RABU , 12 DESEMBER 2018

MABBENNO

Reporter:

get_the_user_login

Editor:

Lukman

Jumat , 03 Agustus 2018 13:57
MABBENNO

M Saleh Mude

SAYA jadi teringat ketika masih di kampung halaman, ada tradisi mabbeno. Mabbenno adalah salah satu ajang (tempat) berkumpul yang asyik bagi anak-anak di era tahun 1980-an. Saya belum menemukan kata yang pas untuk kata “mabbenno” di dalam kamus bahasa Indonesia. Mabbenno dekat dengan kata menggoreng atau mengaduk biji jagung (kacang tanah) di tumpukan bara api hasil pembakaran ampas/kulit gabah, ampekka atau kotoran kuda dan sapi yang sudah kering.

Material/bahan utama untuk membikin tempat mabbenno (abbennoreng) adalah kulit gabah (ampekka), setengah karung pun sudah cukup, dihamparkan di tanah bebas lalu ditata seperti gunung kecil seukuran 50-100 meter persegi, kemudian dibakar. Setelah separuh atau seluruhnya terbakar, kadang memerlukan waktu 3-5 jam menunggu hingga terbakar merata, bagaikan gunung merapi kecil, tergantung kekuatan tiupan angingnya. Setelah terbakar, acara mabbeno sudah bisa dimulai.

Modal utama yang dibawa pergi mabbenno adalah jagung. Jagung yang setengah kering atau sudah kering. Yang kering hasilnya bagus, ketika di-benno (diaduk) memakai kayu kecil seukuran sumpit makan mie (diaduk ditumpukan bara abu api), meletup-letup dan mirip pop corn yang kini bisa dinikmati sebelum masuk menonton film di bioskop-bioskop XXI. Material lain, sedikit lebih elit dan mahal adalah kacang tanah.

Acara mabbenno kadang menjadi ramai dan antri pengunjungnya. Peserta asing, yang bukan saudara, tetangga atau teman, kadang dikenakan bea atau pajak (tampa), sebagian jagung pendatang dibagi ke pemilik abbenoreng, bayar pajak (ipattampai).

Tradisi mabbeno ini asyik ketika itu karena melahirkan komunitas kecil, tempat berkumpul keluarga, teman, dan tetangga, dan semua umur boleh ikut, gaya dan pakaian bebas.

Perputaran waktu dan kemajuan teknologi mengakibatkan acara mabbenno digeser oleh alat tekonlogi. Sebelum hadir mesin pop corn, orang dari kampung seperti saya mengenal mesin penggoreng jagung yang biasanya hanya ditemukan di pasar tradisional. Jagung pun sudah disiapkan, tinggal pesan dan bayar, se per empat liter misalnya, ditunggu beberapa menit, pop corn buatan mesin pasar dalam jumlah banyak, cukup untuk 5 orang sudah bisa dibawa pulang. Kalau tidak salah disebut mappaleppo atau mappabettu.

Kini kebiasan tradisional seperti itu telah tiada. Tinggal kenangan. Anak-anak jaman now, tidak perlu lagi mencari ampas gabah atau kotoran kuda, karena memang sudah susah ditemukan di tengah kota. Pabrik gabah sudah bergeser ke pinggiran kota, melindungi masyarakat dari polusi, dan memelihara kuda tidak banyak lagi. Tenaga kuda yang dulu dipakai mengangkut gabah dari sawah masuk kampung, kini telah digantikan oleh motor yang telah dimodifikasi khusus, disebut taksi gabah atau truk. Jalanan sampai ke sawah memang sudah terjangkau oleh kendaraan umum.

Orang-orang sekarang ketika antri beli tiket untuk nonton film, pop corn rasa keju sedikit asin sudah siap menemaninya menonton. Zaman terus berubah, model permainan dan ajang kumpul anak-anak pun berubah ke media sosial.

Mengenang kebiasaan mabbenno bersama di masa kecil tetap indah dan mengesankan. Tulisan ini terinspirasi dari grup whatsapp Alumni SMPN2 Pangsid, Sidrap, Sulsel. (**)

M Saleh Mude
Tanah Abang, 1 Agustus 2018


div>