SABTU , 15 DESEMBER 2018

Makassar Jadi Percontohan Waste To Energy

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Senin , 23 April 2018 10:13
Makassar Jadi Percontohan Waste To Energy

Walikota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto, Wakil Walikota Makassar, Syamsu Rizal foto bersama dengan pejabat lingkup Pemkot Makassar beserta pegawai honorer. (ist)

* 2,5 Hektare Lahan Sudah Dibebaskan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dibawah kepemimpinan Moh Ramdhan Pomanto dan Syamsu Rizal kembali mengharumkan nama Makassar. Makassar dinobatkan menjadi kota percontohan proyek Waste To Energy yakni sampah menjadi energy di Indonesia.

Direktur Bank Sampah Pusat, Sahar Ridwan mengatakan, pemerintah Korea memilih dua kota di Indonesia untuk proyek waste to energy, dan Pemkot Makassar siap menjadi percontohan proyek waste to energy, bersama Kota Palembang.

“Persiapan itukan soal lahan, master plan dan syarat sampah harus 1.000 ton perhari, dan ini kita sudah siap semua,” ungkap Sahar, Minggu (22/4) kemarin.

Ia menjelaskan, saat ini lahan untuk proyek waste to energy di Makassar telah dibebaskan sekira 2,5 hektar dari total 10 hektar. Kemudian master plan sudah siap dan pemerintah negara Korea bakal membantu previsibility studi yakni pemilihan teknologi yang cocok digunakan.

Selain itu, kata Sahar, Pemkot akan membuat kepanitiaan tentang pembangunan PLTS, kedepan akan dikompetisikan baik BUMN ataupun BUMD yang bermitra dengan investor.

“Besok hari ini, kita rapat (dengan pemerintah Korea) sebelum mereka lakukan visibility studi untuk perencanaan PLTS nanti,” ucap Sahar.

Previsibility studi ini, kata Sahar, nantinya akan memberikan rekomendasi berupa catatan tentang teknologi apa yang baik digunakan di Kota Makassar, jika teknologi sudah ada maka Pemkot menyodorkan kepada investor.

“Berdasarkan peppres nomor 35 dikatakan ada dua, tender investasi boleh dan setalah ada hasil visibility studi, nanti dilihat bahwa teknologi ini yang cocok dengan makassar, investor ini akan di kompetisikan, dari 10 yang mendaftar nanti menjadi 3 besar dan pemenangnya akan dikunjungi negaranya,” jelas Sahar

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan Kementrian LHK, Ujang Solihin Sidik mengatakan, Kota Makassar sebagai salah satu kota besar di Indonesia dalam pengelolan sampah sudah baik dan menjadi percontohan beberapa kota lain.

Penggunaan teknologi di TPA sudah sangat tepat mengingat usia dari TPA memiliki batas sehingga dengan adanya teknologi waste to energy langkah tepat memilih Makassar.

“Soal pilihan teknologi diserahkan oleh pemkot, dan Makassar ditunjuk dalam perpres merealisasikan waste to energy, jika sudah terbit maka pemerintah pusat harus membantu,” kata Ujang.

Lanjut Ujang, dalam konsep Waste to energy ini, pemkot akan bersinergi dengan pihak swasta, pihak swasta yang akan membantu pembangunan fisik dengan pengelolaan sistem kontrak.

“Mekanimenya itu swasta yang membangun dan pemkot akan memberikan kontrak kepada swasta misalnya 30 tahun, pemkot tinggal membayar apa yang disebut typing fee,” ucap Ujang. (*)


div>