MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Mahasiswa Mengamuk di Kantornya, Camat Panakkukang Justru Ngopi

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Selasa , 05 April 2016 16:43
Mahasiswa Mengamuk di Kantornya, Camat Panakkukang Justru Ngopi

Mahasiswa menyegel Kantor Camat Panakukan Jl Batua Raya Makassar, Selasa (5/4). foto: suryadi maswatu/rakyat sulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sekelompok makasiswa yang mengatasnamakan mahasiswa lintas kampus Kota Makassar mengepung dan mengamuk di Kantor Camat Panakukan Jl Batua Raya Makassar, Selasa (5/4).

Insiden berujung bentrok antara mahasiswa vs pegawai Kecamatan Panakukang tersebut diduga kuat karena pihak kecamatan tebang pilih dalam menertibkan Pedagang Kaki Lima (PK5) di Kawasan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AMKOP, Jl Meranti yang merupakan lokasi Fasilitas Sosial (Fasos) dan Fasilitas Sosial (Fasum).

Dalam keteranganya, Koordinator Aksi, Didit Abdul Hadi, mengatakan, pihaknya menuntut Pemkot Makassar untuk tidak diskriminatif jika ingin menertibkan PK5.

“Menurut kami penertiban ini, sangat diskriminatif. Dimana pedagang kecil, seperti PK5 di usir dan dilokalisir, semertara ada beberapa warung dan warkop bahkan restoran dibiarkan melakukang bisnisnya,” terang Didit.

Pihaknya menilai, penertiban sangat kental tebang pilih. “Ini memang kental tebang pilih, PK5 diusir dan Warung Kopi (Warkop) dan warung dibiarkan, ini sangat tidak wajar,” jelasnya.

Sementara, Camat Panakkukang, Imran Mansyur, yang dikonfirmasi, mengatakan, saat mahasiswa gelar aksi dan memboikot Kantor Camat dirinya sementara berada di Rumah pribadi Wali Kota Makassar di Jl Amirullah. Mengikuti sosialisasi kesehatan.

“Saat mahasiswa demo, saya ngopi di luar kediaman pribadi Walikota Jl Amirullah, bertepatan acara gerak PKK-KB-Kesehatan tingkat nasional,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui via telepon.

Lebih lanjut dijelaskan, perihal demo mahasiswa, lantaran menolak lokalisasi PK5 yang berjualan di sepanjang Jl STIE AMKOP. Padahal, pihaknya (kecamatan) dan pemkot sudah menyediakan lahan khusus untuk PK5 berjualan tak jauh dari lokasi tersebut.

“Ini saya mau jelaskan, sebenarnya kami dari kecamatan dan pemkot sudah meyediakan lahan/lokasi khusus untuk PK5 berjualan. Tapi mahasiswa tetap menolak dengan alasan mau berjualan di tempat,” ujarnya. (***)


div>