MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Mahasiswa Ngaku “Dipaksa” Kost di RSUD Bantaeng

Reporter:

Jejeth

Editor:

Lukman

Kamis , 26 April 2018 19:40
Mahasiswa Ngaku “Dipaksa” Kost di RSUD Bantaeng

RSUD Bantaeng

BANTAENG, RAKYATSULSEL.COM – Sejak dua bulan yang lalu Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bantaeng membuka kost – kostan untuk mahasiswa Praktek Kerja Lapangan (PKL), pengusaha kost di sekitar RSUD pun sudah mulai mengeluh.

Alasannya, banyak anak PKL yang rencananya akan kost yang datang untuk memesan tempat bahkan telah membayar uang muka harus angkat kaki. Karena kebijakan Sekretaris Diklat RSUD, Zaenal Abidin yang mengharuskan mahasiswa PKL untuk kost di RSUD.

Hj. Ani, pengusaha kost yang bertempat di Jalan Mawar Kampung Borong Kalukua, Kecamatan Bantaeng, mengaku selama dua bulan terakhir tidak pernah lagi menerima anak kost.

“Sangat kecewa, mahasiswa PKL yang telah menyimpan barangnya di kostnya harus angkat kaki karena kebijakan pak Zaenal Abidin. Pernah barangnya sudah di dalam kost tapi ditelpon sama pak Zaenal katanya kalau tidak kost di rumah sakit katanya nilainya akan terancam,” jelasnya.

Ia juga harus menanggung beban kost yang ia dirikan dengan menggunakan pinjaman dari bank. Sepuluh hari yang lalu ada mahasiswa PKL yang ingin kost tapi malah harus mengurungkan niat dengan alasan nilainya akan terancam.

“Kami buat kostan dengan modal uang bank, kemudian kalau kami tidak ada yang kost kami mau bayar uang bank pakai apa?. Sepuluh hari yang lalu ada anak PKL 23 orang 18 cewek dan 6 cowok yang mau kost, tapi ditelfon sama pak Zaenal alasannya akan terancam nilainya kalau tidak kost di RSUD, akhirnya hanya yang cowok tinggal disini. Padahal kost saya itu Rp 250 ribu sedangkan RSUD Rp 300 ribu,” ungkapnya.

Salah satu mahasiswa PKL, Astri Wulandari juga membenarkan hal tersebut. Ia harus kost di RSUD dengan alasan nilai yang akan terancam. “Iye, nabilang dosenku sudahmi bede rapat dengan pak Zaenal jadi haruska kost di rumah sakit,” tutupnya. (*)


div>