keberingasan. Di situ, ada ledakan masyarakat yang penuh dengan tension dan friction, penuh ketegangan dan syak wasangka.

Dan sejarah memang kadang harus diceritakan kembali kepada anak cucu kita, bahwa lumuran darah yang pernah terjadi di masa lalu, bukan hanya pertarungan politik semata, ataukah pelibatatan dua kekuatan antara kekuatan politik sipil ideologis dan kekuatan politik angkatan bersenjata, dengan kepentingan masing-masing. Dan pertarungan inilah kemudian yang melahirkan sejarah hitam di negeri ini.

Tapi saya agak takut dengan apa yang dikatakan oleh George Santayana, seorang filsuf dari Spanyol-Amerika, 1863-1952, ‘mereka yang tidak mengambil pelajaran dari sejarah, maka mereka ditakdirkan untuk mengulanginya’.

Dan barangkali benar apa yang dikatakan oleh Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, bahwa pemutaran film pemberontakan G30S/PKI, selain menjadi pelajaran dan pengingat, juga agar generasi milenial tahu, bahwa ada peristiwa hitam di masa lalu yang mencoba mengubah negara ini menjadi negara komunis, juga pembantaian terhadap rakyat dan para jenderal. (***)


div>