RABU , 14 NOVEMBER 2018

Makassar Adalah Rumah Kita

Reporter:

Editor:

Iskanto

Jumat , 09 November 2018 11:45
Makassar Adalah Rumah Kita

Henni Handayani

SEJATINYA rumah, Makassar menjadi tempat pulang yang selalu dirindukan oleh para petarung hidup yang besar dan lahir di kota ini. Merebahkan peluh dan bercengkrama dengan kenangan masa kecil

Saya pun lahir, besar dan bersekolah di kota ini. Menyaksikan dan merasakan denyut nadi perubahan yang terjadi di tiap sudutnya. Dulu, jika weekend tiba jalan jalan ke pantai Losari menjadi sangat istimewa. Makan pisang epe diiringi alunan gitar pemusik jalanan dan desir angin sepoi sepoi. Wah ini surga dunia!

Beda lagi kalau menjelang hari Lebaran, senang sekali rasanya jika Ibu mengajak berbelanja baju baru di pasar Sentral. Meski harus berjuang naik pete pete berdesak- desakan dan kepala sedikit puyeng (haha maklum waktu kecil saya hobi mabuk sampai muntah jika naik mobil). Jadilah kantong kresek wajib dibawa serta

Hingga saya dewasa dan mulai ngampus disalah satu kampus swasta di Makassar. Perlahan saya menyaksikan percepatan pembangunan di kota ini. Jalan jalan yang dulunya sempit. Kini makin lebar. Kendaraan makin banyak. Sebab rata rata kepala keluarga sudah memiliki kendaraan pribadi, minimal sepeda motor. Macet dimana mana, tapi inilah tanda bahwa Makassar sedang bangkit. Denyut nadi perekonomiannya makin menggaung. Daya beli masyarakat ikut naik.

Kini, di usia ke 411 saya berharap Makassar menjadi rumah yang tetap hangat. Orang orangnya ramah ‘sipakalebbi, sipakatau, sipakainge’. Saling menguatkan satu sama lain ‘sipatokkong, sipakatutui’.

Sebab bukankah peradaban yang paling kuat dan abadi dibangun oleh sendi sendi kebudayaan. Filsafat hidup orang Makassar “Punna tena siriknu, paccenu seng paknia” (kalau tidak ada siri’mu, paccelah yang kau pegang teguh). Menjadi warga kota yang peka dan jangan mau menang sendiri.

Jalan yang luas harus diikuti oleh pikiran yang terbuka. Gedung yang tinggi harus diikuti oleh kepedulian yang tinggi juga.

Makassar hari ini tak boleh sekedar Smart dan Sombere. Tapi Makassar hari ini harus menjadi kota yang memanusiakan warganya. Rumah yang selalu dirindukan. Hangat serta menyenangkan. Dirgahayu ke 411 Makassarku tercinta.

Henni Handayani
Makassar, 9 November 2018


div>