• Jumat, 01 Agustus 2014
Iklan | Privacy Policy | Redaksi | Citizen Report

Makin Brutal, Geng Motor Harus Dibuat Jera

Sabtu , 11 Mei 2013 14:12
Total Pembaca : 257 Views
AKSI POLISI TIDUR. Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Koalisi Lembaga Jurnalis Makassar (AJI, PWI, IJTI, PFI, dan PJI), menutup mulutnya saat berunjuk rasa di sebuah polisi tidur, Jl Nikel, Jumat (10/5). Para jurnalis meminta agar Polda Sulselbar tidak tinggal diam dan segera mengusut serta menangkap geng motor yang melakukan penikaman terhadap wartawan Trans TV Muhammad Ardiansyah saat melakukan peliputan pada Kamis (9/5) dini hari. (Foto : ASEP/RAKYAT SULSEL)

Baca juga

Beberapa waktu terakhir, aksi kekerasan sangat marak terjadi di Kota Makassar. Aksi yang diduga kuat dilakukan oleh geng motor ini juga tidak mengenal korban. Hampir semua kalangan sudah merasakan kebrutalan mereka. Tidak terkecuali para pekerja media. Terbaru, salah seorang wartawan media televisi mendapatkan luka tusuk dari orang tidak dikenal yang diduga merupakan anggota geng motor.

Sayangnya, aksi kekerasan yang terjadi sepertinya tidak mendapatkan perhatian serius dari aparat kepolisian. Buktinya, kejadian yang bukan pertama kalinya ini terus terulang, tanpa pernah diusut secara tuntas. Maka, tidak mengherankan jika sejumlah pihak menggelar aksi untuk mendorong agar kepolisian bisa bertindak tegas.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sulsel, Ana Rusli mengungkapkan kejadian seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Karena itu ia menyesalkan dan mengecam tindak kekerasan yang dilakukan geng motor. Ia juga beraharap agar pihak kepolisian dapat bertindak tegas untuk memberi jaminan keamanan tidak hanya bagi para pekerja media tetapi bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Tentunya kita sesalkan dan mengecam kekerasan yang dilakukan geng motor ini. Apalagi korbannya kembali menimpa seorang jurnalis. Hal ini jelas menimbulkan kesan bahwa Makassar kini dalam keadaan tidak aman,”terangnya.

Sementara itu, Pengamat Kepolisian Universitas 45, Marwan Mas menilai terjadinya aksi kekerasan secara berulang-ulang ini disebabkan karena tidak adanya tindakan tegas yang bisa memberikan efek jera kepada para pelakunya. “Pelaku pelanggaran hukum terhadap pers ini tidak pernah diberikan hukuman yang setimpal, akibatnya mereka terus mengulangi perbuatannya,” ujarnya. (M1-RS4/eui)