SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Mahasiswa UNM Teliti Pemanfaatan Kelong Royong Untuk Terapi Cacar

Reporter:

Editor:

Lukman

Minggu , 22 Juli 2018 21:00
Mahasiswa UNM Teliti Pemanfaatan Kelong Royong Untuk Terapi Cacar

Tim mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNM akan melakukan penelitian selama empat bulan di Desa Biringbulu, Kabupaten Gowa.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Masyarakat Makassar memiliki beragam kekayaan budaya. Kelong Royong adalah salah satu yang masih terpelihara hingga saat ini.

Di pedesaan, kelong royong bahkan digunakan sebagai terapi penyembuhan penyakit cacar. Masyarakat meyakini akan khasiatnya bagi penderita cacar meski perkembangan ilmu kesehatan telah memiliki perkembangan pesat. Fenomena ini menginspirasi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk menelitinya.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH), tim yang terdiri atas Fitriani, Fitriana, dan Nur Maulidina berhasil memenangkan hibah Ristekdikti 2018.

Usulan penelitian mereka dengan judul “Makna Lirik Kelong Royong dan Pemanfaatannya sebagai Terapi Penyembuhan Penyakit Cacar di Masyarakat Makassar” memperoleh pendanaan dan telah menyajikan laporan awal dihadapan Tim Pemonev Ristekdikti. Dalam penyajiannya, tim ini berhasil menarik perhatian Tim Pemonev yang menilai penelitian ini sebagai penelitian yang unik.

Tim mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini melakukan penelitian selama empat bulan di Desa Biringbulu, Kabupaten Gowa. Mereka berhasil mengumpulkan data dari informan yang terdiri pa’royong, penderita, warga masyarakat, kepala desa, dan tokoh masyarakat.

“Kelong royong yang digunakan untuk terapi penyembuhan cacar itu sebetulnya bermakma doa. Permohonan kepada Allah agar diberi kensembuhan penyakit,” kata Ketua Tim Peneliti, Fitriani.

Lebih lanjut, Fitriani menguraikan prosesi penyembuhan penyakit cacar dengan kelong royong ini dapat dibagi dalam fase sebelum, selama, dan setelah prosesi. Tim peneliti juga berhasil mengindentikasi perlengkapan prosesi maroyong untuk penderita cacar. “Ini tradisi yang diyakini masyarakat secara turun-temurun,” jelasnya. Masyarakat Biring Bulu pun meyakini dan memanfaatkan royong sebagai terapi penyembuhan.

Dosen pendamping, Dr. Sultan, M. Pd. mengemukakan bahwa kekuatan penelitian PKM-PSH ini terletak pada keunikan ide. “Mahasiswa ini jeli dalam melihat satu tradisi yang berkembang di masyarakat. Royong yang digunakan menyembuhkan penyakit cacar, ini kan menarik,” katanya.

Penelitian yang dilakukan mahasiswa UNM ini memberi makna tentang fenomena kultural di masyarakat. Banyak kearifan budaya dalam masyarakat, termasuk yang terkait dengan medis. Melalui penelitian seperti ini dapat membantu mengenalkannya kepada masyarakat, utamanya generasi muda. (*)


div>