Sayang: Tuntaskan Pembangunan Sulsel ..."> Makna Filosofi “Perang” Tagline di Pilgub Sulsel | Rakyat Sulsel
  • Sabtu, 25 Oktober 2014
Iklan | Epaper | Redaksi | Citizen Report

Makna Filosofi “Perang” Tagline di Pilgub Sulsel

Senin , 23 Juli 2012 10:00
Total Pembaca : 849 Views

Baca juga

Sayang: Tuntaskan Pembangunan Sulsel

IA: Semangat Baru

Garuda’Na: Dinamis Dan Optimisme

 

RAKYAT SULSEL . MAKASSAR – Tak kenal maka tak sayang. Kalimat ini, tentu menjadi sangat penting di tengah riunya persaingan kandidat menuju Pilgub Sulsel 2013.

Tiga kandidat; Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang (Sayang), Ilham Arief Sirajuddin-Aziz Qahhar Mudzakkar (IA), dan Andi Rudiyanto Asapa-Andi Nawir (Garuda’Na) berlomba-lomba menawarkan pesan yang dibungkus lewat tagline ke tengah masyarakat.

Dengan pesan yang singkat, tagline ini jitu menghipnotis. Selain, membangkitkan semangat kepada masyarakat. Dengan tagline, kandidat tidak perlu lagi bicara panjang lebar karena tagline sudah mewakilinya dengan baik. Bahkan, dengan tagline menjadikan kampanye lebih menarik.  Tapi, yang perlu diingat bahwa tagline merupakan janji alias utang kepada rakyat pemilih, jangan mengingkari janji tersebut.

Pengamat politik Firdaus Muhammad mengingatkan, tagline begitu penting untuk sosialisasi dan pencitraan diri kandidat. Namun, dari semua itu, tagline bukan jaminan meningkatkan popularitas dan elektabilitas kandidat.

Guna mencapai tujuan pesan tagline meningkatkan popularitas dan elektabiltas, kandidat harus memperlihatkan program-program yang konkret agar meraih simpati dari masyarakat. “Tagline itu seperti janji, maka jangan diingkari,” ucapnya saat berdiskusi dengan Rakyat Sulsel, Minggu (22/7).

Seorang maupun pasangan kandidat, lanjut Firdaus, tak ubahnya sebuah produk. Lihat saja, berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk memproduksi iklan di layar kaca. Begitu juga dengan beragam materi promosi yang ada, mulai dari penciptaan identitas untuk kandidat, nama, slogan,logo, poster, flyer, banner, baliho, dan lainnya.

Firdaus melihat pola branding yang ada sampai saat ini lebih pada menggunakan pola satu arah. Kandidat di satu pihak dengan ikonnya masing-masing dan masyarakat di pihak lain.

“Sudah waktunya kandidat melakukan branding dua arah. Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk ikut terlibat langsung,” ujarnya, mengingatkan.

Bagaimana penting sebuah tagline bagi para kandidat di Pilgub? Kandidat incumbent, Syahrul Yasin Limpo misalnya, membedakan kalimat ‘Don’t Stop Komandan’ dengan “Tuntaskan Pembangunan di Sulawesi Selatan’. Kalimat Don’t Stop Komandan di matanya, bukanlah tagline politiknya. Yang menjadi tagline politiknya adalah Tuntaskan Pembangunan di Sulawesi Selatan.

“Itu bukan tagline politik saya,” kata Syahrul, Minggu (22/7) menanggapi tagline miliknya kepada Rakyat Sulsel.

Tetapi, timpal SYL, kalimat tersebut baginya mengandung makna filosofi yang dalam. Kata Don’t Stop mengandung arti jangan berhenti dan jangan menyerah. Jangan berhenti untuk berkarya, mencetak prestasi, bekerja keras, dan jangan berhenti untuk kesejahteraan rakyat.

“Don’t Stop itu juga mengandung arti never give up, artinya jangan menyerah. Tapi, bukan berarti kalau ada tembok di depan lalu ditabrak. Yang harus dilakukan adalah lompati dan taklukkan. Memecahkan tantangan dengan cara-cara yang cerdas,” jelasnya.

Sedangkan, kata Sayang Jilid II, merupakan singkatan dari namanya Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang. Dimana, keduanya kembali berpasangan pada Pilgub 2013 mendatang. Menurutnya, hal tersebut membuktikan jika ia dan Agus memiliki komitmen yang kuat dalam memajukan Sulsel sejak pilgub tahun 2007 lalu.

“Di seluruh Indonesia, hanya 6 persen kepala daerah yang utuh dengan wakilnya dan kembali berpasangan pada periode berikutnya,” ujarnya.

Namun, kata Sayang, menurut Syahrul, juga bisa dimaknai sebagai rasa Sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya. “Siapa yang sayang pada orangtuanya, tentunya orangtuanya akan sayang padanya. Pemerintah yang sayang pada rakyatnya, tentunya rakyatnya akan sayang padanya. Jadi, memang Sayang itu dibutuhkan dalam kehidupan kita,” urainya.

Ketika ditanya siapa yang pertama kali mencetuskan kalimat Don’t Stop Komandan dan Sayang Jilid II, Syahrul enggan untuk membeberkannya. “Itulah kalau kita punya banyak teman, sahabat, dan saudara,” katanya, seraya tersenyum.

Gubernur Sulsel itu juga membeberkan strateginya untuk memenangkan pilkada mendatang untuk periode berikutnya. Antara lain, memupuk kepercayaan rakyat, memperkuat visi seperti apa Sulsel ke depannya dan mengkomunikasikannya ke masyarakat.

“Ciri kampanye SYL adalah gerakan berkarakter, menunjukkan kompetensi, tidak menghina atau memfitnah kandidat lain, prestasi menjadi sandaran utama, dan menggunakan nama besar masyarakat yang ada di pedesaan, misalnya kelompok tani dan bukan tokoh besar nasional,” jelasnya.

Lalu bagaimana dengan tagline pasangan nasionalis-religius, IA? TIm media dan komunikasi IA, Syamsu Rizal mengatakan, IA itu diakronimkan Insya Allah sebagai simbol berserah diri kepada Allah SWT setelah melaksanakan ikhtiar dengan segenap daya upaya.

IA juga, kata pria yang akrab disapa Ical ini, bisa bermakna 1 (satu) atau angka pertama dan A sebagai abjad pertama, memiliki makna keutamaan atau pertama. “I dan A bermakna pertama sebagai simbol pasangan ini adalah pasangan komplimenter. Bukan atasan bawahan, bukan sekadar kosong satu dan kosong dua, tapi lebih pada pasangan saling melengkapi dan saling mengisi dengan keahlian dan kekuatan masing-masing untuk kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

Begitu juga pada pemilihan dominasi warna biru dan hijau di setiap tagline IA. “Biru itu simbol ketegasan dan dapat dimaknai sebagai harapan dan cita-cita yang disimbolkan setinggi langit biru dengan kerendahan hati yang amat dalam dipersonifikasi sedalam lautan biru. Warna hijau adalah pertanda kesuburan sekaligus sebagai simbol religiusitas dan kesucian,” terangnya.

Ical menambahkan warna hijau juga menunjukkan kesejukan dan identik dengan kesuburan, kesejahteraan, sebagai tujuan pembangunan. “Latar belakang logo adalah sang saka merah putih melambangkan semangat muda untuk membangun Sulsel melalui pendekatan politik solidaritas, ekonomi emansipatif dan partisipatif berbasis kerakyatan serta budaya luhur Sulsel Sipakatau Sipakainge Sipakalebbi Sipakaraja.  Senyum tulus keduanya melambangkan kesediaan IA menyambut semua golongan untuk bekerja bersama. Dengan senyum tulus IA akan menghiasi kepemimpinanya, ibarat pelangi di langit biru di atas tanah hijau nan subur Sulsel dengan Semangat Baru,”ungkapnya.

Kata “Semangat Baru” lanjut Ical, mengandung filosofi roh kehidupan dan penggerak motivasi yang memiliki ‘daya ledak’ tinggi. “Tagline semangat baru sebelum dilahirkan, melalui berbagai perdebatan yang alot dari beberapa tim perumus yang merupakan ahli di bidangnya,” mantapnya.

Berbeda dengan Garuda’Na. Secara harfiah, tagline ini disebut keliru karena jika ditilik dari maknanya menyebut Garudan’Na menimbulkan kesan Garuda’Na (baca: dia punya garuda). Namun itu semua dibantah tim Garuda’Na.

Juru bicara Garuda’Na, Nasrullah Mustamin menjelaskan Garuda’Na itu singkatan Gerak Rudiyanto Asapa dan Andi Nawir Pasingringi. Itu digambarkan sebagai gerak yang berarti sikap dinamisme dan optimisme, sebab bergerak bukan secara mekanis tapi memiliki gerak dinamis yang programatik. “Misalnya, Pak Rudi dan Pak Nawir itu masing-masing itu telah menjadi bupati dua periode, untuk itu ke depannya geraknya mestilah menjadi gubernur,” terangnya.

Yang kedua, kata Nasrullah, Garuda’Na diambil dari makna seekor burung Garuda berarti pasangan gubernur Garuda’Na selain menjaga wilayahnya agar aman dan damai, juga memiliki sikap nasionalisme yang tinggi, yaitu cita-cita tetap mempertahankan bangsa dan negara.

“Yang terakhir, burung Garuda adalah burung yang kuat, setia, cerdas, gesit dan berkarakter, yang berarti pasangan Garuda’Na yang memimpin Sulsel adalah tokoh yang kuat, setia, cerdas, berani dan berkarakter,” tandasnya. (RS5-RS6-RS11-RS9/E)